Beragam Pertanyaan Orangtua Soal Pengasuhan Anak Dijawab di Sini, Apa Saja Itu?

Beragam Pertanyaan Orangtua Soal Pengasuhan Anak Dijawab di Sini, Apa Saja Itu?

Lori Official Writer
947

Setiap anak lahir dengan karakter istimewa yang dianugerahkan oleh Tuhan. Jadi tak heran jika setiap orangtua akan berhadapan dengan beragam isu atau persoalan pengasuhan anak.

Di artikel ini, Jawaban akan merangkum beberapa pertanyaan orangtua yang muncul dari hasil event Webinar #BeraniBergerak Papa Mama Hebat Untuk Anakku yang diadakan pada Sabtu, 10 Juli 2021 lalu bersama pakarnya Dr. Julianto Simanjuntak MDiv, MSi.

Berikut 7 pertanyaan orangtua yang bisa membantu Anda dalam menghadapi perilaku anak di rumah:

1# Saya mau tanya. Saya ada 3 anak. Anak pertama saya sekarang umur 5 tahun. Anak ini lebih suka ngambek dan marah-marah. Baiknya kita harus bersikap tegas atau lembut?

Silahkan baca jawabannya DI SINI.

 

2# Bagaimana cara menghadapi anak perempuan usia 14 tahun yang introvert (tertutup) dan kurang terbuka dalam menceritakan perasaannya?

Silahkan baca jawabannya DI SINI.

 

3# Bagaimana cara membangun hubungan dengan anak yg sempat terpisah 4 tahun karena saya tinggal kerja keluar kota?

Silahkan baca jawabannya DI SINI.

 

4# Bagaimana mendampingi anak-anak kita, sedangkan kami orang tua kerja, berangkat pagi pulang malam. Adakah tipsnya?

Silahkan baca jawabannya DI SINI.

 

5# Mohon penjelasan bagaimana punishment yang tepat untuk anak-anak sesuai umurnya dan bagaimana menjelaskan perbedaan hukuman atau reward yang berbeda-beda kepada anak?

Silahkan baca jawabannya DI SINI.

 

6# Bagaimana cara menghadapi anak yang sulit fokus kalo belajar?

Silahkan baca jawabannya DI SINI.

 

7# Untuk anak 11 tahun, apakah lebih baik kita mengarahkan untuk minat dan bakat tertentu atau kita mencari tahu apa minat dan bakat anak kita sendiri? Sementara saat ini kita tanya dia belum tau apa minat dan bakatnya saat ini?

Silahkan baca jawabannya DI SINI.

 

 

BACA HALAMAN BERIKUTNYA

1# Saya mau tanya. Saya ada 3 anak. Anak pertama saya sekarang umur 5 tahun. Anak ini lebih suka ngambek dan marah-marah. Baiknya kita harus bersikap tegas atau lembut?

 

Penjelasan:

Anak adalah makhluk yang sangat ekspresif. Saat kakak, adik atau temannya menambil mainan miliknya, memukul atau menganggunya, anak akan mulai marah dengan berteriak dan menangis keras.

Selalu ada sebab dibalik anak yang marah, berteriak atau menangis. Jika anak melakukannya cukup sering, cobalah mengamati penyebab dari hal itu. Kadang, anak juga bisa merasa jengkel jika tidak mendapatkan perhatian dari orangtua atau merasa diperlakukan dengan tidak adil.

Hindari memarahi anak yang sedang marah atau menangis. Karena itu hanya akan jadi teladan yang buruk bagi anak. Jangan biarkan anak meniru cara Anda mendiamkan anak dengan memarahi atau kembali berteriak.

Seperti dikutip dari The Asian Parent, cara terbaik yang bisa dilakukan orangtua untuk menghadapi anak yang suka marah adalah:

1. Peluk atau kendalikan anak. Rangkul anak. Lalu bujuk dia untuk tenang dengan perkataan yang lemah lembut. Sekeras apapun anak akan segera tenang saat mereka mendapatkan perhatian yang lembut dari orangtua.

2. Ajarkan tindakan yang benar dengan tegas bukan marah. Sikap tegas dan marah jelas dua hal yang berbeda. Saat anak marah, orangtua tidak perlu marah, tetap tegas menyampaikan jika tindakan marah tanpa alasan bukanlah hal yang disukai orangtua. Hal ini tentunya tidak akan bisa dipahami anak jika dikatakan hanya sekali saja. Jadi sampaikanlah berulang-ulang hingga perilakunya perlahan-lahan berubah. 

Butuh kesabaran ekstra? Tentu saja!

3. Ajarkan anak mengelola emosinya dengan tepat. Misalnya, saat mereka diganggu adik atau teman, ajarkan anak untuk mengkomunikasikannya kepada orangtua. 

