Berhenti Meratapi “Zaman Dulu Lebih Enak”

Renungan Harian / 25 October 2026

Berhenti Meratapi “Zaman Dulu Lebih Enak”
Aprita L Ekanaru Official Writer
      129

"Janganlah mengatakan: ”Mengapa zaman dulu lebih baik dari pada zaman sekarang?” Karena bukannya berdasarkan hikmat engkau menanyakan hal itu." — Pengkhotbah 7:10

Belanja kebutuhan sehari-hari terasa semakin mahal. Penghasilan seolah hanya numpang lewat untuk membayar tagihan. Belum selesai memikirkan kebutuhan rumah, kita sudah dihadapkan pada tuntutan pekerjaan dan perubahan yang begitu cepat.

Di tengah kelelahan itu, muncul pikiran, “Dulu uang segini sudah bisa belanja banyak.” “Dulu anak-anak lebih menurut.” “Dulu hidup rasanya lebih tenang.”

Pernah mengucapkannya? Saat kehidupan terasa berat, masa lalu memang terlihat seperti tempat paling nyaman untuk kembali. Kita mengingat kemudahannya, lalu membandingkannya dengan semua kesulitan hari ini.

Namun, ingatan kita tidak selalu lengkap. Kita mengenang hanya kemudahannya, tetapi kadang melupakan kecemasan, perjuangan, dan air mata yang juga hadir di sana.

Ayat Pengkhotbah 7:10 mengingatkan kita untuk memeriksa sikap hati di balik perbandingan itu. Mengenang masa lalu bisa membawa syukur. Namun, terus menganggapnya lebih baik dapat membuat kita kehilangan kesempatan untuk menjalani masa kini dengan damai sukacita. Seperti pengemudi yang terus menatap kaca spion, kita bisa melewatkan apa yang membutuhkan perhatian di depan.

Tentu, kesulitan hari ini nyata. Kebutuhan semakin berat, perubahan melelahkan, dan banyak hal terasa sangat berbeda. Tuhan mengerti pergumulan kita. Kita boleh membawanya dengan jujur kepada-Nya. Namun, Tuhan yang menyertai kita dahulu, Dia jugalah Tuhan yang tetap hadir sekarang. Pertolongan-Nya tidak berhenti pada masa yang kita rindukan.

Saudaraku, mungkin hari ini kita perlu mengubah pertanyaan. Dari “Mengapa dulu lebih enak?” menjadi “Tuhan, apa yang Engkau ingin aku kerjakan dalam keadaan sekarang?”

Ada keluarga yang membutuhkan perhatian kita. Ada orang yang menantikan pertolongan. Ada kesempatan belajar dan melayani yang masih terbuka.

Doa:

Tuhan, terima kasih untuk kebaikan-Mu pada masa lalu. Ampuni kami ketika terlalu sibuk meratapi yang telah berlalu hingga mengabaikan hari ini. Engkau tahu kesulitan yang kami hadapi. Berilah kami hikmat untuk beradaptasi, hati yang bersyukur, dan keberanian untuk mengerjakan bagian kami. Tolong kami mengenali penyertaan-Mu dan tetap setia di zaman ini. Dalam nama Yesus, amin.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Apakah Anda rindu menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruslamat pribadi dalam hidup Anda?

Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu. Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”

Apakah Anda sudah mengucapkan doa ini?
Jawaban untuk Kamu! 😊
Halo, Sahabat Jawaban!
Kami ada untuk mendengar, menjawab, mendoakan dan mendampingi perjalanan kamu.

Apa yang bisa kami bantu hari ini?