Bayangkan sebuah wadah kecil, hanya sebesar telapak tangan, berisi minyak yang hampir habis. Dipegang oleh seorang janda yang hampir kehilangan segalanya. Secara logika, itu adalah akhir. Tidak cukup untuk bertahan, apalagi menyelesaikan masalah besar. Tapi justru dari benda kecil itulah sesuatu yang tak terbayangkan terjadi. Dan inilah bagian yang sering terlewat: yang terlihat hampir habis, ternyata tidak pernah benar-benar kurang.
BACA JUGA: Rahasia yang Selama Ini Terlewat dari Perumpamaan 10 Gadis
Wadah itu disebut buli-buli. Banyak orang membayangkannya sebagai guci besar, padahal sebenarnya sangat kecil. Dalam bahasa Ibrani disebut pak, sebuah wadah yang bisa digenggam satu tangan. Bentuknya bulat dengan leher sempit untuk mengontrol tetesan minyak dan menjaga isinya. Biasanya digunakan untuk menyimpan minyak zaitun, parfum, atau obat hal yang sedikit, tetapi bernilai tinggi.
Buli-buli bukan simbol kelimpahan. Justru sebaliknya, ini adalah tempat menyimpan sisa terakhir seseorang.
Dalam 2 Raja-raja 4 ayat 1–7, diceritakan seorang janda yang hidupnya di titik paling sulit. Suaminya meninggal, hutang belum lunas, dan kedua anaknya terancam diambil sebagai pembayaran. Dalam keadaan seperti itu, ia datang kepada Nabi Elisa. Jawaban janda ini sederhana, bahkan terasa pahit, “Aku tidak punya apa-apa… kecuali sebuah buli-buli berisi minyak.”
Ia merasa tidak punya apa-apa, padahal masih ada sesuatu yang tersisa. Tekanan hidup membuatnya lebih mudah melihat kehilangan daripada apa yang masih dimiliki.
Elisa tidak langsung memberi mukjizat. Ia memberi instruksi yang tidak biasa. Janda itu diminta meminjam bejana kosong sebanyak mungkin dari tetangganya, lalu masuk ke rumah dan mulai menuangkan minyak dari buli-buli kecil itu.
Janda itu taat. Ia mengumpulkan bejana, masuk, menutup pintu, lalu mulai menuangkan. Yang terjadi kemudian di luar akal. Minyak itu terus mengalir. Satu bejana penuh, lalu berikutnya, lalu berikutnya lagi. Sampai semua bejana terisi. Minyak itu berhenti tepat saat tidak ada lagi bejana.
Di sinilah detail penting yang sering dilewatkan. Mukjizat itu tidak berhenti karena minyaknya habis. Ia berhenti karena tidak ada lagi tempat untuk menampungnya. Artinya, yang membatasi bukan jumlah minyak, tetapi kesiapan untuk menerima.
BACA JUGA: Bukan Karena Uang Besar, Ini Alasan Yudas Mengkhianati Yesus
Kisah ini terasa sangat dekat dengan kehidupan sekarang. Saat menghadapi tekanan, sering kali kita fokus pada apa yang kurang. Kita merasa sudah tidak punya apa-apa lagi. Padahal mungkin masih ada sesuatu yang tersisa, walau terlihat kecil.
Mungkin itu satu kemampuan, satu kesempatan, satu relasi, atau sesuatu yang hampir kita abaikan. Seperti buli-buli itu, terlihat sedikit, hampir habis, tapi ternyata cukup untuk menjadi awal dari sesuatu yang besar.
Maka pertanyaan yang perlu direnungkan sederhana: apakah kita terlalu cepat mengatakan “tidak ada apa-apa,” padahal yang tersisa sudah cukup untuk memulai langkah berikutnya?
Tonton videonya di bawah ini:
Sumber : Jawaban ChannelIkuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu.
Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”