Berhenti Menyalahkan Dirimu Sendiri

Berhenti Menyalahkan Dirimu Sendiri

Lori Official Writer
      737

Yohanes 10: 10

Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.

 

 

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 142; Yohanes 19; Zakharia 4-6

Ada perasaan yang sedikit berat ketika aku mendengar rasa bersalah para wanita. Menurutku itu adalah sebuah perasaan bersalah yang keliru. Karena rasa bersalah hanyalah perasaan bahwa seseorang telah melakukan kesalahan. 

Ada banyak dari kita yang menghabiskan energi karena perasaan bersalah atas hidup kita sehari-hari. Bisa soal pilihan yang kita buat untuk keluarga dan karir kita di tengah pandemi ini. Atau soal bagaimana kita menghabiskan waktu atau merasa tidak memenuhi harapan orang lain. Akibatnya, timbul pemikiran bahwa kita sudah melakukan kesalahan. 

Tapi tahukah kamu bahwa itu hanyalah perasaan bersalah yang menipu. Dengan bangga, aku boleh katakan kalau aku sudah berhasil mengatasi pergumulanku sendiri soal rasa bersalah ini. Ada banyak orang yang sama sepertiku juga yang aku coba bantu untuk keluar dari perasaan merusak ini.

Jika diuraikan secara rinci, rasa bersalah bisa muncul dalam banyak hal. Beberapa diantaranya adalah:

- Menyalahkan diri sendiri karena pilihan, kesalahan atau kegagalan di masa lalu

- Merasa tidak pernah bisa melakukan tindakan yang benar

- Terlanjur membayar sesuatu lebih dari seharusnya

- Merasa bersalah karena berkata ‘ya’ ketika hati sebenarnya berkata ‘tidak’

- Membiarkan orang lain mempengaruhi pikiranmu

- Menjadi orang yang lemah di depan orang lain

- Mengikuti kebiasaan yang tidak baik 

- Memilih diam meskipun sebenarnya penting untuk bicara

- Membuat keputusan karena terdesak

- Merasa berhutang budi kepada orang lain

Daftar di atas bisa jadi adalah rasa bersalah yang dipakai si iblis untuk melemahkanmu. Dia mau kamu merasa kecewa dengan dirimu sendiri, dia mau kamu membandingkan diri dengan orang lain dan membuat dirimu tidak pantas dimaafkan karena akibat pilihan atau keputusan yang berdampak kepada orang-orang yang kamu kasihi. 

Ini adalah pikiran-pikiran yang seringnya dipakai untuk menyerang kita.

Aku tidak cukup baik. Aku tidak melakukannya dengan baik. Aku harus melakukan sesuatu yang lebih dan berbeda. Tapi aku tidak bisa. Kalau aku melakukannya lagi, aku hanya akan mengulangi kesalahan yang sama dan sebagainya…

Mendengar kalimat-kalimat ini berputar di pikiran kita pasti sangat melelahkan. Dan Tuhan tidak mau kita mengalaminya. Karena itu adalah rencana si iblis. Demikian disampaikan dalam Yohanes 10: 10, “Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.”

Ingatlah kebenaran ini. Tuhan mau kamu hidup dalam kasih karunia-Nya. Dia mau kamu mengatur ulang ekspektasi hidupmu dan melepaskan semua rasa bersalah yang membebani.

Tidak ada rasa bersalah yang tidak dibanding-bandingkan dengan harapan. Karena itulah untuk menghilangkan rasa bersalah, mulailah mengatur ulang ekspektasi atas dirimu sendiri dan pastikan jika ekspektasi itu sejalan dengan ekspektasinya Tuhan atas hidupmu. 

Berikut beberapa contoh ekspektasi yang tidak sehat:

Harapan yang tidak jelas. Harapan yang samar-samar akan membuatmu merasa bersalah karena kamu tidak bisa benar-benar mengukur hasilnya.

Misalnya, ‘aku harus melakukan lebih banyak….’ Dalam kalimat ini, kata melakukan lebih banyak tidak memiliki batasan harapan yang jelas. Tanpa harapan yang jelas, kita tidak akan bisa melakukan sesuatu dengan lebih baik.

Harapan yang tidak realistis. Apakah kamu berharap mendapat pekerjaan baru, punya hubungan, keuangan meningkat, tetap sehat, atau perubahan-perubahan lain yang kamu harapkan akan terjadi. Daftar harapan semacam ini hanya akan membebanimu dan menambah rasa bersalah terhadap dirimu sendiri. Jadi, jangan bebani dirimu dengan harapan-harapan yang tidak realistis ini.

Harapan terhadap orang lain. Kadang apa yang kita inginkan tidak sama dengan yang diinginkan orang lain. Tuhan sendiri melakukan hal serupa kepada kita. Dia bisa memberikan apa yang kita mau, tapi Dia memilih memberikan apa yang kita butuhkan saja. Sebagai manusia, kita cenderung ingin membahagiakan dan menyenangkan hati semua orang. Dan saat kita tidak bisa memenuhi harapan itu, kita pun akan mulai kecewa kepada diri sendiri.

Karena itu, mari periksa kembali apa ekspektasi atau harapan yang kamu buat. Untuk lebih membantumu menyusunnya, ingatlah dua hal ini:

- Kamu akan selalu merasa bersalah karena tidak menjalani kehidupan sesuai dengan harapan orang lain. Hanya dengan menerima dan menjalani kehidupan yang dianugerahkan Tuhan lah yang akan memuaskanmu.

- Kamu tidak bisa menerima dan menjalani kehidupan yang sudah Tuhan berikan selama kamu masih belum percaya dengan sungguh bahwa Tuhan menciptakanmu untuk satu tujuan yaitu tujuan istimewa yang berbeda dari orang lain.

Jadi buat setiap orang yang saat ini sedang bergumul dengan rasa bersalah yang terus berputar di pikiranmu, mari minta pertolongan dari Tuhan. Supaya Dia memberikanmu harapan yang baru dan yang bisa memuaskan dirimu.

Tuhan, tunjukkanlah harapanMu atas hidupku di musim ini. Dan berikanlah aku kepekaan untuk mematahkan siasat si iblis yang berusaha untuk menanam benih keraguan di dalam benakku yang membuatku merasakan rasa bersalah. Bantu aku untuk melepaskan rasa bersalah itu dan menerima hidupku dengan sukacita di dalamMu. Di dalam nama Tuhan Yesus, aku berdoa. Amin.

 

Hak cipta Valorie Burton, disadur dari Crosswalk.com

Ikuti Kami