Bagaimana Memaafkan Orang Yang Tidak Merasa Bersalah?

Bagaimana Memaafkan Orang Yang Tidak Merasa Bersalah?

Puji Astuti Official Writer
10051

Saya ingin membuat pengakuan. Saya adalah orang terakhir yang harus berkotbah tentang pengampunan. Saya memilih menulis ini dan sekarang berpikir apakah saya menyampaikan sesuatu yang lebih besar dari kapasitas saya. Saya adalah orang paling tidak memenuhi syarat untuk mengajar tentang mengampuni. 

Memaafkan adalah salah satu kelemahan terbesar saya. Saya berjuang untuk memaafkan diri saya sendiri dan berjuang untuk memaafkan orang lain. Saya tahu hal ini terdengar sangat klise - perempuan yang memendam dendam - dan saya minta maaf kepada gender saya karena stereotip ini. Saya tahu Anda mengklik judul artikel ini karena mungkin Anda juga bergumul untuk memaafkan seseorang dalam hidup Anda dan Anda pikir bahwa hal ini bisa membantu Anda. Yang bisa saya lakukan adalah membuka hidup saya dan memperlihatkan sebisa mungkin tentang perjuangan saya dan bagaimana saya mencoba mengatasinya. 

Saya bergumul untuk memaafkan seseorang; sebenarnya, beberapa orang. Mungkin hal itu akan lebih mudah jika orang itu mau minta maaf, tetapi mereka tidak melakukannya. Dan jujur saja, saya pikir mereka tidak akan pernah melakukannya. Mereka sepertinya tidak menyadari atau peduli bahwa mereka sudah melukai saya. Itulah yang membuat saya tidak bisa memaafkan mereka. Saya ingin mereka bertanggung jawab atas perbuatan mereka. Saya tahu bahwa itu bukan tanggung jawab saya, dan saya sungguh percaya bahwa hanya Tuhan yang berkuasa untuk mengubah hati seseorang. Saya bermasalah dengan mereka yang tidak mau minta maaf atau ingin pengampunan, mereka yang tidak melihat bahwa mereka melakukan sesuatu yang perlu dimaafkan, mereka yang terus hidup dalam keegoisan tanpa memikirkan dampaknya bagi orang-orang disekeliling mereka. Yesus berkata dalam Matius 18:22 bahwa kita harus mengampuni orang yang bersalah kepada kita, "Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali." berarti tidak ada waktu bagi kita untuk berkata bahwa kita tidak siap untuk mengampuni seseorang. Hati saya tidak pernah siap untuk mengampuni. Hati saya harus dirayu hanya untuk mempertimbangkan memaafkan seseorang dan hal itu masih sangat sulit.

Setiap kali saya mencapai titik saya akan memaafkan orang ini dan melepaskan kepahitan, sesuatu selalu terjadi dan saya menyadari bagaimana saya siap untuk mengangkat beban untuk tidak mengampuni lagi. Saya sudah bertanya kepada Tuhan berkali-klai untuk membuat saya bisa memandang orang itu dari sudut pandang Tuhan, karena saya tahu bahwa "Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu." (Matius 6:15), tetapii - saya mengungkapkan hal yang sangat nyata disini - hal itu sangat sulit dilakukan. Mungkin itu sebabnya saya perlu menulis hal ini. Saya perlu memaksa diri saya unutk fokus pada hal itu - untuk memikirkannya. Saya perlu mencari kebenaran Firman Tuhan dan menemukan semua hal yang bisa membuat saya mengampuni, karena tidak pernah dituliskan di Alkitab kalau saya tidak akan terkena dampak jika mereka tidak merasa bersalah. Bukan begitu cara kerjanya. 

Jadi, inilah yang saya coba lakukan : 

Saya perlu mengingatkan diri sendiri bahwa saya juga membutuhkan pengampunan. Kadang kala, saya harus membayangkan bawa semua orang memiliki tato yang besar di dahi mereka yang berkata, "Yesus mati untuk saya juga!"  Hal itu mengingatkan saya bahwa saya bukan satu-satunya orang yang layak menerima kasih dan pengorbanan Tuhan Yesus. Mungkin itulah yang terbai yang bisa saya lakukan, mengalihkan fokus kepada kekurangan saya. Dalam kitab Roma, Paulus bekata, "Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan.." (Roma 12:3). Dengan kata lain, saya tidak lebih baik dari mereka yang bergumul untuk memaafkan. Ketidakmampuan untuk mengampuni tidak lain bahwa orang itu merasa lebih baik dari orang lain. Hal itu benar, dan saya harus berhenti bertindak seperti itu. Sulit untuk terus kepahitan ketika mengingat bahwa Paulus saja berkata, dirinya adalah "orang paling berdosa" (2 Timotius 1:16).

