Memutus Rantai Permusuhan
Kalangan Sendiri

Memutus Rantai Permusuhan

Lori Official Writer
      108

Matius 5:44

"Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu." 

 

Anda mungkin sudah mendengar berita tentang memanasnya perang antara Iran dan Amerika saat ini. Sama seperti perang-perang sebelumnya, kedua belah pihak tampak tidak mau kalah. Aksi saling serang terus terjadi—seolah tak peduli siapa pun dan berapa pun banyaknya korban yang akan jatuh di kedua sisi. Situasi seperti ini biasanya baru berhenti ketika salah satu pihak berhasil mencapai tujuannya, yaitu kemenangan.

Dalam konteks perang, aksi saling serang ini bisa disebut sebagai bentuk balas dendam, meskipun masing-masing pihak membenarkannya sebagai upaya pertahanan nasional demi menjaga kedaulatan negara. Namun, ketika konflik semacam ini terus dipelihara dan dibiarkan berkepanjangan, dampaknya justru menghadirkan kerugian yang semakin besar—bukan hanya bagi kedua negara yang terlibat, tetapi juga bagi dunia secara global.

Ketegangan dan peperangan juga banyak tercatat dalam Alkitab. Kerajaan demi kerajaan saling memperebutkan wilayah dan kekuasaan. Seolah-olah tidak ada kata “damai” dalam kamus mereka sampai pihak musuh menyerah dan kalah.

Namun, prinsip seperti itu tidak lagi berlaku bagi kita yang sungguh-sungguh menghidupi ajaran kasih Yesus. Dalam Matius 5:44, Yesus membawa cara pandang yang berbeda di dalam meresponi musuh, “Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.”

Perkataan ini merupakan bagian dari Khotbah Yesus di Bukit—sebuah ajaran yang merevolusi cara pandang kita terhadap musuh. Dalam Perjanjian Lama memang ada perintah untuk mengasihi sesama (Imamat 19:18), tetapi sering kali ditafsirkan secara terbatas, sehingga “musuh” dianggap boleh dibenci atau dibalas. Yesus melampaui batas pemahaman itu. Ia menegaskan bahwa setiap orang yang percaya kepada-Nya dipanggil untuk mengasihi musuh, mendoakan mereka, bahkan membalas kejahatan dengan kebaikan.

Prinsip ini diperkuat oleh kebenaran bahwa Tuhan sendiri berdaulat atas keadilan dan pembalasan. Dalam Roma 12:19 disampaikan, “Janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah.”

Balas dendam sering kali menjanjikan rasa keadilan. Namun pada kenyataannya, balas dendam justru memperburuk keadaan. Kekerasan yang dibalas dengan kekerasan hanya akan melahirkan kebencian baru—yang kemudian diwariskan dari generasi ke generasi.

Saudara, mungkin saat ini kita tidak berada dalam situasi perang balistik atau serangan rudal. Namun kita bisa mengalami “perang” dalam bentuk lain: perselisihan dengan pasangan, konflik dalam keluarga, pertengkaran dengan tetangga, perlakuan tidak adil dari atasan atau pemimpin gereja, bahkan menjadi korban dari tindakan orang lain. Dalam kondisi seperti itu, kita mungkin terdorong untuk membalas dengan cara yang sama. Kita ingin mereka merasakan apa yang kita rasakan.

Tetapi apakah itu benar-benar akan memulihkan hidup kita? Apakah itu akan membuat keadaan menjadi lebih baik? Sama seperti prinsip balas dendam dalam peperangan, tindakan membalas hanya akan membuat situasi semakin buruk.

Karena itu, penting bagi kita untuk merenungkan kembali perintah Yesus: “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.”

Tentu saja ini tidak mudah—tetapi bukan berarti tidak mungkin. Tuhan rindu kita hidup dalam kemerdekaan sejati. Artinya, kita sendiri bertanggung jawab untuk menjaga hati kita dari kebencian. Bagaimana caranya? Yesus menawarkan jalan yaitu dengan "mengampuni dan mendoakan" musuh kita.

Mari belajar melihat mereka sebagai manusia yang juga rusak dan membutuhkan pemulihan — bukan sekadar objek kebencian.

 

Refleksi Pribadi:

1. Apakah Anda merasa bahwa memaafkan atau mendoakan orang yang telah menyakiti Anda adalah hal yang paling sulit dilakukan saat ini?

2. Dari renungan pagi ini, pesan apa yang berbicara dalam hati Anda dan akan Anda lakukan secara nyata?

Ikuti Kami