Solusi Talks: Yandy Laurens - Keterbatasan Bukanlah Penghalang

Solusi Talks: Yandy Laurens - Keterbatasan Bukanlah Penghalang

Claudia Jessica Official Writer
692

Yandy Laurens, sutradara film 'Keluarga Cemara' adalah anak yatim sejak kelas 2 SMP tidak menjadikannya halangan untuk berkarya. Meskipun hidup dalam kemiskinan pada masa itu, awalnya Yandy bercita-cita menjadi pemain basket, bahkan Yandy telah mengikuti seleksi pra PON. Namun setelah mendengar sebuah khotbah di gereja mengenai ‘setiap orang dilahirkan dengan tujuan dan panggilan spesifik, kau ditenun dalam kandungan ibumu.’

Kemudian Yandy mulai berpuasa hingga 2 bulan lamanya hanya untuk menemukan panggilan hidupnya. Dari kejadian demi kejadian, Yandy merasa damai jika dirinya menjadi seorang sutradara. Hal ini dimulai ketika dirinya dipercaya untuk membuatkan naskah drama kakak kelasnya yang akan segera melaksanakan ujian.  

Tidak selalu berjalan lancar, ketika Yandy telah memberikan naskah drama kepada kakak kelasnya, dia pun terkena campak. Namun dia tidak bisa tenang karena jika kakak kelasnya menampilkan pentas di luar dari konsep yang ia bayangkan.

Baca juga: Jangan Menyerah, Tetap Berharap dan Berdoa. Tuhan Sedang Bekerja

Dia merasa tidak terima dan akhirnya dia pun kabur dari rumah untuk mendirect sebuah drama pertama kalinya. Disinilah dia menyadari bahwa dirinya lebih cinta untuk mendirect daripada bermain basket. Segera setelahnya ketika Yandy berada di kelas 1 SMA, dia memutuskan untuk menjadi sutradara.

Dengan segala perkenanan Tuhan, akhirnya Yandy pun berkuliah di IKJ sekalipun dengan uang yang pas-pasan. Bahkan Yandy juga hidup dengan menumpang di apartemen temannya dan harus tidur di sofa dengan keadaan yang panas dan banyak nyamuk.

Baca juga: Bersiaplah Hadapi Musim yang Baru dari Tuhan Dengan Cara Ini…

Kendati demikian, tidak menyurutkan semangat Yandy untuk melanjutkan kuliahnya. Kemudian Yandy benar-benar jatuh cinta pada film sekitar semester 5. Jadi selama 3 tahun dia berkuliah, Yandy tidak pernah datang telat, absen penuh, mengerjakan tugas dengan sungguh-sungguh dan sebagainya. Yang ia percayai adalah apa yang ia lakukan selama itu adalah Tuhan senang dengan apa yang dia lakukan. Dan setelah lulus berkuliah, Yandy 100% jatuh cinta pada dunia perfilman.

Yandy menegaskan, ada 2 hal yang harus dihadapi ketika memasuki dunia industry, kita akan selalu diperhadapkan dengan 2 pilihan berikut: Berkarya dan Hidup Cukup.

"Kalau karya, idealis, bagus, ga ada duitnya. Atau hidup cukup, duitnya cukup tapi kayaknya karyanya ga idealis dari hati, selalu ada dua kutub saling menarik." Katanya di Solusi Talks, Sabtu 15 Februari 2020 lalu.

Baca juga: Apakah Kamu Masih Berdoa Untuk Taat Sama Firman Tuhan?

“Namun kabar baiknya, ada irisan kok. Kita bisa berdiri ditengah-tengahnya” lanjutnya. “dan irisan ini dibuat lebih dari kacamata sekuler dibuat lebih sulit namun di dalam Tuhan lebih gampang ketika ada ini.”


“Saya mau berkarya dengan bagus, hidup cukup, ga mewah gapapa Tuhan, yang penting tetap dalam perkenan Tuhan” pungkasnya.

Meskipun dengan kerterbatasannya namun dengan kegigihannya, akhirnya dia berhasil menghasilan karya-karyanya yang luar biasa seperti SORE Ku Lari ke Pantai, Keluarga Cemara dan lainya.

Namun ada banyak film-film pendek yang tidak terlihat yang dibuatnya semasa kuliah atau semasa tidak ada modal dan sebagainya. Seperti sebuah film yang dibuat untuk tugasnya, tentang badminton, JCers bisa mencarinya dengan kata kunci ‘badminton hello motion yandy laurens’.

Di dalam film itu Yandy menjadi pemain sekaligus sutradara. Film itu sendiri bergenre komedi dan bercerita tentang dua orang pemuda bermain badminton namun salah satunya memukul shuttle kok terlalu kencang hingga kea wan-awan lalu hilang kemudian mengejar kok itu ke seluruh antero Jakarta.

Yandy membuat film ini dengan budget Rp. 90.000,- dengan menggunakan mini-DV, 3 kamera tidak multicam karena tidak ada teman yang mau meminjamkan kameranya lebih dari satu hari. Jadi jika Yandy shooting selama tiga hari, maka dia meminjam 3 kamera, semua berbeda dan semua mini DV nya adalah timpaan karena keterbatasan biaya. Jadi Rp. 90.000,- adalah ongkos bensin dan makan di warteg.

Setelah lulus, tawaran demi tawaran didapatkannya. Dari Wan An, SORE dan Keluarga Cemara namanya mulai dikenal bahkan ada dua project lainnya yang telah menunggu Yandy saat ini.

Dari Yandy kita bisa belajar bahwa berdoa saja tidak cukup namun juga perlu usaha dan usaha saja tidak cukup jika kita tidak berdoa. Setia dalam perkara kecil, Tuhan akan menyertai.

Sumber : solusi talks

Ikuti Kami