Berani Menawar di Hadapan Tuhan

Renungan Harian / 7 October 2026

Berani Menawar di Hadapan Tuhan
Lori Official Writer
      111

Kejadian 18:23 & 25

"Abraham datang mendekat dan berkata: "Apakah Engkau akan melenyapkan orang benar bersama-sama dengan orang fasik?...Masakan Hakim segenap bumi tidak menghukum dengan adil?"

 

Ada momen di mana Tuhan sebenarnya bisa saja diam-diam bertindak tanpa perlu memberi tahu siapapun. Tapi inilah yang Dia lakukan sebelum menghancurkan Sodom - Dia memilih menyampaikan rencana-Nya kepada Abraham. Waktu Abraham tahu rencana itu, dia tidak hanya tinggal diam. Dia justru maju mendekat, berani menawar nasib kota itu di dalam doa syafaatnya. 

Tahukah Anda apa yang Abraham minta kepada Tuhan? Dia menyodorkan satu pertanyaan untuk mulai tawar menawar atas kota Sodom. Katanya, "Apakah Engkau akan melenyapkan orang benar bersama-sama dengan orang fasik?" Kita bisa membaca kisah ini bagaimana Abraham awalnya menawar Tuhan untuk menyelamatkan Sodom dengan lima puluh orang benar, lalu empat puluh lima, empat puluh dan seterusnya sampai akhirnya sepuluh orang benar. Abraham tidak menyerah dengan permohonannya sampai akhirnya Tuhan berkata, "Aku tidak akan memusnahkannya karena yang sepuluh itu." (Kejadian 18: 32)

Di sini, Abraham sedang tidak berdoa untuk kepentingan dirinya sendiri. Tetapi dia berdoa dengan sungguh untuk menyelamatkan sebuah kota penuh dosa - yang bahkan tidak pantas mendapat belas kasihan Tuhan. 

Inilah esensi dari doa syafaat — berdiri mencari keadilan Tuhan dan keselamatan atas manusia di tengah keadaan berdosa dan sulit. Abraham mengambil peran ini dan Tuhan mencari sosok seperti dia yang berdiri untuk menyelamatkan orang lain yang kehilangan keselamatannya - seperti dituliskan dalam Yehezkiel 22: 30. Satu orang yang mau berdiri dihadapan-Nya punya kuasa untuk menyelamatkan jiwa banyak orang.

Keberanian Abraham menawar juga menunjukkan karakter Allah yang sabar. Ia mendekat bukan dengan tuntutan, melainkan dengan kerendahan hati yang penuh keyakinan akan keadilan dan belas kasihan-Nya (1 Timotius 2:1, Yakobus 5:16). Doa Abraham memang tidak mengubah keputusan Allah menghancurkan Sodom, tetapi doa itu mampu menyelamatkan nyawa Lot dan keluarganya.

Hari ini, banyak dari kita hidup di tengah keluarga, kota, bahkan bangsa yang berada dalam krisis moral — jauh dari Tuhan, terjerat dosa dan mengejar semua pencapaian dunia. Mudah untuk kita memilih menutup mata, hanya menjadi penonton, atau bahkan menghakimi dari kejauhan. Tetapi yang Abraham lakukan lebih dari sekadar pengingat bahwa Tuhan mencari "orang yang berani berdiri dan berdoa syafaat" - menawar keselamatan jiwa orang lain dalam doa dan tak jemu-jemu menawar Tuhan untuk menyatakan belas kasihan-Nya.

 

Pertanyaan Refleksi:

1. Apakah Anda sudah seperti Abraham yang berdiri untuk keselamatan keluarga, komunitas, kota atau bangsa Anda?

2. Seberapa tekun Anda selama ini mendoakan orang lain yang berada dalam krisis moral atau rohani, sebelum menyerah dan hanya menghakimi perbuatan mereka?

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Apakah Anda rindu menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruslamat pribadi dalam hidup Anda?

Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu. Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”

Apakah Anda sudah mengucapkan doa ini?
Jawaban untuk Kamu! 😊
Halo, Sahabat Jawaban!
Kami ada untuk mendengar, menjawab, mendoakan dan mendampingi perjalanan kamu.

Apa yang bisa kami bantu hari ini?