Berbicara pengampunan kita semua pasti pernah diuji. Dalam bukunya "Facing Your Giants", Max LUcado , menceritakan bagaimana ketika beberapa orang Morania mengabarkan Injil kepada bangsa Eskimo, mereka mendapat kesulitan mencari padanan kata dalam bahasa setempat yang berarti pengampunan. Akhirnya mereka sampai pada pilihan 24 huruf yang sulit dan panjang ini: Issumagijoujungnainermik, yang bila diterjemahkan secara harafiah "tidak dapat berpikir tentang hal itu lagi." Sesulit kata itu diucapkan dalam bahasa Eskimo, sesulit itu juga pengampunan bagi setiap kita untuk dipraktekkan.
Sesuatu yang sulit akan mudah jika dipelajari, demikian pula dengan pengampunan. Kita tidak terbiasa mengampuni, tapi kita bisa belajar melakukannya. Seseorang sesaat setelah mengampuni mungkin berpikir, "Betapa bodohnya saya telah mengampuni orang itu." Mengampuni bukanlah kebodohan, tapi suatu keputusan yang dibuat secara sadar yang intinya memilih untuk memandang orang yang menyakiti kita dengan berbeda.
Pendapat lain mengatakan mengampuni berarti meneruskan kehidupan, tidak memikirkan hal itu lagi. Alkitab mencatat Yusuf sebagai teladan yang luar biasa dalam mengampuni saudara-saudaranya. Ia memberi nama Manasye pada anak sulungnya, yang artinya "Allah telah membuat aku lupa sama sekali kepada kesukaranku..." sebelum peristiwa pengampunan terjadi. Jadi ia tidak memikirkannya lagi sejak saat ia mengampuni.
Pengampunan adalah untuk diberikan tiap saat jika perlu. Apalagi Alkitab berkata bagaimana bisa kita yang menerima pengampunan, tidak mau mengampuni.
Biarlah pengampunan keluar dari hati Anda, dan jangan mengingatnya kembali.
Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu.
Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”