Militer Serang Gereja, Kardinal Myanmar: Kami Mohon Perang Dihentikan...

Militer Serang Gereja, Kardinal Myanmar: Kami Mohon Perang Dihentikan...

Lori Official Writer
451

Pada Senin (24/5) lalu, Gereja Hati Kudus Paroki Kayanthayar yang berlokasi dekat Loikaw, ibu kota negara bagian Kayah diserang dengan membabi buta oleh militer Myanmar. 

Sebagaimana dilaporkan, pasukan militer menembaki peluru artileri ke arah Gereja Katolik di Myanmar Timur dan menyebabkan empat warga sipil tewas dan 8 lainnya luka-luka. 

Akibat insiden ini Kardinal Gereja Katolik Myanmar Charles Maung Bo meminta supaya serangan terhadap gereja segera diakhiri. Dia mengungkapkan kesedihannya atas konflik antara militer dan kelompok penentang militer yang mengorbankan warga sipil.

“Dengan kesedihan dan rasa sakit yang luar biasa, kami mencatat penderitaan kami atas serangan terhadap warga sipil yang tidak bersalah, yang mencari perlindungan di Gereja Hati Kudus Kayanthayar,” kata Kardinal Bo, seperti dikutip dari Reuter, Rabu (26/5).

Seperti diketahui, konflik antara militer dan kelompok penentang militer terus berlanjut di perbatasan negara bagian Karen, Kachin, Kayah dan Chan, yang merupakan wilayah komunitas Kristen terbesar di Myanmar. 

“Tindakan kekerasan, termasuk penembakan terjadi terus menerus, menggunakan senjata berat pada warga yang ketakutan dimana sebagian besarnya terdiri dari perempuan dan anak-anak. Ini perlu dihentikan. Kami mohon kepada kalian semua…mohon jangan meningkatkan pertempuran,” katanya.

Selama konflik di Myanmar, gereja, rumah sakit dan sekolah berada di bawah perlindungan komunitas Internasional. Sementara lebih dari 20.000 warga melarikan diri ke hutan dan mengungsi ke daerah yang lebih aman. 

Sebagian besar lainnya memilih berlindung di rumah-rumah ibadah (termasuk gereja). 

“Orangtua dan anak-anak ada di gereja. Semua gereja sudah memasang bendera putih untuk menghentikan penembakan,” kata salah satu warga yang tidak disebutkan namanya.

 

Konflik Myanmar Tewaskan Ratusan Orang

Berdasarkan data dari Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik, sejak konflik Myanmar mencuat pada 1 Februari 2021 silam, jumlah korban yang meninggal sudah mencapai 800 orang. Sekitar 300 orang tewas di tengah kerusuhan dan 47 diantaranya dari pihak kepolisian.

Protes dan kampanye penolakan dari warga sipil melawan kudeta telah melumpuhkan ekonomi Myanmar.

Melihat keadaan ini, Utusan Khusus PBB Christine  Schraner Burgener memperingatkan bahwa negara Asia Tenggara terus memperjuangkan kemungkinan pecahnya perang saudara. Dia mengatakan lewat konferensi pers online pada Senin (24/5), bahwa orang-orang, yang sudah merasa frustrasiatas tindakan militer dan kekerasa berskala besar, mulai mempersenjatai diri melawan junta secara defensif. 

Sebagaimana diketahui, umat Kristen adalah penduduk minoritas di negara Buddha ini. Berdasarkan sejarah, banyak kali tindakan penindasan dan penganiayaan yang dihadapi oleh umat Kristen di Myanmar.

Yuk terus berdoa untuk negara Myanmar, supaya terjadi perdamaian dan Tuhan sendiri yang berdaulat atas negara ini.

Sumber : Berbagai Sumber | Jawaban.com
Halaman :
1

Ikuti Kami