Ini Alasan Orangtua Dilarang Ucapkan Kata Negatif ke Anak

Ini Alasan Orangtua Dilarang Ucapkan Kata Negatif ke Anak

Fifi Official Writer
3761

Perkataan negatif seperti 'Kamu bodoh banget sih' atau 'Dasar malas', 'Gak pernah beres kalau disuruh' dan seterusnya, bisa berbahaya buat anak. Padahal itu sering terjadi. Bahkan sebagai orangtua, mungkin sebagian orangtua gak sadar justru sering menyampaikannya ke anak.

Konsep Diri Sejak Sekolah Dasar
Persepsi anak terhadap dirinya disebut konsep diri. Ini sangat penting karena mempengaruhi diri anak. Itu sebabnya, orangtua harus menanamkan konsep diri positif pada anaknya.

"Caranya dengan memuji anak, cantik, bersih, pintar, atau dengan memotivasi anak bahwa ia bisa, dan ini harus dilakukan di usia sedini mungkin." ditegaskan Psikolog dr. Reni Akbar Hawadi dalam tulisannya di tabloid Ibu & anak..

Tetapi, meski harus dikenalkan sedini mungkin, umumnya anak belum "menangkap", memahami anggapan tersebut. Baru, saat anak memasuki sekolah dasar, setelah berinteraksi dengan orang lain, kesadaran ini muncul. Kata-kata maupun anggapan orang lain 'menyadarkan' anak.

 

Baca Juga: Sedih! Anak Ini Menangis Gara-gara Badai Seroja Hanyutkan Perlengkapan Sekolahnya



Karena di usia sekolah anak sudah mulai menangkap konsep ini, lingkungan terdekatnya harus hati-hati berucap. Jangan sembarang berkata pada anak:

"Bodoh amat sih. PR cuma begini aja salah terus, payah!"

"Malas sih, maunya lihat TV terus, bagaimana mau pintar seperti teman-temanmu."

"Begitu saja takut. Masa anak laki-laki penakut, itu namanya pengecut."

Tahu gak sih, rupanya perkataan ini cukup berbahaya. Karena bisa mempengaruhi rasa percaya diri dan harga diri anak.

"Itu karena label negatif terinternalisasi, membentuk persepsi bahwa dirinya' demikian, artinya anak tak merasa berharga atau percaya diri bahwa sebenarnya ia, pintar tak seperti dikatakan orang lain," kata Psikolog dr. Reni.

Yang membentuk konsep diri ini menurut Reni adalah orang-orang terdekat dan penting bagi anak, seperti ayah, ibu atau juga pengasuh, guru dan sahabat dekatnya.

Significant other (orang-orang terdekat) ini sangat berpengaruh. Kalau hanya teman sebaya saja anak biasanya nggak perduli. Coba kalau yang bilang 'loe tolol' sahabat anak sendiri atau gurunya atau orangtua, anak bisa down."

Orangtua Tetap Harus Jujur
Meski menanamkan konsep diri positif adalah keharusan, tapi bila kenyataannya si kecil mungkin `kurang' sehingga gurunya menilai anak bodoh. Dalam kondisi ini, orangtua berperan untuk menyampaikan kebenarannya.

Konsep diri itu, seperti cermin yang dibentuk oleh dua belah pihak. Bila yang bercermin elok, elok pula bayangannya. Jika sedang jelek, akan menampilkan yang jelek pula. Jelaskan pada anak tapi jangan dipertajam. Misalnya, "Ya memang kamu bodoh sih, makanya belajar, belajar." Itu namanya menguatkan anggapan bahwa ia bodoh. Percayalah kalau anak diluruskan, dikasih tahu untuk memperbaiki pasti bayangan cerminnya bagus lagi.

Konsep itu akan terbentuk bila berulangkali dikatakan pada anak. Karena itu, bila anak mendapat label buruk, orangtua perlu membimbing dan mengarahkannya ke sisi yang positif. Salah satunya dengan memotivasi anak untuk maju dan jadi lebih baik. Jadi kalau guru secara objektif menilai anak kurang mampu mengikuti pelajaran, berikanlah motivasi yang membuat anak mau belajar lebih giat.

"Memang nilai-nilaimu turun ya. Berarti kamu harus lebih giat belajar agar guru atau temanmu tak berkata demikian lagi. Kalau kamu belajar mama yakin nilaimu akan baik lagi."

Baca Juga: 7 Hal yang Perlu Dipersiapkan Parent Sebelum Antar Anak ke Sekolah

 

4 Langkah yang Bisa Dilakukan Orangtua untuk Meningkatkan Konsep Diri Anak

Sudah jadi tanggung jawab orangtua untuk membantu anak. Tentu saja yang harus dilakukan adalah sedikit demi sedikit menanamkan kembali konsep diri positif pada anak. Gimana caranya?

1. Kasih Pujian Secara Konsisten
Dengan memberinya pujian yang konsisten dan saat itu juga. Kapan pun anak melakukan atau menunjukkan hal baik, puji saat itu juga. Selain itu, sangat baik, bila untuk kebaikan-kebaikan tertentu seperti nilai pelajarannya bagus, orangtua memberinya hadiah kecil.

2. Abaikan Perilaku Negatifnya
Bila anak bertindak secara berlebihan, jangan buru-buru menyalahkan  dia. "Kamu sih selalu saja nggak bener, sama sekali tidak bisa diharapkan.", sebaliknya berikan anak kesempatan untuk memperbaiki diri.

3. Berikan Solusi
Memberi jalan keluar dari kesalahan atau masalah anak, bisa membantu anak meningkatkan konsep diri positif. Misalnya, "Kamu bisa benar juga kok."

4. Tingkatkan Skill Anak
Skill atau penguasaan anak dengan kemampuan tertentu, sangat membantu membentuk dan mengembalikan citra diri anak. Anak yang pandai musik, tari, atau jago olahraga, pastilah akan memiliki kepercayaan diri yang tinggi.

Anak pasti akan menyadari potensi yang dia miliki. "Aku menguasai ini, temanku tidak, jadi aku lebih baik di bidang ini, aku punya kemampuan."

 

Baca Juga: Bingung Cari Sekolah Anak, Simak Tips Berikut Ini!

 

Jadi orangtua memang gak gampang. Karena karakter dan cara pandang anak dipengaruhi oleh perkataan dan perlakuan orang-orang di sekitarnya. Hari ini, setiap orangtua didorong bejuang membangun karakter anak. Tentu saja kamu bisa!

 


Apakah kamu rindu anak-anak NTT bisa sekolah dengan seragam lengkap?

Dengan berdonasi senilai Rp. 150.000, kamu sudah memberikan tas, buku gizmo, botol minum serta kotak makan bagi satu anak loh! Yuk daftar diri kamu dengan klik tombol di bawah:

MAU DAFTAR

Sumber : Jawaban.com
Halaman :
1

Ikuti Kami