Musim Kekeringan Inipun Akan Berlalu

Renungan Harian / 14 October 2026

Musim Kekeringan Inipun Akan Berlalu
Lori Official Writer
      174

Pengkhotbah 3: 1

"Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya."

 

 

Langit yang biasanya biru kini berwarna abu-abu kekuningan. Anak-anak berangkat sekolah dengan masker, para orangtua menutup rapat jendela rumah, dan sebagian orang terbangun di tengah malam karena serangan sesak di dada. 

Ya, kita menyaksikan realita bahwa sudah berbulan-bulan hujan tidak turun. Hutan dan lahan mengering, dan kondisi ini berunjung pada bencana berkepanjangan - kebakaran dimana-mana. Yang hilang bukan hanya pepohonan, tetapi udara bersih, kesehatan, aktivitas harian dan bahkan nyawa anak dan orangtua melayang. 

Kita tahu semuanya bermula dari satu situasi yang tidak bisa kita kendalikan yaitu pergantian "musim". Musim kemarau mungkin terasa sangat panjang, dan seakan tidak ada ujungnya. Wajar jika lelah, cemas dan mulai bertanya: "Berapa lama lagi, ya Tuhan?", seperti seruan Pemazmur (Mazmur 13: 2).  

Jika Anda berada di titik ini, itu adalah hal yang normal. Tidak apa-apa kalau Anda berteriak ke Tuhan dan mengakui perasaan Anda. Karena hanya Tuhan yang mampu mengendalikan musim. Dan kebenarannya, apa yang tidak bisa kendalikan mampu dikendalikan oleh Tuhan. Begitulah alur kehidupan kita berjalan - seperti disampaikan Pengkhotbah 3: 1 - bahwa untuk segala sesuatu ada masanya, dan bahkan Kejadian 8:22 menyampaikan dengan jelas bahwa, “Selama bumi masih ada, takkan berhenti-henti musim menabur dan menuai, dingin dan panas, kemarau dan hujan, siang dan malam."

Hari ini, mungkin kita berpikir kalau musim yang berujung bencana ini tak kunjung usai. Tapi percayalah, bahwa musim ini pasti akan berlalu. Di balik cakrawala yang tertutup asap dan debu, ada "musim semi" yang sedang menanti. Ingatlah bahwa sifat dasar dari sebuah musim adalah sementara. 

Yang Tuhan minta dari kita hari ini bukanlah menghentikan musim dengan kekuatan kita sendiri. Tetapi berserulah kepada-Nya sembari meminta kekuatan untuk tetap bertahan melalui masa-masa ini. Sama seperti Elia. Setelah musim kekeringan panjang di Israel, dia naik ke puncak Karmel, membungkuk dan berdoa. Dia tidak berhenti berdoa sampai pada akhirnya awan kecil sebesar telapak tangan muncul dan hujanpun turun (1 Raja-raja 18: 41-45). 

Saudara, di ujung sana Tuhan sedang menyiapkan musim semi yang menghasilkan udara yang bersih, tanah yang Kembali hijau dan anak-anak yang berlari-lari di lapangan tanpa harus mengenakan masker. Untuk setiap Anda yang saat ini sedang terdampak bencana ini secara langsung - saya percaya Anda bisa melewatinya dan akan menikmati pergantian musim berikutnya. Dan bagi Anda yang saat ini juga merasakan dampak musim kemarau yang berkepanjangan tetapi masih bisa merasakan ruang ber-AC yang dingin dan air yang bersih, mari berdoa untuk saudara-saudara kita. Bila perlu mari bergerak menyalurkan dukungan apapun yang bisa kita bagikan bagi mereka yang terdampak - karena uluran tangan Anda bisa menjadi awan kecil pertama yang sangat mereka nantikan. 

 

Pertanyaan Refleksi:

1. Di tengah "musim kering" atau pergumulan berat yang sedang Anda hadapi saat ini, ke mana atau kepada siapa Anda pertama kali mencari perlindungan dan kekuatan?

2. Bagaimana Anda meresponi setiap musim sulit yang sedang Anda hadapi?

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Apakah Anda rindu menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruslamat pribadi dalam hidup Anda?

Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu. Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”

Apakah Anda sudah mengucapkan doa ini?
Jawaban untuk Kamu! 😊
Halo, Sahabat Jawaban!
Kami ada untuk mendengar, menjawab, mendoakan dan mendampingi perjalanan kamu.

Apa yang bisa kami bantu hari ini?