Silahkan login terlebih dahulu sebelum
memasukkan pertanyaan Anda.

Register Login

Inta

Official Writer
188


Penelitian menunjukkan kalau orang yang merokok tembakau lebih berisiko mengalami masalah kesehatan mental seperti depresi dan skizofrenia. Kita tahu kalau kebanyakan mereka yang mengalami penyakit mental adalah mereka yang merokok. Namun, hal ini belum tentu kebenarannya.

Kita mungkin sudah banyak mengetahui kalau mereka yang mengalami penyakit mental kebanyakan adalah mereka yang merokok. Namun, masih belum jelas kalau rokok merupakan salah satu faktor dari penyebab penyakit mental atau sebagai bentuk pengobatan bagi mereka yang sudah mengalami penyakit mental.

Para ilmuwan mengatakan bahwa mereka sekarang telah memecahkan masalah ini. “Apa yang kami temukan adalah bahwa ada bukti efek kausal dari kedua arah,” kata Dr Robyn Wootton, penulis pertama penelitian, dari University of Bristol.

Wootton menjelaskan kalau terdapat konsekuensi fisik serius yang diakibatkan dari kebiasaan merokok. Penelitian ini menggarisbawahi pentingnya mencegah orang dari kebiasaan merokok. Dari sini juga mengupayakan untuk membantu perokok berhenti dari kebiasaannya untuk membuktikan bahwa kesehatan mental mereka semakin membaik ketika tidak merokok.

"Tentu saja, jika [merokok] juga membuat risiko penyakit mental semakin buruk, maka kita harus membantu individu yang memiliki masalah kesehatan mental untuk berhenti juga," katanya.

Ditulis dalam jurnal Psychological Medicine, Wootton dan rekan melaporkan bagaimana mereka membandingkan risiko pengembangan depresi atau skizofrenia di antara orang yang punya kecenderungan genetik merokok dan yang tidak.

Karena varian genetik seperti itu didistribusikan secara acak di seluruh populasi - dan tidak diubah oleh faktor-faktor seperti konsumsi alkohol, pendapatan, olahraga, atau masalah kesehatan lainnya - pendekatan ini merupakan jenis eksperimen alami yang mengurangi kemungkinan hubungan apa pun turun ke faktor yang lain.

Tim ini fokus pada 378 varian genetik yang terkait dengan orang yang mulai merokok, serta 126 genetik yang ditemukan memiliki skor yang lebih tinggi  berada pada orang yang sudah merokok sebelumnya. Skor lebih tinggi ditemukan pada mereka yang cenderung merokok pada hampir seluruh hidupnya. Nilai ini mencakup seberapa banyak orang yang merokok, berapa lama mereka merokok, dan apa yang terjadi ketika mereka berhenti merokok.

Wootton bersama rekannya menggunakan dua basis data genetic yang terpisah, satu, ribuan orang yang menderita skizofrenia, sementara satu lainnya merupakan orang yang mengalami depresi berat. Ia melakukan ini untuk bisa mengeksplorasi apakah risiko ini terkait dengan varian genetik yang dimiliki oleh perokok.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa mereka yang baru mulai merokok dan tingkat merokok yang lebih tinggi punya risiko depresi dan skizofrenia yang lebih besar. Sebagai contoh, seorang individu yang merokok 20 batang sehari selama 15 tahun tetapi kemudian tidak merokok selama 17 tahun memiliki lebih dari dua kali kemungkinan terkena skizofrenia dan hampir dua kali lipat kemungkinan mengalami depresi daripada seseorang yang tidak pernah merokok.

Merokok tembakau dapat meningkatkan risiko skizofrenia, kata para peneliti. Tim peneliti ini juga melihat apakah orang dengan kecenderungan genetik terhadap depresi atau skizofrenia cenderung lebih banyak merokok. Meskipun mereka memang menemukan efek seperti itu, itu lebih lemah daripada untuk arah yang berlawanan.

Namun, penelitian ini memiliki keterbatasan, salah satunya adalah bahwa sampel yang digunakan hanya terfokus pada orang-orang keturunan Eropa.

Wootton mengatakan perlu untuk mengeksplorasi lebih lanjut mengenai bagaimana merokok dapat meningkatkan risiko skizofrenia dan depresi lebih lanjut. Satu kemungkinan adalah bahwa nikotin mempengaruhi jalur di otak yang terkait dengan masalah kesehatan mental. Itu bisa menjadi penting, tambahnya, karena nikotin juga ditemukan dalam rokok elektronik.

Dr Ian Hamilton, seorang ahli kecanduan dan kesehatan mental dari University of York, mengatakan: “Walaupun bahaya fisik dari merokok sudah diketahui dengan baik, penelitian ini menunjukkan risiko kesehatan mental dari penggunaan tembakau. Risiko ini harus dikomunikasikan secara luas tetapi khususnya kepada anak-anak usia sekolah yang mungkin tergoda untuk mencoba merokok. ”

 

Sumber : guardian

Share this article :

Setiap Persoalan selalu ada Harapan dan Jawaban. Hubungi kami sekarang !

Abdul Hamid 16 November 2019 - 05:58:24

Sy di tinggal kabur istri sdh 1 bulan alsan istri .. more..

0 Answer

Yolanda Sinaga 14 November 2019 - 17:57:36

kisah joyce meyer

0 Answer

Kristanto 14 November 2019 - 04:07:05

Apakah yang harus sy lakukan. Istri berkata kasar .. more..

1 Answer


surya 10 November 2019 - 18:37:53
Hi teman teman JC, nama saya surya, saya mengalami... more..

marisca benedicta 9 November 2019 - 10:23:48
tolong bantu doa, agar saya terlepas dri jeratan h... more..

Joice Merry 6 November 2019 - 13:22:01
Mohon topangan doa agar Supaya tidak khawatir akan... more..

Aneke Ane 5 November 2019 - 05:23:34
Saya ane. Saat ini saya merasa berada dititik ter... more..

Banner Mitra November Week 2


7270

Banner Mitra November Week 2