1 Korintus 1: 18
"Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah."
Seorang pria dengan lantang menyampaikan bahwa Tuhan itu tidak nyata. Bertahun-tahun ia tidak lagi menginjakkan kaki di gereja, padahal semasa mudanya ia adalah pemusik yang aktif melayani. Kekecewaannya bermula ketika keluarganya menghadapi masalah berat — bukan rangkulan dan dukungan yang ia terima dari orang-orang Kristen di sekitarnya, melainkan penghakiman dan tuntutan. Sejak saat itu, konsepnya tentang Tuhan berubah total. Ia bukan hanya meninggalkan gereja, tetapi juga meninggalkan iman yang dulu ia yakini.
Banyak orang yang hidup dengan luka yang sama - dikecewakan oleh orang percaya, merasa doanya tidak dijawab sesuai harapan, atau mereka menantang pembuktian nyata tentang sosok Tuhan baru mau percaya.
Paulus pernah menuliskan pesan yang tajam kepada Jemaat Korintus yang hidup di tengah kota yang sangat menjunjung tinggi hikmat dan retorika Yunani. Ia menulis, "Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah." (1 Korintus 1: 18)
Bagi masyarakat terpelajar saat itu, gagasan tentang Allah yang mati disalib adalah sesuatu yang memalukan, bahkan dianggap dungu—mustahil ada Allah yang mahakuasa justru mati dengan cara paling hina yang diperuntukkan bagi penjahat. Paulus mengakuinya dan berkata bahwa "salib memang adalah satu kebodohan bagi mereka yang tidak mengenal Tuhan." Namun bagi mereka yang diselamatkan, salib adalah kekuatan Allah yang mengubah hidup.
Cara hidup ini Paulus gambarkan secara kontras di 1 Korintus 1:22-23, "Orang-orang Yahudi menghendaki tanda dan orang-orang Yunani mencari hikmat, tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan..." Artinya, penolakan terhadap salib bukan soal kurangnya bukti, melainkan soal cara pandang yang berbeda. Orang yang terluka dan kecewa sering kali menuntut Tuhan tunduk pada logika dan harapan mereka sendiri, sementara salib justru mengajarkan sebaliknya—bahwa kuasa Allah paling nyata terlihat justru dalam kelemahan dan penderitaan yang tampak tidak masuk akal bagi dunia.
Seperti luka yang dialami pria di atas, kalau kita boleh jujur bahwa banyak orang di masa ini mengalami kepahitan serupa. Karena itulah Yakobus 1:19-20 mengingatkan kita agar tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain. Kita tidak ingin menambah jumlah orang-orang yang meninggalkan Tuhan karena sikap kita sendiri. Sehingga kita perlu merefleksikan kembali bagaimana kita menghidupi iman di dalam Kristus di kehidupan sehari-hari kita — bahwa kita hadir menjadi cerminan kasih Kristus "merangkul, memotivasi, membangun dan menjadi sahabat".
Sebagai orang percaya adalah bagian kita untuk tetap setia memberitakan salib Kristus, meskipun dianggap kebodohan oleh dunia. Tetapi kita juga perlu menjaga cara hidup yang mencerminkan kasih Kristus yang sedang kita beritakan. Karena sekalipun kita fasih berkata-kata tentang iman, tanpa kasih kita hanya seperti gong yang berkumandang (1 Korintus 13:1).
Pertanyaan Refleksi:
1. Pernahkah sikap Anda, secara sadar atau tidak, membuat seseorang yang sedang terluka semakin menjauh dari Tuhan, alih-alih merasakan kasih-Nya?
2. Bagaimana Anda dapat menjadi cerminan kasih Tuhan terhadap sesama yang saat ini kecewa atau meragukan keberadaan Tuhan?
Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu.
Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!