Orangtua juga bisa meminta anak untuk menarik napas dalam sehingga mereka bisa kembali tenang. 

Silahkan tonton tayangan ini.

 

Baca Juga: Film Pendek Ini Bisa Bantu Atasi Anak Saat Marah. Ditonton Yuk Parents!

 

2# Bagaimana cara menghadapi anak perempuan usia 14 tahun yang introvert (tertutup) dan kurang terbuka dalam menceritakan perasaannya?

 

Penjelasan: 

Bukan hanya remaja perempuan, tapi ada banyak juga remaja laki-laki yang punya sikap tertutup. Jika Anda merasa kesulitan terkoneksi dengan remaja introvert Anda, cobalah melakukan hal ini.

Jika anak tiba-tiba berubah introvert dalam waktu-waktu dekat ini, orangtua patut menggali informasi tentang apa yang sedang dia hadapi. Apakah anak sedang menghadapi satu masalah atau beban pikiran? Tapi jika anak memang sudah introvert sejak lama, cobalah untuk membangun kembali kedekatan dengannya.

Ada banyak faktor yang membuat anak berubah jadi tertutup. Salah satu yang paling berpengaruh adalah lingkungan. Di rumah, misalnya, apakah orangtua banyak menghabiskan waktu lebih dekat dengan anak? Misalnya, ngobrol saat makan malam bersama atau saat waktu santai. Menghabiskan waktu berdua dengan anak atau sekadar bercerita. 

 

Baca Juga: 7 Cara Bangun Komunikasi Yang Dekat Dengan Anak. Terutama Anak Introvert!

 

Penting sekali bagi orangtua untuk punya waktu berdua dengan anak. Posisikan diri sebagai sahabat dan juga pendengar yang baik. Dengan itu anak akan terdorong untuk membagikan semua hal yang dia lalui, termasuk beragam persoalan seputar dunia remajanya.

Selain itu, kenalilah lebih dekat seputar dunia remaja saat ini supaya obrolan kalian bisa nyambung dan anak merasa nyaman.

 

3# Bagaimana cara membangun hubungan dengan anak yg sempat terpisah 4 tahun karena saya tinggal kerja keluar kota?

 

Penjelasan: 

Orangtua manapun tak pernah menghendaki hidup terpisah dengan anak dalam waktu yang lama.

Tapi menjadi keharusan bagi orangtua untuk terus membangun komunikasi jarak jauh setiap hari dengan anak, bisa lewat video call maupun telepon suara, mengirimkan video keseharian atau mengirim hadiah. Namun jika kondisi pekerjaan tidak memungkinkan untuk melakukan hal itu, maka kemungkinan besar anak memang akan kehilangan koneksi dengan ayah atau ibunya.

Jika orangtua rindu supaya koneksi itu kembali lagi, memang tidak akan mudah. Butuh proses dan usaha. Sesederhana kembali membangun komunikasi setiap hari. Lakukan pendekatan dengan anak, sesederhana memperkenalkan diri kembali dan mulai memberi anak perhatian penuh. Atau bila perlu ambil waktu untuk berlibur bersama anak.

 

4# Bagaimana mendampingi anak-anak kita, sedangkan kami orang tua kerja, berangkat pagi pulang malam. Adakah tipsnya?

 

Penjelasan:

Kehidupan di perkotaan memaksa kedua orangtua harus bekerja dari pagi hingga malam. Sementara anak harus dititip kepada pengasuh, keluarga dekat atau dititip di penitipan anak.

Tapi sesibuk apapun orangtua, perlu dipahami bahwa pekerjaan dan keluarga harus selalu seimbang. Supaya anak tidak kehilangan perhatian dari orangtua karena sibuk, cobalah untuk melakukan beberapa usaha ekstra ini:

1. Manajemen waktu setiap hari. Pastikan untuk pulang tepat waktu supaya orangtua bisa menghabiskan waktu malam bersama anak sebelum dia tidur. 

Jadi sebisa mungkin hindarilah pekerjaan lembur.

 

Baca Juga: Teruntuk Orangtuaku Tercinta, Tidak Hanya Uang Saja, Tapi Kami Pun Butuh Hadir dan Kasihmu

 

2. Manfaatkan waktu yang ada untuk tahu perkembangan anak. Ada banyak orangtua yang mungkin mendapati anak sudah tidur saat sampai di rumah. Jadi tak ada waktu untuk bercengkrama. Nah, supaya kedekatan dengan anak tidak terputus, cobalah manfaatkan waktu pagi sebelum kerja untuk ngobrol. Jika hal ini juga tidak memungkinkan dilakukan di pagi hari, pastikan untuk memakai waktu weekend saat libur kerja bersama dengan anak. 

3. Sempatkan untuk menghubungi anak di siang hari. Luangkan setiap waktu istirahat untuk menghubungi anak dan menanyakan aktivitas yang dilakukannya. Lakukan kebiasaan ini secara konsisten bersama pasangan.

