Pembaharuan di Padang Gurun

Pembaharuan di Padang Gurun

Claudia Jessica Official Writer
      715

 

Hosea 2:13

"Sebab itu, sesungguhnya, Aku ini akan membujuk dia, dan membawa dia ke padang gurun, dan berbicara menenangkan hatinya."

Bacaan Alkitab setahun: Mazmur 135; Yohanes 12; Ratapan 3

Nabi Hosea memiliki salah satu pekerjaan yang tidak akan pernah membuat orang lain menjadi iri. Tuhan memerintahkan untuk menikahi seorang istri yang akan mengkhiantinya, hal ini diketahui oleh Tuhan dan Hosea. Hosea menikah dengan Gomer, seorang pelacur.

Mereka memiliki beberapa anak bersama, tetapi akhirnya Gomer kembali ke cara lamanya. Dia meninggalkan Hosea, kembali ke kekasihnya, dan akhirnya dikhianati ke pasar budak.

Tetapi Hosea melakukan hal yang tidak terpikirkan. Dia membeli Gomer kembali.

"Berfirmanlah TUHAN kepadaku: "Pergilah lagi, cintailah perempuan yang suka bersundal dan berzinah, seperti TUHAN juga mencintai orang Israel, sekalipun mereka berpaling kepada allah-allah lain dan menyukai kue kismis." Lalu aku membeli dia bagiku dengan bayaran lima belas syikal perak dan satu setengah homer jelai. Aku berkata kepadanya: "Lama engkau harus diam padaku dengan tidak bersundal dan dengan tidak menjadi kepunyaan seorang laki-laki; juga aku ini tidak akan bersetubuh dengan engkau." (Hosea 3: 1-3)

Artinya, Hosea menebus pengantin wanitanya sendiri. Alih-alih menyerahkannya pada konsekuensi alami, dia membawanya kembali ke dalam perjanjian pernikahannya.

Sejak awal, Tuhan menjelaskan kepada Hosea bahwa rasa sakit karena pengkhianatan, rasa tidak bersyukur, dan sifat Gomer yang tidak konstan tidak lain adalah yang dialami Tuhan sendiri di tangan mempelai perempuannya, orang-orang Israel.

Penyembahan berhala jauh melebihi kesetiaan pada perjanjian, dan bangsa itu semakin terjerat dengan kerajaan asing, melawan perintah langsung Tuhan. Mereka adalah pengantin yang bandel, nasib mereka tidak berbeda jauh dengan Gomer. Hosea meyakinkan setiap orang Israel bahwa konsekuensi alami dari tindakan yang mereka lakukan ialah perbudakan dan kemiskinan pada masa mendatang.

Namun Tuhan tidak meninggalkan mereka. Sebaliknya, ketika semua yang mereka percayai dilucuti, dia mengejar mereka. Tuhan berkata:

"Sebab itu, sesungguhnya, Aku ini akan membujuk dia, dan membawa dia ke padang gurun, dan berbicara menenangkan hatinya. Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku untuk selama-lamanya dan Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku dalam keadilan dan kebenaran, dalam kasih setia dan kasih sayang." (Hosea 2: 13, 18)

Setelah mengosongkan semua harta-hartanya, dewa-dewa, dan kemakmuran lain, Israel mendapatkan bahwa mereka bukanlah sebuah objek kemurkaan terakhir, tetapi belas kasihan tertinggi.

Terlepas dari perjanjian, janji, dan rasa tidak berterimakasih yang kepada Tuhan yang sudah menyelamatkan mereka dari perbudakan. Seorang komentator Matthew Henry mencatat anugerah luar biasa ini dalam Perjanjian Lama:

“Ketika dia mengatakan, dia melupakan saya, seseorang akan berpikir bahwa saya harus mengikutinya, ‘Oleh karena itu aku akan melepaskannya, aku akan melupakannya, aku tidak pernah melihatnya lagi.’ Tidak. Aku akan memikatnya. Rencana Tuhan dan belas kasihan Tuhan jauh di atas kita; alasannya adalah semua itu bersumber dari diri-Nya sendiri, dan bukan dari kita; tidak, kebaikan-Nya membawa kesempatan dari kejahatan manusia untuk muncul begitu lebih banyak termahsyur. Rencananya jelas untuk meningkatkan anugerah gratis kepada mereka yang kepadanya Tuhan akan memiliki belas kasihan murni demi belas kasihan.”

Jangan pernah lupa bahwa di tangan Tuhan, gurun pun dapat menjadi tempat pemulihan.

 

Disadurkan dari crosswalk.com

Anda butuh didoakan langsung? Klik link dibawah ini untuk terbubung dengan Tim doa kami http://bit.ly/InginDidoakan

Anda butuh konseling? Klik link dibawah ini untuk konseling. http://bit.ly/inginKonseling

 

Ikuti Kami