Silahkan login terlebih dahulu sebelum
memasukkan pertanyaan Anda.

Register Login

lori_mora

Official Writer
1226


Aku ingat waktu masih menyusun skripsi sewaktu kuliah. Kamu pasti tahu bahwa sistem birokrasi di negara ini masih terlalu rusak. Nah, pengalaman inilah yang aku alami ketika memperjuangkan kelulusanku di meja hijau.

Bagaimana aku yang tahu tentang kebenaran harus berani berkata ‘tidak’ untuk praktik pungutan liar (pungli) di kampus, sementara ada begitu banyak mahasiswa tingkat akhir sepertiku yang justru memilih kompromi. Aku harus berjuang sendiri. Aku harus berani dicaci maki dan dipermalukan karena terlalu berpendirian untuk tak mau membayar uang pungli. Apakah aku lulus? Tentu saja. Tapi proses untuk mendapatkan nilai akhir itu benar-benar dipenuhi dengan perjuangan.

Saat kamu memilih untuk melawan arus demi melakukan hal yang benar sesuai dengan imanmu, kamu ibarat sedang membuka pintu yang sedang tertutup.

Prosesnya memang sulit, karena itu setiap orang yang berani melawan arus dan menjadi berbeda dari dunia pasti akan menghadapi beberapa proses ini:

- Berani melawan ketakutan. Saat kita berdiri demi kebenaran kita pasti akan terdorong untuk berani melawan rasa takut. Karena saat kebenaran itu menyangkut iman kita kepada Tuhan, maka kita percaya bahwa Dia sendirilah yang akan menyertai kita untuk menghadapinya.

Semua orang pasti akan menentang dan meninggalkanmu karena menganggap kamu hanya melakukan tindakan menyusahkan diri sendiri. Sehingga seringkali kamu harus berjuang sendiri dan kesepian. Masa-masa itu pasti menyakitkan, tapi itulah harga yang harus dibayar untuk sebuah perjuangan.

- Berani melakukan hal yang berbeda. Orang-orang yang berani melawan arus biasanya akan berani melakukan hal yang berbeda. Seperti halnya dengan pungli di kampus, tentu saja banyak mahasiswa yang sadar kalau pungli adalah praktik yang terlarang. Tapi hanya karena mereka takut diancam akan dapat nilai yang jelek di sidang skripsi, maka mereka pun memilih untuk membenarkan pungli.

Sedang bagi mereka yang berpendirian kuat terhadap kebenaran, justru memilih untuk melawan dan berupaya untuk memutus rantai pungli dengan berani menyampaikan bahwa hal itu salah.

- Terus berjuang apapun tantangannya. Di kitab Daniel, kita bisa menemukan kisah tentang tiga pemuda Ibrani yang berhasil melawan arus ketika diperhadapkan dengan ancaman akan hidup mereka sendiri. Mereka meneladani keberanian dan keteguhan iman di dalam Tuhan. Teladan mereka pula yang membuat semua orang merasa takjub dengan iman yang mereka punya.

Tahukah kamu kisah ketiga pemuda ini? Sadrakh, Mesakh dan Abednego adalah tiga pemuda yang dibawa meninggalkan bangsanya Ibrani dan ditugaskan untuk melayani di kerajaan Babel. Selama mereka melayani di sana, tak sekalipun mereka meninggalkan iman mereka kepada Allah. Itu sebabnya Allah sendiri memperhitungkan integritas dan iman mereka dengan memberi mereka kesempatan yang terbaik untuk melayani raja.

Selama tinggal di kerajaan Babel, mereka bisa saja mencoba hal-hal baru yang tak pernah mereka lakukan di Ibrani. Seperti minum-minuman keras dan menikmati kesenangan lainnya. Tapi mereka sama sekali tak melakukannya karena mereka menghormati Allah dan menjaga iman mereka setiap hari.

Di satu titik, mereka pun diperhadapkan dengan sebuah keputusan yang berat. Mereka diminta oleh sang raja Nebukadnezar untuk menyembah patung emas yang biasa disembah oleh bangsa Babel (Daniel 3: 1-21).

Namun kecintaan mereka kepada Allah mendorong mereka untuk menolak permintaan sang raja. Dengan langkah iman dan keberanian yang luar biasa, Sadrakh, Mesakh dan Abednego pun mengambil 3 langkah ini:

1. Menghadapi rasa takut dan berani melepaskan kenyamanan mereka

Sekalipun mereka sudah mendapatkan kehidupan yang sangat nyaman di istana raja, tapi perintah Raja Nebukadnezar untuk menyembah patung berhala membuat ketiga pemuda ini berani untuk berkata ‘tidak’ demi kebenaran. Sekalipun risiko yang akan mereka tanggung adalah dihukum mati.

