Ini Alasan Yosi Mokalu Ungkap ‘Menikah Bukan Cuma Mengejar Kebahagiaan’

Ini Alasan Yosi Mokalu Ungkap ‘Menikah Bukan Cuma Mengejar Kebahagiaan’

Lori Official Writer
316

Perjalanan pernikahan Yosi Project Pop (Yosi Mokalu) dengan Aprilla Mokalu bukan tanpa rintangan. Sebelum mantap melamar sang istri di tahun 2005 silam, Yosi harus bergumul mencari tuntunan Tuhan dalam memutuskan pilihan.

Pengalaman Yosi dalam memilih pasangan hidup tentu saja bukan perkara mudah. Apalagi mengingat saat itu, Aprilla sudah pernah menikah dan memiliki anak. Namun dengan sebuah keyakinan penuh yang ditaruhkan Tuhan di dalam hatinya, Yosi mantap untuk berkomitmen menjalani pernikahan dengan Aprilla. 

Tahun ini, pernikahan Yosi dan Aprilla pun akan memasuki usia 15 tahun tepat pada 11 November 2020 ini. Hal inilah yang menginspirasi Merry Riana untuk mengetahui lebih dalam tentang makna pernikahan dari seorang Yosi.

 

Menikah Bukan Cuma Mengejar Kebahagiaan

Berangkat dari pengalaman, Yosi menegaskan bahwa menikah bukan sekadar mengejar kebahagiaan saja. Tapi lebih dari itu, menikah seharusnya menjadi proses yang membentuk suami dan istri menjadi seseorang yang lebih baik.

“Saya percaya pernikahan itu bukan hanya sekadar mengejar bahagia, mengejar keturunan. Tetapi juga kehidupanmu masih ada setelah menikah. Means like kamu juga akan dibentuk setelah menikah to become a person, to become somebody. Ketika kita masih hidup di dunia ini, kita punya rule sebenarnya. Jadi kalau kita berpikir sejauh itu di luar keluarga, maksudnya keluarga adalah faktor pendukung keberadaan kita di dunia. Apa yang berangkat dari rumah itu akan mempengaruhi kegiatan kita di luar rumah,” kata Yosi.

Tentu saja pemikiran ini jauh berbeda dari harapan banyak pasangan menikah, yang pada umumnya berpikir bahwa menikah adalah untuk mengejar kebahagiaan. Banyak yang lupa bahwa ada proses yang harus dilewati selama menikah.

When you decided untuk committed dengan new relationship, bukan pacaran lagi, kayaknya you need to be aware of this thing bahwa bukan cuman saja kebahagiaan yang kamu kejar, tapi proses apa yang bisa kamu ciptakan melalui pernikahan ini?” ungkapnya.

 

Baca Juga: Gading Marten Ungkap Kesalahan Fatal Pernikahannya Kandas, Pelajaran Buat Para Suami!

 

Pacaran Itu Penuh Tipu Muslihat

Yosi menuturkan bahwa kebahagiaan yang umumnya dirasakan saat pacaran sangat jauh berbeda dengan kebahagiaan saat menikah. Bukan hanya berdasarkan apa yang sudah dia jalani, tetapi juga berdasarkan apa yang disampaikan oleh banyak pasangan menikah.

“Calon-calon istri pada waktu itu terlihat hanya bisa membahagiakan saya selama pacaran. Karena bahagianya di saat pacaran itu sangat banyak tipu muslihatnya. I’ve been listening to that dari orang-orang yang sudah menikah,” katanya.

Seperti banyak disampaikan oleh pasangan menikah, kebahagiaan pacaran itu hanya sebatas mimpi dan rencana-rencana masa depan. Yang realisasinya setelah menikah sangat jauh berbeda dari mimpi atau rencana itu.

“Mereka bilang kalau kamu pacaran bahagianya pasti beda dengan bahagianya menikah. Kalau misalnya pacaran itu, kita semua masih diomongin dalam batas mimpi, you know like kita nanti punya rumah di sini ya, kita nanti punya anak begitu, punya mobil begini. Semuanya mimpi, masih planning. But when you get married mimpi-mimpi tadi ditagih,” lanjutnya.

Karena itu, Yosi pun mendorong banyak pasangan untuk memandang pernikahan dengan cara yang berbeda. Yaitu bukan sekadar mengejar kebahagiaan, tetapi juga bertumbuh menjadi pribadi yang punya tujuan. Dan hal ini sangat ditentukan oleh siapa pasangan yang kita pilih. 

“Saya tidak bisa mencari orang yang bisa nurut-nurut aja. Laki-laki itu suka sama calon istri yang bener-bener nurut-nurut aja, hormat aja. Well, of course semuanya (laki-laki) pasti suka kek gitu. Demikian juga pasti perempuan, pasti mencari pasangan seperti itu. Tapi kalau tidak ada yang ditawarkan lebih dari itu, you need to think about it! Apakah kamu akan berproses dalam rumah tangga dalam your next level of relationship,” tuturnya.

 

Baca Juga: Cinta Bersemi di Acara Rohani, Kisah Manis Pertemuan Pertama Chef Marinka Dengan Suami

 

Menjadi pasangan yang sepadan, seperti yang dituliskan dalam 2 Korintus 6:14-15, menurut Yosi bukan saja soal keyakinan. Tetapi juga soal bagaimana keduanya bisa saling menyeimbangkan dari banyak hal.

“Saya memikirkan this person bisa mengimbangi saya gak? Dalam hal berpikir, dalam hal kecerdasan, dalam hal kerohanian, all that stuff. Supaya sepadan. Kalau tidak mengimbangi berarti tidak sepadan,” ungkapnya.

Seperti yang kita tahu, pernikahan adalah sebuah perjalanan panjang yang harus diarungi oleh dua pribadi seumur hidup. Karena itulah, dibutuhkan teman perjalanan yang bukan saja bisa menolong, tetapi juga mendukung untuk mencapai tujuan yang sudah Tuhan tentukan dalam hidup kita. Selain mengasihi Tuhan dan hidup dalam kebenaran, kita juga memerlukan pasangan yang tahu tujuan hidupnya dan memiliki nilai yang berbeda dari yang lain. Dan dengan nilai inilah, kedua pribadi bisa belajar saling melengkapi dan mengimbangi. 

Jika ada banyak diantara kalian yang memaknai pernikahan sekadar mengejar kebahagiaan, maka perbaikilah tujuan itu. Dan jika diantara kalian sedang dalam masa penantian atau mencari pasangan hidup, pastikan bahwa calon pasangan hidupmu adalah seseorang yang sepadan denganmu. Mintalah tuntunan Tuhan dalam setiap pilihan dan keputusan yang kamu ambil.

Sumber : Jawaban.com

Ikuti Kami