Misinformasi dan Disinformasi, Bagaimana Menyaring Informasi yang Benar?

Misinformasi dan Disinformasi, Bagaimana Menyaring Informasi yang Benar?

Claudia Jessica Official Writer
203

Saat ini, dunia masih diperhadapkan dengan pandemi yang masih berlangsung sejak awal tahun 2020. Dengan kepanikan ini, masyarakat dibanjiri dengan berbagai informasi mengenai virus yang tengah merajelela di dunia.

Situasi ini dinamakan infodemik, dimana setiap informasi yang dibagikan belum pasti kebenarannya sehingga berpengaruh besar terhadap perilaku masyarakat, juga penaganan masalah penyelesaian pandemi. Tak hanya itu, berbagai macam sumber informasi ini membuat orang yang membacanya menjadi bingung dan stress.

Informasi yang direkayasa dan tidak bisa dibuktikan kebenarannya disebut dengan hoax. Atau dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), hoaks atau hoax adalah berita bohong atau berita tidak bersumber.

Hoax dikategorikan menjadi 2 jenis, yaitu misinformasi dan disinformasi.

Misinformasi adalah informasi yang salah namun dianggap benar oleh orang-orang yang tidak memahami informasi tersebut, kemudian menyebarkannya tanpa maksud membahayakan orang lain.

Dalam hal ini, misinformasi dibuat dan disebarkan secara tidak sengaja dan tidak memiliki maksud untuk merugikan pihak lain. Contoh kasus misinformasi biasanya sering terjadi melalui pesan di WhatsApp. Seringkali informasi yang salah disamapikan melalui pesan teks dengan mengatasnamakan instansi tertentu, misalnya Menteri Kesehatan Kemenkes RI.

Misalnya sebuah informasi mengenai bahaya mie instan, in termasuk jenis hoax di bidang kesehatan. Penerima pesan mempercayai isi pesan tersebut dan menyebarkannya kenapa sanak saudara dengan maksud informasi itu berguna bagi banyak orang. Hal ini termasuk ke dalam hoax kategori misinformasi.

Sedangkan disinformasi adalah informasi yang salah dan sengaja disebarkan untuk kepentingan tertentu, misalnya untuk tujuan politik, komersial, atau oknum tertentu.

Biasanya misinformasi dan disinformasi menyebar lebih cepat karena dinilai lebih menarik.


Baca juga: Layani Gereja Teraniaya di India, Rajesh Ungkap Resiko Jadi Pengikut Kristus


Oleh karena itu, kita harus memastikan kebenaran informasi yang kita dapatkan sebelum membagikannya kepada orang lain.

Pertama, carilah dahulu sumber informasi, darimana informasi tersebut berasal, lihat keaslian berita, sumber atau data pendukung lainnya.

Kedua, jangan hanya membaca headline saja. Terkadang judul berita sengaja dibuat sensasional atau provokatif untuk menarik pembacanya. Biasakan membaca berita lengkapnya dan cari sumber lain dengan berita serupa untuk mengetahui berita lengkapnya.

Ketiga, cari informasi penulis. Cari tahu nama penulis untuk mencaritahu apakah mereka nyata dan dapat dipercaya?

Keempat, cek tanggal berita. Apakah berita yang disampaikan adalah berita yang up to date dan relevan dengan kejadian saat ini? Apakah judul, gambar, atau statistik yang digunakan sesuai?

Kelima, cari bukti yang mendukung. Berita yang terpercaya harus memiliki fakta-fakta yang mendukung.

Keenam, kenali bias dirimu. Bias adalah subjektivitas kamu memandang suatu hal. Apakah penilaian kamu? Apakah berita itu mendukung asumsimu sehingga kamu ingin mendengarnya?
Ketujuh, cari informasi di fact-checker yang terpercaya. Cari tahu organisasi yang memang melakukan fact-checking, misalnya Kominfo.

Nah JCers sebelum menyebarkan suatu berita, pastikan kamu berita yang akan JCers sebarkan adalah keadaan yang sebenarnya dan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya ya.

Sumber : berbagai sumber

Ikuti Kami