Salah Satu Kebiasaan Buruk di Alkitab, Begini 4 Cara Hadapi Teman yang Suka Julid

Salah Satu Kebiasaan Buruk di Alkitab, Begini 4 Cara Hadapi Teman yang Suka Julid

Lori Official Writer
404

Istilah julid jadi populer di kalangan netizen Indonesia belakangan ini. Kata yang satu ini pun dipakai sebagai istilah lain dari nyinyir atau siri hati. Yang secara umumnya dikategorikan dalam kebiasaan bergosip atau mengata-ngatai orang lain di belakang.

Istilah ini juga makin populer di kalangan netizen setelah kemunculan film pendek berjudul ‘Tilik’ yang banyak dibicarakan di sosial media. Film ini menceritakan soal sekelompok ibu-ibu kampung yang lagi mengatai-ngatai salah satu tetangganya. Sontak film inipun banyak dibicarakan karena menggambarkan kejadian yang sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia.

Bukan hanya di antara ibu-ibu kampung, kebiasaan julid sebenarnya melekat di tengah kehidupan semua kalangan, mulai dari anak-anak, remaja sampai orang dewasa. Bahkan sesama teman pun bisa berlaku julid dengan temannya sendiri.

Bahkan dari pengakuan banyak orang, julid dianggap sebagai bumbu obrolan yang bisa menciptakan suasana meriah saat berkumpul dengan teman-teman. Alasan ini dinilai bukan karena mereka benar-benar iri dengan orang yang dibicarakan, tapi dengan menjulidi orang itu mereka juga bisa tahu kabar-kabar terbaru.

Kalau bisa disimpulkan julid termasuk bentuk gosip karena melibatkan percakapan tentang orang lain yang tidak ada di sana. Di dalam Alkitab, gosip dikategorikan sebagai salah satu kebiasaan buruk yang harus dihindari karena walaupun yang dibicarakan mungkin benar, tapi tetap saja percakapan pasti dibumbui dengan prasangka atau asumsi yang salah.

"Jangan menjadi saksi terhadap sesamamu tanpa sebab, dan menipu dengan bibirmu." (Amsal 24: 28)

Dampak Buruk Gosip

Gosip bisa merugikan banyak pihak, diantara pelaku gosip, yang mendengar dan yang digosipkan.

Gosip dan kerabatnya fitnah adalah dosa yang menyebabkan kerusakan hubungan dengan orang lain. Dan ucapan menipu apapun ditegaskan dalam Alkitab sebagai dosa (Mazmur 101: 5 & Amsal 6: 16-19).

Sebagian orang bisa suka mencari-cari pembicaraan. Sebagian lainnya suka mengembangkan percakapan dan setiap kali obrolan tersebut mengarah kepada gosip, akibatnya bisa berujung pada rusaknya hubungan pertemanan.

“Orang yang curang menimbulkan pertengkaran, dan seorang pemfitnah menceraikan sahabat yang karib.” (Amsal 16: 28)

Orang-orang julid biasanya ditandai dari beberapa sikapnya, yaitu:

  • Suka memulai percakapan dengan kata ‘Tahu gak sih..’
  • Selalu merasa jadi orang yang paling benar
  • Apapun yang dilakukan orang pasti akan selalu dinyinyirin
  • Bahagia waktu hidup orang lain lagi susah

Kebiasaan ini bahkan disebut dalam Alkitab dengan kata sesat. Hal ini diharap bisa membuat kita berpikir untuk bergabung dengan orang-orang yang suka bergosip dan menjulidi orang lain.


Baca Juga:

Ngegosip Dosa Nggak Sih? Ini Dia Apa Yang Alkitab Bilang Tentang Gosip

Fitnah dan Gosip, Toxic Paling Berbahaya Dalam Kekristenan. Begini Dampak Buruknya…



Cara Hadapi Para Penjulid

Ada empat cara yang bisa dilakukan saat berhadapan dengan penggosip yaitu:

1. Kekang Lidahmu

Menghadapi teman yang suka julid bisa dilakukan dengan memahami betul fungsi lidah kita.

Saat terlibat di tengah gosip, pastikan untuk tetap mengekang lidah kita. Jika hal itu berhubungan dengan orang lain dan terdengar seperti percakapan yang menjatuhkan orang lain, pilihlah untuk tidak ikut-ikutan menyepakati perkataan yang lain. Biarkan Efesus 4: 29 tetap jadi prinsip kita.

“Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.”

2. Pilih Untuk Diam

Pilihan kedua adalah tidak ikut dalam gosip. Waktu sebuah percakapan beralih fokus kepada seseorang dan mulai diyakinkan dengan kalimat ‘Tahu gak sih…’ maka kita akan sangat mudah bereaksi. Jangan biarkan diri kita terbawa dalam percakapan itu. Karena gosip hanya akan mengkhamiri pikiran kita.

“Perkataan pemfitnah seperti sedap-sedapan, yang masuk ke lubuk hati.” (Amsal 18: 8)

3. Hadapi dan Akhiri Gosip

Waktu kita menyadari kalau teman-teman kita mulai menjulidi teman yang lain, kita hanya punya dua pilihan yaitu diam dan pergi atau menghadapinya dan mengakhiri gosip.

Waktu kita tidak menghentikan obrolan merusak itu, pada dasarnya kita sedang menjaga api tetap menyala. Karena itu, sebelum obrolan semakin merusak carilah cara untuk mengakhiri percakapan itu.

Salah satunya adalah dengan mengingatkan teman-teman kita bahwa apa yang sedang diperbincangkan itu sesuatu yang tidak baik. Ingatkan bahwa menggosipi atau mengatai-ngatai orang lain sama sekali tidak akan memberikan keuntungan bagi siapapun. Jadi akan lebih baik disudahi saja atau mengubahkan topik pembicaraan yang lain dan yang lebih positif.

“Bila kayu habis, padamlah api; bila pemfitnah tak ada, redalah pertengkaran.” (Amsal 26: 20)

4. Berdoalah

Jika ternyata pembicaraan tentang seseorang timbul akibat sesuatu yang merugikan, bukan berarti menggosipinya adalah tindakan yang tepat. Sebaliknya, akan jauh lebih bermanfaat jika kita mengajak mereka untuk mendoakan orang tersebut.

Hal apapun yang membuat teman-teman kita terganggu karena orang itu, doa akan jauh lebih berguna untuk dia. Jadi ajaklah mereka memakai kata-kata mereka untuk menabur berkat bagi orang lain.

Dan jangan lupa untuk meminta Tuhan menolong kita tetap bisa mengendalikan lidah kita dan memakainya hanya untuk memperkatakan ucapan-ucapan yang berguna.

“Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar. Lihatlah, betapapun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar. Lidahpun adalah api; ia merupakan suatu dunia kejahatan dan mengambil tempat di antara anggota-anggota tubuh kita sebagai sesuatu yang dapat menodai seluruh tubuh dan menyalakan roda kehidupan kita, sedang ia sendiri dinyalakan oleh api neraka.” (Yakobus 3: 5-6)

Sumber : Jawaban.com

Ikuti Kami