5# Mohon penjelasan bagaimana punishment yang tepat untuk anak-anak sesuai umurnya dan bagaimana menjelaskan perbedaan hukuman atau reward yang berbeda-beda kepada anak?

 

Penjelasan:

Dikutip dari Todaysparent.com, anak akan terus bertumbuh dan menunjukkan perilakunya secara bertahap. 

Anak berusia 2 tahun mungkin belum bisa menunjukkan rasa kesal atau marahnya. Namun setelah beranjak 7 tahun, anak mungkin sudah bisa menghina atau mengejek orangtua dan perilakunya semakin meningkat saat beranjak usia 12 tahun.

Jadi, cara terbaik untuk memahami perilaku anak adalah dengan memahami fase yang mereka lalui seiring dengan perkembangannya. 

Berikut cara mendisiplinkan anak sesuai usia dan perkembangannya:

- Anak Balita

Masalah yang biasa muncul dari anak balita adalah tantrum dan melawan. 

Cara mendisiplin anak balita:

- Tawarkan dua pilihan. Misalnya, “Kamu mau susu atau roti?” Anak harus memilih salah satunya.

- Tetap tenang. Jika anak balita Anda membuang makanannya lalu Anda memarahinya. Maka dia akan mengulangi tindakannya. Sebaliknya, sampaikan dengan lembut bahwa tindakannya membuang makanan tidak benar. Sampaikan dengan singkat dan sederhana.

Atau jika anak memukul kepala temannya, bawa dia ke suatu tempat lalu jelaskan jika apa yang dia lakukan itu salah. Lakukan dengan singkat dan tepat sampai anak mengerti dan mengakui kesalahannya.

- Anak Prasekolah

Biasanya anak prasekolah anak mulai merengek dan tidak mau mendengarkan orangtua. 

Cara mendisplinkan anak prasekolah:

- Jangan pernah bertanya lebih dari dua kali. Pertama, tanyakan sekali dengan baik. Misalnya, tolong simpan mainanmu. Jika anak tidak mendengar lanjutkan ke tahap kedua, tanyakan dengan disertai konsekuensi. Misalnya, Mama minta kamu menyimpan mainanmu. Kalau tidak, besok kamu tidak boleh main lagi.

- Hindari marah dan berteriak. Saat orangtua marah menghadapi anak, maka anak akan meniru sikap tersebut. Paling buruknya, mereka bisa kehilangan rasa hormat kepada orangtua.

 

Baca Juga: Kesulitan Mengajar Anak Belajar Online? Ini Tips Dari Psikolog Anak, Queenie Prabakanti

 

- Anak Usia Sekolah

Di usia ini, anak-anak lebih bisa mengekspresikan perasaan mereka. Perilaku direntang usia antara 5-10 tahun akan sangat berdampak pada apa yang akan terjadi di masa remajanya.

Biasanya masalah terbesar anak usia sekolah adalah ketidakpatuhan mereka.

Cara mendisiplinkan anak sekolah:

- Latih anak untuk melakukan hal yang lebih baik. Misalnya, jika anak bertengkar dengan teman. Maka mulai menanyakan anak, apa tindakan berbeda yang harus dia lakukan dikemudian hari? Tujuannya supaya anak belajar dari kesalahannya.

- Berikan anak kesempatan kedua. Jelaskan apa kesalahan anak dan sampaikan harapan Anda ke depan atas tindakannya.

- Terapkan konsekuensi yang logis. Terapkan hukuman sebab akibat. Yang artinya apa yang mereka terima herus berhubungan langsung dengan perilakunya. Misalnya, jika anak terlamat bangun pagi untuk sekolah karena main HP sepanjang malam, sebagai konsekuensinya tarik HP dari anak setiap malam jika sudah waktunya tidur.

- Anak Usia Remaja

Usia remaja adalah fase dimana anak sudah mulai berani mencoba hal-hal baru dalam hidupnya. Kebanyakan orangtua akan mulai waspada di fase ini.

Cara disiplin anak remaja:

- Tentukan aturan dan batasan dengan melibatkan anak remajamu. Cobalah untuk mendiskusikan setiap keputusan dengan persetujuan dari anak.

- Tawarkan negosiasi. Tetaplah bersikap tegas dengan kesalahan anak. Jika anak mulai kesal, biarkan dia tenang dulu. Baru kemudian tawarkan negosiasi yang dia bisa terima.

- Pakai keterangan waktu. Misalnya, selesaikan dulu PR kamu, baru bisa main game.

- Sampaikan teguran tegas jika anak sudah bersikap melenceng. Misalnya, mama tidak bisa menerima kamu bicara kasar seperti itu. Sampaikan sikap yang seharusnya Anda harapkan dari anak.

