Penyembah Sejati Tak Akan Lakukan Ini Dengan Dosa

Penyembah Sejati Tak Akan Lakukan Ini Dengan Dosa

Lori Official Writer
      708

Daniel 3: 17

Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja.

 

 

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 109; Lukas 21; Hakim-Hakim 5-6

Daniel 3: 8-30 mengisahkan tentang perjalanan iman Sadrakh, Mesakh dan Abednego.

Kamu yang tahu ceritanya pasti setuju kalau kisah mereka luar biasa bukan? Ketiga pemuda ini sangat dekat dengan Daniel dan ketiganya juga dikenal sebagai para penyembah yang gak mau kompromi dengan dosa. Kita bisa baca di pasal ini kalau mereka waktu itu harus mendapat hukuman dari raja Nebukadnezar karena gak mau menyembah patung Raja Nebukadnezar sendiri.

“Siapa yang tidak sujud menyembah, akan dicampakkan seketika itu juga ke dalam perapian yang menyala-nyala!” (ayat 6)

“Sesudah itu, Nebukadnezar memerintahkan dalam marahnya dan geramnya untuk membawa Sadrak, Mesakh dan Abednego menghadap. Setelah orang-orang itu dibawa menghadap raja..” (ayat 13).

Jadi, Sadrakh, Mesakh dan Abednego harus dihukum karena mereka gak mau menyembah patung raja. Tapi sebagai penyembah yang sejati dan percaya sepenuhnya pada kuasa Tuhan, mereka sama sekali gak gentar menghadapi hukuman itu. Mereka malah menyikapi hukuman itu dengan iman. 

“Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja.” (ayat 17) 

Kisah Sadrakh, Mesakh dan Abednego lewat bacaan hari ini adalah bukti bahwa kuasa kegelapan gak akan pernah berhenti bekerja untuk menghalangi orang-orang percaya yang rindu dan mau hidup dalam penyembahan yang intim dengan Tuhan.

Semakin kita berkomitmen, semakin besar pula tantangan yang kita hadapi. Orang Kasdim yang iri hati kepada ketiga pemuda Yahudi itu adalah gambaran dari kuasa kegelapan yang di masa-masa ini lagi gencar-gencarnya meyakinkan kita supaya kita mau berkompromi dengan iman kita kepada Tuhan. Sayangnya, banyak orang percaya yang masih tergoda dan kompromi bahkan meninggalkan Tuhan demi uang, jabatan maupun karena terlanjur cinta dengan seorang pria atau wanita.

Ketiga pria Yahudi itu dengan tegas menolak untuk menjawab dewa apa yang akan sanggup melepaskan mereka dari perapian itu.

“Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini…tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu,” kata mereka.

Waktu mereka menjawab 'kalau Tuhan pasti sanggup melepaskan', sebenarnya waktu itu mereka belum tahu persis apakah Tuhan benar-benar akan menolong mereka. Mereka hanya akan tahu waktu mereka menjalani hukuman itu.

 

Baca Juga: Berani Melawan Arus, 3 Pelajaran Iman yang Bisa Kita Petik dari Sadrakh, Mesakh & Abednego

 

Dan Raja Nebukadnezar pun menyuruh pasukannya untuk melemparkan Sadrakh, Mesakh dan Abednego ke dalam perapian yang menyala-nyala. Bayangkan, berapa tinggi suhu panas yang dihasilkan perapian itu?

Tapi karena iman dan komitmen mereka, Tuhan sendiri turun tangan untuk menyelamatkan mereka. Tindakan mereka untuk tidak kompromi dengan bujuk rayu dunia adalah harga yang harus mereka bayar mahal.

Itu adalah bentuk penyangkalan diri dan tindakan memikul salib yang Yesus maksudkan. Dia mau orang-orang percaya melakukan hal yang sama saat menghadapi tantangan dan risiko karena mempertahankan imannya.

Akhir dari kisah Sadrakh, Mesakh, Abednego ini terbilang menarik. Waktu Raja Nebukadnezar tahu kalau mereka masih hidup, dia segera mengeluarkan mereka dari perapian. Bukannya menghukum mereka dengan hukuman lain, dia justru memuji Tuhan yang mereka sembah dan yang menyelamatkan mereka.

“Berkatalah Nebukadnezar: “Terpujilah Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego! Ia telah mengutus malaikat-Nya dan melepaskan hamba-hamba-Nya, yang telah menaruh percaya kepada-Nya, dan melanggar titah raja dan yang menyerahkan tubuh mereka, karena mereka tidak mau memuja dan menyembah Allah mana pun kecuali Allah mereka.” (ayat 28)

Dalam hidup, kita juga pasti akan diperhadapkan dengan berbagai tantangan dan pergumulan hidup, tapi percayalah waktu kita bilang ‘tidak’ pada bujukan si iblis, justru pembelaan Tuhan akan kita alami. Sekalipun kita mungkin harus mati, Tuhan sendiri akan memperhitungkan iman dan keberanian kita untuk mati karena Dia.

Hari ini, apakah kamu belajar sesuatu tentang beriman di dalam Tuhan? Jawablah pertanyaan ini ke dirimu, "Apa yang bisa kamu lakukan saat tantangan besar terjadi dalam hidupmu?” Mari meminta kekuatan dan pertolongan Tuhan setiap waktu. Karena tanpa Tuhan kita gak bisa melakukan apa-apa.

Ikuti Kami