Kenakan Kaus

Kenakan Kaus "KILLER", T.J. Lane Terima Vonis Seumur Hidup

Yenny Kartika Official Writer
4916

T.J. Lane (18) akan menghabiskan sisa hidupnya di dalam penjara setelah hakim menjatuhkan hukuman kurungan penjara seumur hidup kepadanya atas kasus penembakan 3 orang murid di kantin Chardon High School, 27 Februari 2012 silam.

Pada Selasa (19/3), T.J. Lane mendengarkan vonis hakim dan juga pesan dari keluarga korban yang dibunuhnya, sembari mengenakan kaus bertuliskan “KILLER” (PEMBUNUH). Lane sempat melontarkan kata-kata kasar dan tidak senonoh, yang menunjukkan tidak adanya penyesalan sama sekali atas hasil perbuatannya.

“Sejujurnya, saya tidak mengira hal ini terjadi,” kata jaksa James Flaiz mengomentari tindakan Lane.

Anggota keluarga para korban mendapat kesempatan untuk menyampaikan tanggapan dan pesan kepada Lane. Menanggapi duka dan murka para anggota keluarga korban, Lane hanya tersenyum dan menganggukkan kepala, tanpa adanya perasaan bersalah.

Lane divonis penjara seumur hidup karena membunuh Daniel Parmertor (16), Demetrius Hewlin (16), dan Russell King Jr. (17). Pemuda asal Ohio, AS, ini menembak ketiganya di kantin Chardon High School. Lane masih berusia 17 tahun saat ia membawa pistol kaliber 22 milik pamannya ke sekolah Chardon. Ia menembak 10 kali dan menewaskan 3 orang murid.

Lane juga melukai tiga orang lainnya, termasuk Nicholas Walczak yang kini lumpuh dan masih menggunakan kursi roda serta Nate Mueller yang terkena serempet tembakan di bagian telinga.

“Sangat jelas bahwa saat penembakan dilakukan, Lane dalam keadaan terganggu, tidak waras, dan tidak kompeten. Dia merencanakan, mempersiapkan, dan mengeksekusi recananya sendiri,” jelas hakim. Hakim memutuskan hukuman penjara seumur hidup tanpa pembebasan bersyarat.

Menurut Associated Press, bukti menunjukkan bahwa Lane menderita halusinasi, psikosis, dan fantasi. Para investigator mengatakan bahwa Lane mengakui dirinya terkait dalam penembakan, namun dia tidak tahu mengapa dia melakukannya.

Lane bukan siswa Chardon High School, namun saat itu ia sedang berada di halte bus, hendak menuju ke sekolahnya di Lake Academy di Willoughby. Sementara saudara perempuan Lane, Sadie, adalah siswi Chardon High School dan sedang berada di kantin saat penembakan terjadi.

“Beberapa orang akan sulit untuk memahaminya. Meskipun demikian, saya mencintai saudara laki-laki saya, dan berharap bahwa apapun hukuman yang dia dapatkan nantinya, dia dapat menyentuh hidup orang-orang lain dengan cara yang positif, dari sudut pandang yang hanya dimiliki olehnya,” ujar Sadie kepada para wartawan.

Ketika tindakan dan keputusan yang keliru dibuat, kita perlu memahami latar belakang dan kondisi yang menyertainya. Tak ada asap jika tak ada api.

 

Baca juga artikel lainnya:

Kisah Nyata Jimmy: Tuhan Mengubah Hidup Para Napi

Guru Boleh Bawa Senjata ke Sekolah di AS

Kisah Nyata Fendi Samosir, Pria yang Gemar Keluar Masuk Penjara

Menjadi Teman yang Baik

Hanung Bramantyo: Antara Film Kontroversial dan Tayangan TV yang Positif


Sumber : berbagai sumber | yk

Ikuti Kami