‘Happy Wife, Happy Life’, Apakah Alkitab Menulis Kalau Suami Wajib Bahagiakan Istri?

‘Happy Wife, Happy Life’, Apakah Alkitab Menulis Kalau Suami Wajib Bahagiakan Istri?

Lori Official Writer
1025

Bagi para suami slogan ‘Happy Wife, Happy Life’ mungkin adalah salah satu saran yang kerap didengar saat akan menjalani bahtera pernikahan. Bahkan banyak gereja dan program konseling yang juga menasihatkan slogan ini kepada para suami atau pria.

Tapi sebelum mempercayainya, adalah baik bagi kita untuk bertanya: Apakah slogan Happy Wife Happy Life ini memang Alkitabiah atau memang ditulis atau dianjurkan oleh Alkitab untuk dilakukan oleh para suami?

Apakah benar kalau suami bertanggung jawab untuk membahagiakan istri mereka?

Dan jawabannya adalah TIDAK. Secara isi, kalimat tersebut gak ada tertulis di Alkitab. Tapi yang pasti slogan ini dikutip dari lirik lagu berjudul The Work and Wages Party pada tahun 1903.

I'm a work and wages party man / I say that's what I am. You'll find me true and hearty, man / For that is what I am / Now, let's rejoice to end the strife / With all the kids in clover / A happy wife, a happy life / And a jolly good turn over.

Tapi ungkapan ini bisa kita temukan dari ucapan Paulus dalam Efesus 5: 25, bahwa suami harus mengasihi istrinya sama seperti Yesus mengasihi kita. Pastinya itu adalah tanggung jawab yang harus dilakukan oleh seorang suami.

"Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya…"

Gak ada di dalam Alkitab yang secara langsung mengatakan bahwa ‘jika suami ingin bahagia, maka bahagiakanlah istrimu’.

Tapi ayat yang paling mendekati untuk mengungkapkan hal ini ada di 1 Petrus 3: 7, “Demikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang.”

Banyak suami yang menganggap serius kutipan itu sebagai bagian dari tanggung jawab mereka. Bahkan kebanyakan suami mengaku akan merasa puas dan bahagia ketika mendapati istri menyampaikan bahwa pernikahannya baik-baik saja. Sebaliknya, pria akan merasa kecewa saat mendapati istri tidak bahagia di dalam pernikahan mereka.

Lalu apa standar bagi suami untuk membuat istrinya bahagia?

Untuk dipahami bahwa bahagia itu relatif. Karena di satu sisi seseorang bisa bahagia bahkan di tengah hal terburuk. Dan di sisi lain, seseorang hanya akan bahagia saat punya banyak uang dan menikmati kesenangan.

Jadi, membahagiakan istri bukan semata-mata memenuhi kebutuhan material semata. Tapi membahagiakan istri bisa juga dilakukan dalam bentuk tindakan, seperti menjadi suami yang mau mendengarkan, lebih menuruti apa yang dimintanya dan tahu belum cara untuk menyenangkan hatinya.

Umumnya, suami memang punya beban yang lebih berat jika menyangkut pada pernikahan. Kadang kala, istri bisa jadi sekutu terbaik untuk mendukung suami melakukan yang terbaik bagi keluarga. Tapi bahkan istri yang terbaik pun, kadang juga bisa membuat suami harus memilih antara menyenangkan istri atau Tuhan.

Baik istri maupun suami harus mengingat bahwa mereka masing-masing gak bertanggung jawab untuk selalu membahagiakan pasangannya. Justru sebaliknya, kedua belah pihak bekerja sama untuk menciptakan kebahagiaan dalam pernikahan.

Ayub adalah contoh dari seorang suami yang menunjukkan kesetiaannya kepada Tuhan. Ayub tetap memilih untuk mendengarkan Tuhan daripada istrinya. Dia membuktikan bahwa tanggung jawab pertamanya adalah menyenangkan hati Tuhan. Karena dengan itulah, dia memperoleh kebijaksanaan untuk menentukan cara menyenangkan hati istrinya.


Baca Juga: Haruskah Suami Punya Penghasilan yang Lebih Tinggi Dari Istri?


Menyenangkan hati istri bukan berarti melakukan apapun yang istri suka atau inginkan. Atau berkorban terlalu banyak demi membuatnya bahagia. Tapi suami harus melakukannya sesuai dengan apa yang Tuhan minta untuk kita lakukan.

Itu sebabnya, seorang suami perlu membangun hubungan yang baik dengan Tuhan, sama seperti keintiman hubungan Ayub dengan Tuhan.

Seorang suami yang menerapkan slogan ‘Happy Wife, Happy Life’ hanya akan membuat istri sebagai fokus utama suami. Akibatnya, Tuhan menjadi nomor dua di dalam hubungan suami istri. Seperti yang dilakukan oleh Adam, karena dia terlalu mencintai Hawa dan ingin menyenangkan hatinya dia pun memilih untuk mendengarkan istrinya saat dia meminta untuk makan dari pohon pengetahuan yang baik dan yang buruk. Kita tahu bahwa keputusan Adam mengizinkan istrinya melakukan hal itu hanya berakibat fatal. Hal yang sama terjadi kepada Samson. Dia terlalu mencintai Delilah sampai-sampai dia terperangkap dan harus kehilangan nyawanya demi perempuan itu. Dan Raja Salomo disesatkan oleh gundik-gundiknya ke dalam penyembahan berhala.

Saat seorang suami membelikan sesuatu atau membuat keputusan yang diyakini bisa menyenangkan hari istrinya, itu hanya akan menghasilkan kebahagiaan sesaat. Dan hal ini akan menjadi kebiasaan yang hanya melukai diri suami sendiri.

Dalam pernikahan, bukan hanya istri saja yang pantas bahagia, tapi juga suami. Karena itulah keduanya perlu mengutamakan Tuhan lebih dulu sehingga mereka bisa dipimpin untuk menyenangkan pasangannya.

“Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (Matius 6: 33)

Sumber : Jawaban.com

Ikuti Kami