Gara-gara Pandemi, Suasana Natal di Kota Bethlehem Jadi Begini…

Gara-gara Pandemi, Suasana Natal di Kota Bethlehem Jadi Begini…

Lori Official Writer
651

Suasana Natal 2020 kali ini memang akan terasa berbeda. bukan saja di pusat kota kelahiran Yesus, tapi di berbagai belahan negara. 

Di Bethlehem, kota asal Yesus sendiri, yang setiap tahunnya dipenuhi oleh para peziarah dari berbagai negara tampak sangat sepi. 

Di tahun-tahun sebelumnya ribuan orang berkerumun memadati sudut-sudut kota Bethlehem. Tapi pandemi memaksa pusat-pusat perbelanjaan, restoran, hotel dan tempat-tempat wisata harus ditutup. Bukan hanya itu, dekorasi-dekorasi Natal terbilang sangat terbatas di tahun ini. Begitu juga dengan kegiatan ibadah gereja di Malam Natal.

“Bethlehem tampak mati,” kata Maryana al-Arja, seorang pemilik Hotel Angel yang memiliki 120 kamar di pinggiran kota Bethlehem.

Hotel Angel ini juga diketahui sebagai lokasi penyebaran virus Corona untuk pertama kali di kota itu, ketika sekelompok wisatawan Yunani mengalami gejala di Maret 2020 yang lalu.

Peristiwa ini pun menjadi awal dari kebangkrutan bisnis hotel yang dijalani Maryana. Namun di tengah kesulitan ini, Maryana tetap mempertahankan 25 karyawannya selama beberapa bulan. Hingga akhirnya dia tak lagi sanggup membayar mereka. 

Maryana sendiri sempat terinfeksi virus tersebut. Sehingga memaksa hotel tutup total dan memberhentikan semua karyawan karena begitu sepinya wisatawan yang datang.

“Kami memiliki 351 grup wisata yang memesan hotel kami tahun ini. Masing-masing 150 orang. Tapi mereka semua membatalkannya,” ungkapnya.

Elyas al-Arja, pemimpin hotel pusat, mengatakan bahwa jumlah wisatawan yang datang ke Bethlehem sepanjang tahun 2019 mencapai 3 juta orang. Mereka masuk ke kota tersebut melalui Israel. Namun pandemi ini seolah melumpuhkan aktivitas wisata. Akibatnya, sepanjang tahun 2020 bisa di bilang wisatawan yang datang bahkan mendekati nol.

“40% masyarakat bergantung pada pariwisata dan pendapatan mereka hilang ketika tidak ada turis,” kata Elyas.

 

Baca Juga: 

Presiden Israel: Natal Tetap Diadakan, Tapi Dengan Syarat Ini

Bintang Terang Saat Kelahiran Yesus Bakal Muncul 21 Desember, Begini Kata Ahli Astronomi

 

Di sisi lain, Ambassador Hotel yang terletak dekat dengan Gereja Kelahiran Yesus baru membuka kembali layanan jasa penyedia penginapan mereka. Mereka membuka satu lantai untuk para pengunjung lokal yang mungkin datang untuk merayakan NNatal di kota tersebut.

“Biasanya di masa-masa ini, hotel ini akan ramai dengan kehidupan. Tapi seperti yang Anda lihat, tidak ada tanda kehidupan, bahkan pohon Natal pun tidak dipasang,” kata Mahmoud Tarman, resepsionis hotel.

Pihak otoritas Palestina, yang mengelola sebagian dari wilayah Tepi Barat yang diduduki oleh Israel, minggu ini telah memberlakukan kembali lockdown  sebagai upaya pencegahan lonjakan kasus virus corona. Masyarakat dihimbau untuk tetap di dalam rumah dari jam 7 malam sampai jam 6 pagi dan Bethlehem sendiri termasuk di dalamnya.

Menurut pengumuman pejabat setempat, lockdown kemungkinan akan diperpanjang hingga Hari Natal dan Tahun Baru jika kasus tidak mengalami penurunan. 

Sementara dari data Kementerian Kesehatan mencatat jumlah kasus positif Covid-19 di Tepi Barat sudah mencapai 65.000 kasus dan menyebabkan 620 kematian.

Wali Kota Bethlehem, Anton Salman menyampaikan bahwa mereka dengan terbuka akan menerima 3000 tamu undangan, termasuk tamu lokal dan pengiring musik dari berbagai belahan dunia untuk menghibur para wisatawan yang datang ke Bethlehem selama perayaan malam Natal.

Sementara untuk menyalaan lilin pohon Natal yang dilakukan setiap tahunnya akan dilakukan pada Kamis, 10 Desember 2020. Tapi acara ini hanya akan mengizinkan 15 tamu saja, termasuk walikota, gubernur distrik dan Patriark Latin serta para ulama.

Presiden Palestina Mahmoud Abbas, yang sudah diundang untuk menghadiri acara ini belum menyampaikan kesediaannya untuk hadir.

Misa malam Natal yang dipimpin oleh Patriark Latin juga menerapkan protokol kesehatan yang ketat, dimana jumlah yang hadir juga telah dikurangi. Dia menyampaikan bahwa kemungkinan yang hadir dalam misa tersebut hanya meliputi para pemimpin agama dan beberapa diplomat asing saja.

“Tidak ada yang bertanggung jawab untuk mengundang banyak orang ske acara Natal. Tidak akan ada suasana yang sama selama pandemi,” ungkapnya.

Tidak dimungkiri, pandemi telah mengubah kehidupan normal masyarakat dunia, termasuk dalam hal perayaan besar keagamaan. Namun percayalah, kondisi ini tidak akan terjadi untuk selamanya. Karena itu, mari memanfaatkan momen-momen ini untuk lebih fokus kepada Tuhan, bukan kepada suasana atau kemeriahan perayaan Natalnya saja.

Sumber : Christianitytoday.com

Ikuti Kami