Satu Kebaikan yang Mengubah Hidup

Renungan Harian / 23 July 2026

Satu Kebaikan yang Mengubah Hidup
Lori Official Writer
      71

Amsal 3:27-28

Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya. Janganlah engkau berkata kepada sesamamu: "Pergilah dan kembalilah,besok akan kuberi," sedangkan yang diminta ada padamu.

 

Coba bayangkan waktu Anda sedang duduk di pinggir jalan, kelelahan karena perjalanan yang jauh. Lalu tiba-tiba seseorang, yang bahkan tidak Anda kenal, menawarkan Anda sebotol air mineral dan berkata, "Hi, kelihatannya kamu lagi capek ya. Ini coba diminum dulu." Atau waktu Anda sedang membeli kebutuhan bulanan di supermarket, dan waktu akan membayar seseorang justru membayarkan semua belanjaan Anda dengan berkata, "Belanjaannya sudah dibayar ya. Semoga harimu menyenangkan."   

Ini adalah hal yang terlihat sangat sederhana. Tetapi ada sesuatu yang berubah dalam diri Anda - ada sukacita dan rasa kaget yang muncul bersamaan, perasaan Bahagia sekaligus terharu sekaligus bergumam, "Ini beneran? Kok ada orang sebaik ini?"

Itulah kuasa dari satu kebaikan. 

Penulis Amsal tidak sedang menulis teori — ia sedang menyampaikan sebuah prinsip hidup yang sangat praktis bahwa "Selama kamu mampu melakukan kebaikan, jangan menahannya." Kata "mampu" di sini penting untuk kita pahami. Ini bukan soal kekayaan atau kapasitas yang besar. Ini soal kesediaan untuk melihat kebutuhan sekitar dan meresponsnya dengan apa yang kita punya, entah waktu, perhatian, kata-kata, atau tindakan sederhana.

Yesus adalah gambaran paling sempurna dari prinsip ini. Ia tidak menunggu orang datang kepada-Nya dalam kondisi yang layak. Ia yang berjalan mendekati mereka, menyentuh orang kusta yang sudah bertahun-tahun tidak disentuh siapa pun (Markus 1:41), berbicara kepada perempuan Samaria yang sudah lama dikucilkan (Yohanes 4:7), berhenti di tengah kerumunan untuk memperhatikan satu orang yang tidak dilihat siapa pun. Dan setiap kali Ia melakukan itu, sesuatu dalam hidup orang tersebut berubah — bukan hanya kondisinya, tetapi cara mereka memandang diri mereka sendiri dan Tuhan.

Inilah yang Paulus maksud ketika ia menulis dalam Roma 15:2, "Setiap orang di antara kita harus mencari kesenangan sesama kita demi kebaikannya untuk membangunnya." Kebaikan yang sejati bukan sekadar membuat seseorang merasa nyaman sesaat, tetapi membangun dan menanam sesuatu di dalam hati orang lain.

Kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang sedang ditanggung orang lain yang kita temui hari ini. Tetapi hanya dengan kebaikan kecil yang kita berikan, bisa sangat mengubah hari dan suasana hati mereka atau bahkan mengembalikan harapan mereka akan hidup.

Saudara, kita tidak perlu melakukan satu aksi besar yang melibatkan banyak orang untuk menyentuh hidup orang lain. Kita bisa melakukannya sesederhana hadir dan membagikan sesuatu yang kita punya dari hati yang paling tulus.

 

Action Praktis:

Hari ini saya menantang Anda untuk memperhatikan seseorang di sekitar Anda - mungkin itu rekan kerja, tetangga atau seseorang yang dating ke rumah untuk membantu. Berikan mereka sesuatu yang bisa mendatangkan sukacita dan berkat yang bisa mengubah hari mereka.

Selamat berpraktek. Tuhan Yesus Memberkati!

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Apakah Anda rindu menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruslamat pribadi dalam hidup Anda?

Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu. Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”

Apakah Anda sudah mengucapkan doa ini?
Jawaban untuk Kamu! 😊
Halo, Sahabat Jawaban!
Kami ada untuk mendengar, menjawab, mendoakan dan mendampingi perjalanan kamu.

Apa yang bisa kami bantu hari ini?