Setiap bulan Juni, dunia kembali ramai membicarakan Pride Month. Di media sosial, berita, hiburan, kampanye publik, hingga ruang-ruang pendidikan, isu tentang gender, orientasi seksual, dan identitas diri sering menjadi topik yang tidak terhindarkan.
Sebagian orang memandang Pride Month sebagai perayaan kebebasan dan penerimaan diri. Namun bagi orang Kristen, momen seperti ini justru menimbulkan pertayaan, “Bagaimana seharusnya orang percaya merespons pergumulan gender dan seksualitas di tengah dunia yang semakin terbuka terhadap berbagai pandangan?”
Di satu sisi, orang Kristen dipanggil untuk setia kepada firman Tuhan. Di sisi lain, kita juga dipanggil untuk mengasihi sesama manusia. Karena itu, respons yang tepat bukanlah kebencian, ejekan, atau kemarahan. Namun, respons yang tepat juga bukan kompromi terhadap kebenaran Alkitab.
BACA JUGA: Bergumul Dengan LGBTQ di Pride Month? Masih Ada Harapan Bagi Anda yang Ingin Kembali
Kita perlu belajar menjawab isu ini dengan firman Tuhan, hati yang jernih, dan kasih Kristus yang nyata agar setiap orang yang sedang bergumul dapat merasakan kasih Allah, tanpa kehilangan arah kepada kebenaran-Nya.
Kembali kepada Rancangan Allah
Alkitab mengajarkan bahwa manusia tidak diciptakan dengan kebetulan. Manusia diciptakan oleh Allah dengan tujuan, nilai, dan identitas. Dalam Kejadian 1:27 tertulis bahwa Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya; “laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.”
Ayat ini menjadi dasar penting dalam iman Kristen mengenai martabat dan identitas manusia.
Dari sudut pandang Alkitab, laki-laki dan perempuan bukan sekadar kategori sosial yang dibentuk oleh budaya. Keduanya adalah bagian dari rancangan penciptaan Allah. Allah menciptakan manusia dengan tubuh, jenis kelamin, dan tujuan yang tidak terpisah dari kehendak-Nya. (Mazmur 139:13-14)
Karena itu, ketika orang Kristen berbicara tentang gender, kita tidak sedang berangkat dari opini pribadi atau tradisi semata, melainkan dari keyakinan bahwa Allah adalah Pencipta manusia.
BACA JUGA: Pelangi, Simbol Kaum LGBT atau Simbol Janji Tuhan dalam Kekristenan?
Kejadian 2:18–24 juga menunjukkan bahwa laki-laki dan perempuan diciptakan dengan berbeda, tetapi saling melengkapi. Perbedaan itu bukan untuk saling merendahkan, melainkan untuk menyatakan keindahan rancangan Allah.
Dalam konteks pernikahan, laki-laki dan perempuan dipersatukan menjadi satu daging. Pola ini kemudian ditegaskan kembali oleh Tuhan Yesus dalam Matius 19:4–6, ketika Ia berkata bahwa sejak semula Allah menjadikan manusia “laki-laki dan perempuan.”
Dengan demikian, bagi orang percaya, identitas manusia tidak bisa dilepaskan dari rancangan Allah sejak penciptaan. Dunia boleh menawarkan berbagai cara pandang baru tentang identitas dan seksualitas, tetapi firman Tuhan tetap menjadi dasar utama bagi orang Kristen dalam memahami siapa manusia dan untuk apa manusia diciptakan.
Kebenaran Tidak Perlu Disampaikan dengan Kebencian
Namun, memegang kebenaran Alkitab tidak berarti kita boleh bersikap kasar terhadap orang yang memiliki pergumulan berbeda. Sayangnya, dalam banyak topik tentang gender dan seksualitas, respons sebagian orang Kristen justru terdengar penuh kemarahan.
Sumber : Jawaban.com
Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu.
Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”