Marah Itu Tidak Selalu Salah, Bahkan Yesus Juga Pernah Marah Lho, Begini Kata Alkitab

Marah Itu Tidak Selalu Salah, Bahkan Yesus Juga Pernah Marah Lho, Begini Kata Alkitab

Claudia Jessica Official Writer
868

Alkitab menceritakan bagaimana Allah menjadi marah, Dia sangat marah ketika umat-Nya melupakan Dia dan mebuat berhala (Ulangan 21:19), ketika Salomo memalingkan hatinya (1 Raja-raja 11:9), dan ketika orang Israel dan orang Yehuda menolak untuk mendengarperintah-perintahnya (Yeremia 32: 21-32).

Yesus juga menjadi marah ketika orang-orang menggunakan bait Allah untuk keuntungan pribadinya (Matius 21: 12-13), juga ketika mereka lebih peduli pada diri mereka sendiri daripada menyembuhkan orang yang menderita pada hari Sabat (Markus 3:5).

Kita dibuat berdasarkan gambar Allah, dan kita juga dirancang untuk merasakan dan menjadi marah juga. Tetapi yang perlu digaris bawahi adalah, ada kemarahan yang berdosa dan ada kemarahan yang benar. Ada perbedaan kuat diantara keduanya.

Kemarahan yang benar biasanya muncul ketika kita melihat situasi yang bertentangan dengan kehendak dan perintah Allah, dosa seperti pelecehan dan ketidakadilan yang mendalam lainnya.

Kemarahan ini berkembang karena kita selaras dengan Tuhan. Ini adalah kemarahan yang dapat dibenarkan, dan reaksi kita mendorong kita untuk menghentikan kejahatan secara langsung atau mengarahkan emosi kita untuk bekerja bersama orang-orang Kristen lain yang juga berusaha untuk mengakhiri dosa ini.

Tetapi amarah yang berdosa adalah hal yang jauh berbeda, yang bukan berasal dari tempat yang sejajar dengan Allah tetapi lebih merupakan penghalang bagi Tuhan. Kita mungkin menjadi karena kesombongan, atau kita mulai menikmati kemarahan dan membiarkannya tetap dan berakar di hati kita.

Kita membiarkannya tumbuh dan bernanah seperti luka, dan akhirnya menjadi penghalang bagi hubungan kita yang bersatu dengan Tuhan, karena energi kita terfokus pada kemarahan daripada pada Tuhan dan apa yang dapat kita lakukan untuk memuliakan Dia.

Kemarahan yang benar adalah emosi yag saleh, hadir ketika kita selaras dengan Tuhan kita. Itu adalah reaksi alami yang kita alami ketika kita  mulai menghadapi situasi yang akan membuat Tuhan marah, misalnya: pornografi, rasisme, penindasan, kekerasan fisik, seksual atau emosional.

Ketika kita mengalami kemarahan yang benar, jalan terbaik bagi orang Kristen adalah berhenti dan berdoa. Ketika kita mengarahkan perasaan kita kepada Bapa kita, Dia akan mengarahkan kita dan menyalurkan kemarahan kita ke dalam kemuliaan-Nya.

Kemudian kita dapat beristirahat dalam damai bahwa Dia akan menangani situasi dengan cara-Nya, bukan kita sendiri. Kita harus mengeluarkan diri kita dari persamaan agar Tuhan menang.

Amarah adalah emosi normal, amarah dapat dengan cepat lepas kendali. Beralih lagi kepada Tuhan yang membebaskan kita dari belenggu amarah, kejahatan, dan kebencian.

Itu membekaskan kita dari kebencian dan kepahitan, kemudian memungkinkan kita untuk mengendalikan amarah rasa frustasi kita, dan memberi kita kedamaian untuk membiarkan Tuhan menangani ketidakadilan yang dalam dan lazim.

Berikut adalah lima ayat Alkitab untuk memberikan kita kekuatan dan penghiburan dalam upaya kita untuk mengendalikan amarah dan membirkan Tuhan bekerja:

1. Mazmur 37: 8

"Berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu, jangan marah, itu hanya membawa kepada kejahatan."

2. Amsal 14:17

"Siapa lekas naik darah, berlaku bodoh, tetapi orang yang bijaksana, bersabar."

3. Matius 5:22

"Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala."

4. Roma 12:21

"Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!"

5. 2 Timotius 2: 23-25

"Hindarilah soal-soal yang dicari-cari, yang bodoh dan tidak layak. Engkau tahu bahwa soal-soal itu menimbulkan pertengkaran, sedangkan seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang. Ia harus cakap mengajar, sabar dan dengan lemah lembut dapat menuntun orang yang suka melawan, sebab mungkin Tuhan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan memimpin mereka sehingga mereka mengenal kebenaran,"

Sumber : iBelieve

Ikuti Kami