Memberi Dengan Tulus Hati

Renungan Harian / 29 May 2026

Memberi Dengan Tulus Hati
Lori Official Writer
      48

2 Raja-raja 4:10

"Baiklah kita membuat sebuah kamar atas yang kecil yang berdinding batu, dan baiklah kita menaruh di sana baginya sebuah tempat tidur, sebuah meja, sebuah kursi dan sebuah kandil, maka apabila ia datang kepada kita, ia boleh masuk ke sana."

 

Beberapa tahun lalu, saya bersama beberapa teman sedang melakukan misi ke suatu daerah. Di sana kami disambut hangat pendeta misionaris dan keluarganya yang melayani suku asli di daerah itu. Rumahnya sederhana, tepat di sebelah kandang lembu. Namun di sudut ruangan rumah itulah mereka membuka ibadah setiap minggu.

Yang saya selalu ingat adalah cara mereka menyambut kami. Kamar anak-anak mereka direlakan untuk kami bisa tidur nyaman, dan kami disuguhi makanan yang sangat nikmat. Kami bahkan bisa merasakan kehangatan di tengah keluarga ini. 

Ya, mereka tidak punya banyak, tetapi mereka memberi dengan sepenuh hati dan tanpa mengharapkan balasan.

Pengalaman itu seketika terlintas saat saya membaca kisah perempuan Sunem dalam 2 Raja-raja 4. Perempuan ini seorang yang kaya, berbeda dengan keluarga pendeta tersebut. Namun yang membuat saya tertarik adalah motivasi hati yang sama - ketika ia dengan sukacita menyambut Nabi Elisa tanpa menuntut imbalan apa-apa.

Perempuan Sunem ini berkata kepada suaminya, "Baiklah kita membuat sebuah kamar atas yang kecil yang berdinding batu, dan baiklah kita menaruh di sana baginya sebuah tempat tidur, sebuah meja, sebuah kursi dan sebuah kandil, maka apabila ia datang kepada kita, ia boleh masuk ke sana." (2 Raha-raja 4: 10)

Pemberiannya memang bukan sesuatu yang besar. Hanya tempat tidur, meja, kursi dan kandil. Tetapi nabi Elisa sangat berterima kasih dan menawarkan untuk membalasnya. "Sesungguhnya engkau telah sangat bersusah-susah seperti ini untuk kami." (ayat 13). Tetapi perempuan itu tidak meminta apa-apa, padahal ia tahu nabi itu bisa melakukan mukjizat.

Dua kisah dengan kondisi yang berbeda - satu memberi dari kekurangan, satu dari kelimpahan — tetapi keduanya datang dari hati yang sama yaitu melihat kebutuhan dan tidak menghitung untung rugi. Mereka memberi karena hatinya peka dengan pekerjaan Allah. 

Ada pelajaran berharga yang saya dapatkan dari dua kisah ini. Bahwa pemberian kita tidak selalu harus berupa sesuatu yang besar. Kadang pemberian kita bisa hanya sekadar menyediakan kamar tidur, makanan, waktu, tenaga maupun dukungan. Dan kita melakukannya karena kita tahu ada pekerjaan Tuhan yang harus dikerjakan.

Meski tidak mengharapkan imbalan, tetapi kita melihat bagaimana Tuhan justru memakai pemberian perempuan Sunem sebagai pintu anugerah-Nya yang baru.

Hari ini, mungkin ada di sekitar Anda seseorang yang sedang mengerjakan pekerjaan Tuhan atau sedang membutuhkan dukungan untuk sebuah tujuan besar bagi kehidupan bagi orang. Apakah Anda bersedia menjadi seperti keluarga pendeta yang menyambut kami atau perempuan Sunem yang melayani nabi Elisa?

Ini bukan tentang besarnya nilai pemberian Anda, tetapi tentang ketulusan Anda di dalam memberi apa yang Anda bisa berikan.

Selamat berpraktek. Tuhan Yesus Memberkati!

Apakah Anda rindu menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruslamat pribadi dalam hidup Anda?

Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu. Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”

Apakah Anda sudah mengucapkan doa ini?
Jawaban untuk Kamu! 😊
Halo, Sahabat Jawaban!
Kami ada untuk mendengar, menjawab, mendoakan dan mendampingi perjalanan kamu.

Apa yang bisa kami bantu hari ini?