Saya harus memaksa diri saya untuk sadar ketika saya mulai nyaman berada dalam kepahitan. Tidak ada untungnya menyimpan kepahitan. Walau demikian saya terus memegangnya erat-erat. Saya memegangnya seperti seorang anak yang menggenggam erat selimut kesayangannya yang membuatnya merasa aman. Namun apa yang saya pegang erat itu tidak membuat saya merasa aman, tetapi membuat saya terbakar. Saya perlu berhenti menjadikan tindakan orang lain sebagai alasan. Saya perlu berhenti berpura-pura kalau saya berhak bersikap demikian. Suatu hari kita semua akan mempertanggung jawabkan kehidupan kita dan saya tidak akan bisa mempertanggung jawabkan tindakan orang lain, hanya diri saya sendiri. Jadi saya tidak bisa menjadikan orang lain sebagai alasan. Tidak ada alasan untuk kepahitan tetap ada di dalam hati saya. Semua itu tergantung saya. 

Kalau saya tidak merasakannya (dimana hampir setiap saat), maka saya bertindak seolah-olah saya telah melakukannya. Saya tahu bahwa saya harus merasakannya. Namun jarak 12 inchi dari kepala sampai ke hati saya rasanya begitu jauh. Jadi, untuk sekarang saya bertindak seolah-olah saya telah memaafkan. Saya akan bertindak sebagaimana seharusnya. Saya akan terus berdoa untuk perubahan hati saya, saya akan terus menundukkan pikiran saya, dan saya berharap suatu hari saya tidak hanya berpura-pura merasa telah memaafkan. Pada saat itu, pikiran saya langsung tertuju pada Roma 12:9-21. saya membacanya ketika saya merasa sedikit kepahitan atau merasa benar atau ingin bergosip dan mengeluh. Hal itu membantu mengingatkan saya bahwa saya dipanggil untuk hidup "dalam perdamaian dengan semua orang!" dan untuk "kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!" Syukurlah Yesus tidak berpura-pura mengampuni kita. Syukurla kasih-Nya dan pengampunan-Nya itu murni, jika tidak dimana saya akan berada?

Saya harus ingat, ini bukan tetang mereka. Hal ini isunya adalah tentang SAYA. Saya masih bekerja keras untuk lebih baik lagi, sama seperti orang lain. Saya masih menyimpan kepahitan, tetapi saya aktif berdoa dan berusaha mengubah hati saya. Saya terus mengingatkan diri saya bahwa sikap saya bukan masalah orang lain selain diri saya sendiri. 

Tentu saja ada sebuah situasi dimana kita harus menyingkir. Mungkin saja mengampuni seseorang tetapi tidak mengijinkan orang itu hadir di dalam hidup kita lagi. Terkadang, hal itu sehat dan perlu dilakukan. Memaafkan bukan tentang orang lain. Pengampunan adalah tentang diri saya dan hati saya. Saya tahu harus sungguh-sungguh mengampuni seseorang ketika saya bisa memikirkan mereka tanpa merasa marah atau terluka lagi. Bahkan jika saya berkata, "Saya memaafkan kamu," mereka tidak perduli dan hal itu tidak berdampak bagi mereka. Selama hati saya berubah terhadap mereka, hal itulah yang bisa saya lakukan. 

Ada banyak referensi di Alkitab tentang pengampunan (pastilah). Jadi, saya akan meninggalkan Anda dengan daftar pendek ayat yang biasanya membantu saya mengingatkan diri mengampa mengampuni merupakan bagian penting dalam perjalanan saya bersama Tuhan. Saya tidak bisa biarkan hati saya direndam dalam kepahitan dan berpegang pada kebenaran Firman Tuhan adala satu-satunya jalan. 

Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu." ~ Markus 11:25

"Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu." ~ Matius 6:14-15

Berkatilah siapa yang menganiaya kamu, berkatilah dan jangan mengutuk! ~ Roma 12:14

Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu. ~ Efesus 4:32

Penulis : Rachel-Claire Cockrell, seorang isteri, penulis dan guru bahasa Inggris di sekolah menengah atas. Dia sangat bersemangat mengajar murid-muridnya dan melakukan yang terbaik untuk menteladankan kasih Kristus kepada anak-anak itu yang mungkin tidak bisa menemukannya di tempat lain. Blognya bisa dilihat di http://rachelclaireunworthy.blogspot.com/ 


Sumber : Crosswalk.com

Ikuti Kami