Kebahagiaan Suami Istri Selamatkan Anak Dari Jurang Pernikahan yang Salah

Kebahagiaan Suami Istri Selamatkan Anak Dari Jurang Pernikahan yang Salah

Lori Official Writer
565

Baru-baru ini muncul pemberitaan bahwa ratusan anak berusia 14-19 tahun meminta dispensasi nikah kepada menteri agama. Sedihnya, 50% diantaranya terdesak menikah karena sudah keburu hamil di luar nikah.

Tentunya ini, bagi masyarakat Indonesia yang mendukung pernikahan sesuai usia dan budaya, pernikahan mendesak yang disebabkan oleh pergaulan yang salah jelas mencoreng nama baik keluarga. Bagi orangtua yang bahkan percaya sepenuhnya kepada anak, jelas jadi pukulan berat untuk menikahkan anak di bawah umur.

Itulah jenis pernikahan yang ditawarkan dunia. Anak-anak muda tidak diajarkan bahwa pernikahan adalah satu-satunya hubungan yang melibatkan seksualitas. Dan di luar dari hal itu anak-anak hanya akan menanggung risikonya, salah satunya adalah menikah tanpa kesiapan dan persiapan baik dari segi usia dan faktor kemapanan.

Untuk menghindari anak dari kejadian inilah, peran orangtua sangatlah penting. Sebagai pasangan, ajarkanlah beberapa hal ini soal pernikahan:

1. Pernikahan Bersifat Sakral

Sebagai orangtua, suami istri sudah seharusnya menjadi cerminan tentang pernikahan ideal yang ingin dimiliki oleh seorang anak.

Tuhan memberikan suami istri tanggung jawab bukan hanya beranak cucu dan memenuhi bumi. Tapi juga mengajarkan anak-anaknya tentang apa itu pernikahan yang berkenan bagi Tuhan. Suami istri diberi tugas untuk mengajarkan bahwa pernikahan itu bersifat sakral. Itu artinya anak-anaknya harus memahami sejak awal kalau pernikahan adalah sesuatu yang perlu dihormati.

2. Pernikahan Itu Soal Kesiapan

Anak adalah saksi nyata dari sebuah pernikahan. Mereka menyaksikan bagaimana orangtuanya menghidupi pernikahan.

Ada banyak pernikahan yang di awali tanpa kesiapan menimbulkan begitu banyak masalah. Karena itulah penting mengajarkan kepada anak bahwa pernikahan itu memang baik dan indah. Tapi pernikahan bukan hanya soal kebutuhan seksual saja. Jauh lebih penting dari itu adalah bagaimana dua orang belajar siap secara mental dan karakter untuk berjalan bersama menghadapi masalah apapun yang datang secara dewasa.

3. Berikan Teladan Pernikahan

Anak yang dibesarkan di tengah pasangan yang selalu menunjukkan kasih sayang satu sama lain akan membuat anak untuk mendapatkan pernikahan serupa. Salah satu bentuk didikan orangtua ke anak soal teladan pernikahan adalah dengan menunjukkan bagaimana kalian sama-sama saling mencintai, menunjukkan kebahagiaan bersama, saling mendukung dan merayakan momen-momen penting bersama, seperti hari ulang tahun dan hari jadi pernikahan.


Baca Juga:

Nikah Karena Dijodohkan Tapi Masih Sering Ingat Mantan. Apa yang Salah?

 

Kebiasaan Mereka Bikin 5 Pasangan Kristen Ini Jadi ‘Marriage Goals’ Terbaik Pasangan Muda


4. Tunjukkan Bahwa Pernikahan Butuh Dukungan Dari Komunitas

Banyak pasangan Kristen membangun hubungan di dalam komunitas gereja. Biasanya komunitas ini mempertemukan para pasangan menikah untuk saling membangun dan berbagi tentang kehidupan pernikahannya.

Anak perlu tahu kenapa pasangan menikah butuh komunitas dan apa saja yang mereka lakukan di sana. Dengan itu pola pikir anak akan diubahkan bahwa  ternyata pernikahan itu gak sesederhana yang dia pikirkan.

Lewat bimbingan orangtua dan juga teladan pernikahan, anak belajar tentang apa itu pernikahan dan menghormatinya dengan menjauhkan diri dari berbagai pergaulan buruk yang merusaknya.

Mari ingatkan anak selalu bahwa dasar pernikahan yang dipegang oleh setiap orang percaya tertulis di dalam firman Tuhan.

Demikian kutipannya:

"Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan? Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia." - Matius 19: 4-6 

Sumber : Jawaban.com

Ikuti Kami