Evangelical Asia menyiapkan 7 gerakan untuk mendorong gereja-gereja di Asia semakin serius melakukan pemuridan. Gerakan ini disampaikan oleh Dr. Bambang Budijanto, Sekretaris Umum Asia Evangelical Alliance, setelah penutupan Asia Conference on Church & Mission (ACCM) 2026 di Alabang, Metro Manila, Filipina.
Konferensi tersebut diikuti 210 delegasi dari 25 negara dan menjadi kelanjutan dari rangkaian pertemuan “Disciple or Die” yang telah berlangsung sejak 2024.
Jika dua pertemuan sebelumnya lebih banyak membangun pemahaman bersama tentang pemuridan, ACCM 2026 diarahkan sebagai langkah untuk membawa konsep tersebut ke dalam tindakan nyata di gereja lokal.
Budijanto menilai gerakan ini telah memperoleh dukungan yang lebih luas dari para pemimpin evangelical di tingkat nasional. Setelah dua tahun berjalan, mereka mulai memiliki pemahaman dan semangat yang sama bahwa pemuridan tidak boleh berhenti sebagai tema konferensi, tetapi harus menjadi kehidupan gereja.
BACA JUGA: PGLII Bangun Kolaborasi dengan CBN Indonesia, Dorong Gereja Muridkan Anak dari Keluarga
Berikut 7 gerakan yang disiapkan Evangelical Asia untuk mendorong gereja melakukan pemuridan.
1. Menjaga momentum pemuridan
Gerakan pertama adalah menjaga momentum agar semangat pemuridan tidak berhenti setelah konferensi selesai. Evangelical Asia berencana terus mengadakan pertemuan regional setiap tahun untuk memperkuat arah bersama. Pertemuan berikutnya bahkan sudah disebut sebagai “Disciple or Die 4.0.”
2. Menyebarkan visi ke tingkat nasional
Setiap aliansi evangelical nasional didorong untuk aktif menyebarkan visi pemuridan di negaranya masing-masing. Mereka tidak hanya menunggu arahan dari tingkat regional, tetapi diharapkan mengadakan acara yang dapat menginspirasi gereja-gereja lokal untuk kembali melihat pemuridan sebagai panggilan utama.
3. Memperlengkapi gereja dan para pemimpin
Evangelical Asia juga menyiapkan program pelatihan selama tiga setengah hari. Program ini mencakup penyampaian visi, pelatihan praktis bagi mentor pemuda, penggerak pemuridan keluarga, dan para pendeta. Di bagian akhir, peserta juga akan dilatih menjadi pelatih agar gerakan ini dapat diteruskan ke lebih banyak gereja.
BACA JUGA: Urgent Pendidikan Agama Kristen di Sekolah Dasar! Superbook for School Jawab Kebutuhan Ini
4. Menyediakan sumber daya pemuridan
Gerakan keempat adalah menyediakan alat, materi, dan panduan bagi gereja-gereja yang ingin menjalankan pemuridan. Sumber daya ini disiapkan untuk membantu gereja bergerak lebih terarah, terutama bagi mereka yang sudah memulai tetapi membutuhkan dukungan praktis.
5. Mengukur perkembangan gereja
Budijanto menekankan pentingnya pengukuran dalam gerakan ini. Menurutnya, tanpa pengukuran, perkembangan sulit dilihat. Karena itu, Evangelical Asia ingin membangun sistem pemantauan untuk melihat apakah gereja benar-benar bergerak dalam proses pemuridan, bukan hanya mengikuti acara.
6. Mendampingi gereja yang sedang berproses
Tidak semua gereja langsung mencapai target sebagai gereja pembuat murid. Karena itu, gerakan ini juga memberi perhatian kepada gereja dan pemimpin yang masih berada dalam perjalanan. Mereka tetap perlu didukung, dikuatkan, dan diakui agar terus melangkah.
7. Memperkuat kolaborasi antar gereja
Gerakan terakhir adalah memperkuat kerja sama antar gereja dan aliansi evangelical nasional. Kolaborasi ini didukung melalui platform digital bernama DCAR, yang digunakan untuk membantu koordinasi dan mencatat perkembangan gereja dalam proses pemuridan.
BACA JUGA: 7 Teknologi Kristen Ini Diprediksi Mengubah Cara Gereja Beribadah di 2026
Budijanto menegaskan bahwa aliansi evangelical nasional tidak cukup hanya menjadi koordinator kegiatan. Mereka juga harus menjadi pelaku pemuridan, dimulai dari kepemimpinan mereka sendiri.
Ia berharap gerakan ini dapat menolong gereja-gereja di Asia kembali kepada rancangan awalnya sebagai komunitas yang menghasilkan murid Kristus. Bagi Budijanto, gereja yang sehat akan membawa dampak yang lebih besar bagi keluarga, komunitas, dan bangsa.
Pemuridan adalah inti Amanat Agung yang Yesus berikan kepada gereja. Karena itu, kembalinya gereja untuk fokus membuat murid harus disambut dengan antusias. Ini menjadi langkah penting agar pelayanan tidak berhenti pada kegiatan atau jumlah kehadiran, tetapi menghasilkan jemaat yang bertumbuh dalam Kristus, hidup dalam firman, dan membawa dampak bagi keluarga, komunitas, serta bangsa.
Sumber : christiandaily
Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu.
Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”