- Ajarkan anak soal tanggung jawab. Keingin tahuan anak remaja yang mulai muncul akan membuat mereka berani melewati batas aturan dari orangtua. Marah bukanlah solusi. Sebaliknya, ambil waktu ngobrol bersama dengan anak dan bagikan pandangan baru seputar kehidupan kepada mereka. Ajarkan anak untuk mulai menyadari tanggung jawabnya dan mengambil keputusan dengan pertimbangan yang tepat.

Mendisiplinkan anak butuh proses dan harus dipraktekkan secara berulang setiap hari. Tapi percayalah, hasilnya akan sangat memuaskan.

6# Bagaimana cara menghadapi anak yang sulit fokus kalau belajar?

 

Penjelasan:

Pakar edukasi Bob Cunningham, EdM, berkata bahwa anak-anak gampang terdistraksi. Saat anak melihat sesuatu yang bergerak di sekitarnya, maka anak akan segera mengalihkan fokusnya ke hal tersebut. 

Karena itulah Cunningham menganjurkan orang tua untuk lebih dulu mencari akar masalah penyebab anak susah fokus.

Ada beberapa penyebab anak susah fokus, diantaranya:

1. Sulit membedakan kapan harus fokus pada hal-hal kecil dan hal-hal besar.

2. Mudah terganggu dengan pemandangan, suara, atau informasi.

3. Fokus jika kondisi sekitar tenang dan tidak ada distraksi.

4. Sulit berkonsentrasi pada satu aktivitas saja serta,

5. Sulit mengikuti arahan.

Adapun cara yang bisa dilakukan orangtua untuk mengatasi masalah ini adalah:

- Latih fokus anak. Anak usia 4-5 tahun biasanya hanya bisa fokus pada satu objek atau aktivitas selama 5-20 menit saja. Jadi mulailah dengan durasi waktu ini.

- Lakukan satu hal di satu waktu. Jangan meminta anak melakukan dua hal berbeda dalam sekali waktu. Berikan dia waktu untuk menyelesaikan satu hal hingga selesai baru kemudian memintanya untuk melakukan aktivitas lain.

- Anak yang sulit fokus mendengar suara atau kebisingan perlu ruangan atau tempat yang tenang dan senyap untuk belajar. Jadi pilihlah ruang belajar yang benar-benar nyaman untuk anak.

- Berikan anak waktu istirahat. Untuk anak SD biasanya mereka akan suka disuguhi cemilan atau minuman sehat. Untuk anak remaja, beri waktu istirahat dengan melakukan apa yang dia sukai.

 

7# Untuk anak 11 tahun, apakah lebih baik kita mengarahkan untuk minat dan bakat tertentu atau kita mencari tahu apa minat dan bakat anak kita sendiri? Sementara saat ini kita tanya dia belum tau apa minat dan bakatnya saat ini?

 

Penjelasan:

Orangtua mulai bisa mengidentifikasi bakat terpendam anak bahkan sejak mereka lahir. Tidak ada batasan waktu untuk terus mengamati apa potensi yang sebenarnya diberikan Tuhan secara alamiah di dalam diri anak. 

Hal-hal sederhana yang bisa orangtua amati meliputi: Apa yang paling mereka suka, kegiatan apa yang menarik perhatiannya dan mau terlibat di dalam kegiatan tersebut. 

Seiring waktu, bakat tersebut akan semakin menonjol saat anak berusia 12 tahun. Contoh nyatanya adalah kisah penyanyi Yeshua Abraham. Dia mengaku baru serius menggali bakat bernyanyinya ketika sang ayah menyadari bakat tersebut saat dia berusia remaja. Lalu, kedua orangtuanya mulai mendorong Yeshua untuk ikut les vokal, mulai ikut lomba bernyanyi di berbagai event hingga bisa menjadi juara ajang Just Duet musim pertama.

 

Baca Juga: Kenapa Sih Potensi Diri Anak Itu Harus Ditemukan Sekarang?

 

Jadi kapanpun orangtua mulai menyadari bakat terpendam yang ada di dalam diri anak, saat itulah orangtua mengambil peran untuk:

- Meyakinkan anak tentang bakat atau potensinya.

- Menjadi supporter bagi anak untuk mengembangkan bakatnya. Tapi ingat hindari untuk memaksa anak.

- Selalu dampingi anak untuk mengembangkan bakat yang dia miliki. Entah mendukungnya sekadar tampil di sebuah acara biasa atau ikut dalam sebuah kompetisi.

Jadi jangan tanyakan anak soal bakatnya. Sebaliknya, orangtualah yang membuat anak mulai menyadari potensi yang dia miliki dengan memperhatikan proses tumbuh kembangnya.

Sumber : Jawaban.com
Halaman :
Tampilkan per Halaman

Ikuti Kami