1 Samuel 25:24
Ia sujud pada kaki Daud serta berkata: ‘Aku sajalah, ya tuanku, yang menanggung kesalahan itu.’
Shalom, selamat pagi saudara. Hari ini kita akan kembali belajar tentang kebenaran Firman Tuhan - yang akan menjadi penuntun Langkah kita hari ini.
Kita akan belajar dari satu kisah yang cukup familiar. Yaitu tentang seorang wanita dan istri pemberani sekaligus bijaksana: Abigail.
Abigail hidup bersama Nabal, suaminya yang digambarkan dalam Alkitab pribadi yang kasar, jahat kelakuannya, dan bebal (1 Samuel 25:3, 25). Nabal memiliki banyak harta, tetapi tidak memiliki hikmat. Ketika Daud dan orang-orangnya meminta bantuan setelah sebelumnya melindungi para gembala Nabal, ia justru membalas dengan hinaan. Kebodohan Nabal hampir menyeret seluruh keluarganya kepada kehancuran.
Namun Abigail maju untuk menyelamatkan seluruh keluarganya.
Sebagai seorang istri, Abigail tahu bahwa suaminya salah. Ia tidak membenarkan kebodohan Nabal. Tetapi ia juga tidak membiarkan suaminya dan seisi rumahnya binasa karena kesalahan itu. Di sinilah titik pengorbanan yang ia lakukan. Dia dengan berani membela keluarganya - tentu saja artinya dia sedang mempertaruhkan dirinya demi menyelamatkan orang yang bahkan tidak layak dibela.
Ia segera menyiapkan pemberian, pergi menemui Daud, lalu merendahkan diri di hadapannya. Lalu dengan perkataan yang lembut dan bijak, Abigail berkata kepada Raja Daud: “Aku sajalah yang menanggung kesalahan itu. Kita tahu padahal dia tak seharusnya menanggung kebodohan suaminya. Tetapi dia memilih menjadi penengah atas konflik tersebut dengan hikmat, keberanian, dan kerendahan hati.
Inilah kasih yang tidak menutup mata terhadap kesalahan, tetapi juga tidak serta merta membiarkan orang yang dikasihi menanggung kesalahannya sendirian. Sebagai seorang istri, Abigail menghidupi perannya sebagai pelindung rohani bagi rumah tangganya.
Dengan jawaban yang lemah lembut, Abigail berhasil meredakan murka Daud dan mencegah pertumpahan darah. Ia menjadi pembawa damai, seperti yang Yesus katakan dalam Matius 5:9, “Berbahagialah orang yang membawa damai.”
Saudara, di tengah kehidupan kita sehari-hari ada banyak sekali keadaan penuh konflik yang kita hadapi. Baik itu melibatkan pasangan, anak, anggota keluarga, sahabat, atau rekan kerja kita. Di sinilah peran harus berfungsi seperti apa yang dilakukan Abigail - dia tahu suaminya salah dan tidak membenarkan perbuatannya. Tetapi di sisi lain, dia juga tidak meninggalkan atau membiarkan. Sebaliknya, dia mengambil tindakan pengorbanan yang mendatangkan perdamaian bagi semua orang.
Action Praktis:
1. Apa pengorbanan paling berarti yang pernah Anda lakukan untuk melindungi orang-orang yang Anda kasihi?
2. Bagikan pengalaman Anda kepada orang-orang terdekat Anda agar mereka diberkati dan ikut melakukan tindakan serupa.
Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu.
Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”