“Karena titah raja itu keras, dipanaskanlah perapian itu dengan luar biasa, sehingga nyala api itu membakar mati orang-orang yang mengangkat Sadrakh, Mesakh dan Abednego itu ke atas. Tetapi ketiga orang itu, yakni Sadrakh, Mesakh dan Abednego, jatuh ke dalam perapian yang menyala-nyala itu dengan terikat.” (Daniel 3: 22-23)

2. Sadrakh, Mesakh dan Abednego lebih takut dengan firman Tuhan daripada ancaman raja

Kita bisa menghadapi ancaman yang berusaha membuat kita takut saat kita mendapat wahyu tentang apa yang Tuhan pikirkan tentang kita. Tapi memang kita akan berjuang keras untuk menghadapinya.

Dan inilah yang dilakukan ketiga pemuda Ibrani itu. Sebagai orang-orang yang begitu dekat dengan Tuhan, mereka percaya bahwa mereka berada dalam lindungan Tuhan yang maha besar. Hal itulah yang mendorong mereka untuk menolak titah raja. Kata mereka, “Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini. Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja;tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.” (Daniel 3: 16-18)

3. Sadrakh, Mesakh dan Abednego memilih mengandalkan Tuhan

Rasa takut akan muncul seiring dengan ancaman yang kita terima. Ada kalanya kita akan melakukan cara kita sendiri untuk mengatasinya. Tapi berbeda dengan ketiga pria ini, mereka lebih memilih untuk mengandalkan Tuhan. Mereka percaya bahwa saat mereka berdiri untuk memperjuangkan iman, mereka akan dibela oleh Tuhan.

Jadi, ketiga sikap inilah yang kita butuhkan ada dalam diri orang-orang percaya di masa ini. Jangan pernah takut menjadi pribadi yang melawan arus dunia dan berjuang demi kebenaran. Karena saat hal itu kamu lakukan untuk Tuhan, maka Dia sekali-kali tak akan pernah meninggalkanmu.

“Kemudian terkejutlah raja Nebukadnezar lalu bangun dengan segera; berkatalah ia kepada para menterinya: "Bukankah tiga orang yang telah kita campakkan dengan terikat ke dalam api itu?" Jawab mereka kepada raja: "Benar, ya raja!" Katanya: "Tetapi ada empat orang kulihat berjalan-jalan dengan bebas di tengah-tengah api itu; mereka tidak terluka, dan yang keempat itu rupanya seperti anak dewa!" Lalu Nebukadnezar mendekati pintu perapian yang bernyala-nyala itu; berkatalah ia: "Sadrakh, Mesakh dan Abednego, hamba-hamba Allah yang maha tinggi, keluarlah dan datanglah ke mari!" Lalu keluarlah Sadrakh, Mesakh dan Abednego dari api itu....Berkatalah Nebukadnezar: "Terpujilah Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego! Ia telah mengutus malaikat-Nya dan melepaskan hamba-hamba-Nya, yang telah menaruh percaya kepada-Nya..." (Daniel 3: 24-26 & 28)

Sumber : Jawaban.com

Share this article :

Setiap Persoalan selalu ada Harapan dan Jawaban. Hubungi kami sekarang !

Andre Pantauw 18 November 2018 - 21:09:52

Bahtera nuh

0 Answer

Agatha seow 15 November 2018 - 19:46:14

Saya ingin mengenal Tuhan lebih dalam, karena slam.. more..

1 Answer

anthony gaming 14 November 2018 - 21:08:06

peran roh kudus

0 Answer


Febby Regina Rista 3 November 2018 - 08:32:28
Saya mohon dukungan doa dari tementemen, saya saat... more..

Bella chandra 30 September 2018 - 11:51:26
Tuhan Yesus dengan kerendahan hati aku memohon unt... more..

brenda lenny wijayanti 27 September 2018 - 17:10:47
Semoga Tuhan Yesus membuka jalanku untukku ke Erop... more..

Andry Randa 25 September 2018 - 16:39:37
Tuhan Yesus, saat ini saya dan keluarga sedang men... more..

Banner Mitra Week 3


7222

advertise with us