Jawablah Pertanyaan Ini Sebelum 'Memaafkan' Orang Lain

Jawablah Pertanyaan Ini Sebelum 'Memaafkan' Orang Lain

Lori Official Writer
10622
Memaafkan adalah cara terbaik untuk lepas dari kemarahan dan kebencian yang menggerogoti kehidupan seseorang. Bukan asal teori, sebab banyak orang yang telah mengalami perubahan dalam hidupnya setelah memaafkan orang lain. Seperti kisah Yusuf dalam Alkitab yang mau membuka hatinya untuk memaafkan saudara-saudaranya sekaligus menjadi awal pemulihan hubungan keluarga.

Kendati tak mudah, namun memaafkan pasti bisa Anda lakukan ketika Anda mengambil waktu untuk menjawab 5 pertanyaan ini, seperti dikutip dari Chickensoup.com.

1. Apakah Anda merusak hidup hanya karena kemarahan?

Ketika seorang ayah bernama Joe Rector mengundurkan diri sebagai pelatih di tim basket putranya – karena beberapa orang tua komplain tentang sedikitnya waktu extra game – seorang laki-laki bernama John Stern yang menggantikannya balas dendam dengan menempatkan putra Joe di kursi cadangan di sepanjang sisa musim. Joe pun mulai membencinya hingga bertahun-tahun. “Saya tak bisa memikirkan John Stern tanpa menjadi marah yang menyebabkan tekanan darah saya naik,” tulis Joe. Namun percakapan bersama putranya membuat Joe menyadari bahwa dia hanya menyakiti dirinya sendiri dengan kemarahan. Sementara putranya sudah melupakan kejadian itu sejak lama. “Waktu yang sangat panjang untuk melupakannya,” lanjutnya. Namun setelah ia memutuskan untuk memaafkan, ia merasakan seperti terlepas dari berton-ton beban yang melekat di pundaknya.

2. Apakah masa lalu yang masih melekat mencegah Anda untuk bergerak maju?

Ketika seorang wanita mendapati bahwa mantan suaminya didiagnosa kanker terminal, dia memutuskan untuk kembali dan membawa anak-anaknya lebih dekat kepada laki-laki sekarat itu untuk bisa merawatnya. Stres kembali hadir saat masa-masa kehidupan bersama mereka. Dalam keadaan sakit pun emosi dan kelakuan suaminya sangat menyakitkan dan penuh duka. Ia kembali mengingat rasa sakit di masa lalu dan secara fisik merusaknya. “Saya tahu saya harus melakukan sesuatu untuk memutus lingkaran ini,” ucap wanita tersebut. Lalu ia mulai memisahkan dirinya dari tindakannya, menerima laki-laki itu apa adanya dan memaafkan kesalahannya. “Akhirnya saya sudah berdamai dengan masa lalu kami. Itulah waktu untuk melepaskan sejarah kami, agar kami bisa bergerak maju”.

3. Apakah Anda melukai diri sendiri karena rasa bersalah?

Beberapa tahun lalu, pria bernama Mark Rickerby mencoba membantu kakaknya yang kecanduan narkoba dan mengarahkan hidupnya keluar dari kebiasaan merusak itu. Sayangnya, sang kakak tidak pernah bisa berubah. Ketika sang kakak meninggal, Mark mengatakan, “Saya merasa menyesal untuk dua alasan – Saya tidak pernah memaafkannya untuk rasa sakit yang orang tua dan saya rasakan, dan saya tak bisa memaafkan diri saya sendiri karena tidak berada di sana di masa-masa terakhirnya”.

Namun tak lama kemudian Mark bermimpi. Dalam mimpinya, tampak kakak Mark dan mulai berbicara meyakinkan bahwa Mark tidak melakukan sesuatu yang salah. Dalam mimpi itu Mark telah memaafkan sang kakak. Ketika dia terbangun, dia mengatakan ‘luka hati itu hanyalah sebuah mimpi’. Sejak saat itu, Mark telah merasakan kondisi hati yang lebih baik.

4. Apakah kebencian menawan Anda?

Selama Rwandan Genosida, seorang korban yang selamat bernama Immaculee Illibagiza menimbun dendam dan kebencian dalam hatinya terhadap para pembunuh yang memperkosanya. Namun melalui doa dan pengampunan, dia membuang semua kebencian itu. Namun rasa benci itu kembali muncul ketika mengetahui seluruh keluarganya dibunuh. Ketika dia berhadapan muka dengan para pembunuh di sebuah penjara lokal, dia berkata: “Saya memaafkanmu”. Para tahananpun terheran-heran. Namun Immaculee menjelaskan bahwa kebencian telah merenggut segala yang dia cintai. Memaafkan adalah segalanya yang tertinggal untuk diberikan”. Lalu dia pun meninggalkan penjara dengan hati yang telah terbebas dari kebencian dan kemarahan dan hidup sebagai wanita bebas dari beban masa lalu.

5. Apakah Anda berada dibalik kemarahan orang lain?

Kadang kala Anda akan merasa geram dengan perilaku dan kemarahan orang lain. Anda mulai mengasumsikan hal-hal negatif tentang orang tersebut. Lalu kita menarik diri darinya. Kondisi seperti ini yang kerap memposisikan Anda dibalik kemarahan orang lain. Tindakan itu seringnya keliru karena Anda tidak mengenal dirinya secara pribadi atau mengetahui penyebab dibalik apa yang dialaminya. Memaafkan dan menjadi orang yang mengerti adalah jalan keluar bagi Anda untuk lepas dari kemarahan tersebut.

Apakah Anda pernah menanyakan pertanyaan-pertanyaan ini kepada diri Anda sendiri? Jika belum mulai mengoreksi kembali masalah yang Anda hadapi dan melangkahlah untuk memaafkan orang lain

Sumber : Chickensoup.com/jawaban.com/ls

Ikuti Kami