Menjadi Tenang di Tengah Himpitan Hidup

Menjadi Tenang di Tengah Himpitan Hidup

Claudia Jessica Official Writer
      917

Mazmur 46: 11

"Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah! Aku ditinggikan di antara bangsa-bangsa, ditinggikan di bumi!"

Bacaan Alkitab setahun: Mazmur 133; Yohanes 10; Yeremia 43-44

Beberapa minggu terakhir ini dipenuhi dengan jadwal yang padat, bandara yang ramai, pembicaraan anak-anak dan nada dering ponsel yang terdengar dimana-mana, aliran suara, teknologi dan aktivitas yang tidak pernah berakhir. Tampaknya semakin tua, hari-hari saat musim panas terasa menjadi seperti dongeng anak-anak dari kehidupan lain.

Jika kamu adalah seorang warga negara Amerika, kamu mungkin akan jadi sesibuk diriku saat ini. Negara ini dipenuhi dengan berbagai aktivitas. Penelitian menunjukkan bahwa orang-orang Amerika adalah orang-orang yang paling kurang tidur di dunia. Kita bekerja berjam-jam, pulang untuk mengerjakan pekerjaan lagi (ditemani dengan acara televisi di latar belakang) sebelum merebahkan diri ke kasur untuk mengulangi hal yang sama pada esok hari.

Kenapa kita menjalani kehidupan yang dipenuhi dengan kepanikan dan hiper-stimulasi? Kadang-kadang kita merasa karena kewajiban. Kita merasa berdosa untuk mengatakan ‘tidak’ sehingga kita terlalu memaksakan diri untuk mencoba menjadi serupa dengan Yesus bagi orang-orang di sekitar kita.

Terkadang, hiruk-pikuk kehidupan berasal dari perasaan tidak mampu, “Jika saya bekerja keras dan mencapai itu dan itu, saya akan memiliki nilai.” Terkadang itulah cara kita untuk melarikan diri, mengubur diri sendiri dalam pekerjaan, atau menjauhkan pikiran kita dari kekecewaan hidup.

Kadang kala ketika kita baru saja kehilangan prioritas kita, kita mengatur ulang hal yang harus diutamakan dalam waktu singkat. Tanpa disadari, kita telah membiarkan waktu senggang kita berlalu sedikit demi sedikit. Terlepas dari mengapa kita hidup di jalur yang cepat (dan keras), di dalam lubuk hati, kita semua tahu bahwa kita harus keluar dari sana.

Jiwa kita mendambakan kedamaian, kesunyian dan keheningan. Bahkan jika kita bisa mengabaikan tangisan jiwa kita untuk sementara, tubuh kita akan menuntutnya ketika kita tidak bisa menahannya lagi.

Mengapa kita mendambakan keheningan itu? Tampaknya ‘kebisingan’ kehidupan lebih sering dibuat oleh manusia daripada Tuhan. Di dalam Alkitab kita melihat bahwa Tuhan memanggil kita berkali-kali untuk menemukan kedamaian di dalam Dia, untuk meringankan beban kita dengan-Nya, untuk mengesampingkan kecemasan dan urusan yang tidak berarti.

Kita melihat Tuhan berbicara kepada nabi Elia melalui ‘bisikan lembut’ dan memberitahu Marta yang cemas karena saudarinya, Maria memilih bagian ‘yang lebih baik’ ketika dia meninggalkan tugas rumah tangga untuk duduk di kaki Yesus. (Lukas 10: 41-42)

Setelah hari yang panjang dan berlari kesana kemari, saya mendapati diri saya merindukan kedamaian Maria, yang perkejaan satu-satunya adalah bersama Kristus. Jadi, bagaimana kita bisa menjadi seperti Maria ketika sebagian besar dari kita justru lebih mirip dengan Marta yang cemas? Saya menyukai ayat pembukaannya. Itu sangat sederhana, memotong semua sampah yang berserakan di otak saya. Tenanglah.

Di tengah kesibukan di sekitarnya, Maria membuat pilihan yang sederhana. Untuk duduk dan diam. Kamu dan saya juga bisa membuat pilihan yang sederhana itu, sekalipun kehidupan kita tampak menekan dari berbagai arah.

Mungkin awalnya canggung, kita mungkin tergoda untuk mengambil jarak atau mempersingkat waktu kita dengan Tuhan. Tetapi dengan mencari ketenangan kita secara efektif berkata, “Tidak ada hal lain yang lebih bagiku selain Engkau saat ini, ya Tuhan.”

Ketika saya mengahabiskan waktu di kapel Adorasi local kami, tempat yang tidak memiliki kebisingan dan gerakan yang konstan, saya mendapatkan bahwa saya tidak pernah duduk di ruang kosong tanpa melakukan ‘apa-apa’ kecuali tempat yang dipenuhi dengan kehadiran dan cinta Tuhan, tempat yang benar-benar bisa membuat saya mengetahui tentang Tuhan.

Ikuti Kami