Stefanus Rohman dulu berpikir bahwa mendidik anak dengan suara keras adalah hal yang wajar. Sebagai seorang ayah dari dua anak laki-laki berusia 14 dan 10 tahun, ia merasa bahwa ketegasan perlu ditunjukkan agar anak-anak mau mendengar nasihat orang tua.
Ketika anak tidak merespons, tidak mendengarkan, atau tidak melakukan apa yang diarahkan, Stefanus mudah terpancing emosi. Nada bicara meninggi. Kemarahan keluar. Bahkan, ia sempat menganggap cara seperti itu sebagai bagian dari didikan.
“Saya pikir itu supaya anak menurut kepada orang tua,” begitu kira-kira pemahamannya dulu.
Namun, cara pandang itu mulai berubah ketika Stefanus dan istrinya mengikuti The Parenting Project (TPP) di gerejanya, GPDI Kedesen. Awalnya, ia mengikuti program ini seperti kegiatan biasa, tetapi sejak pertemuan pertama, Stefanus merasa ada sesuatu yang menggerakkan hatinya.
BACA JUGA: Dengan Aplikasi CBN Disciple, Mengajar di Sekolah Minggu Menjadi Lebih Mudah dan Seru
TPP membuatnya melihat kembali pola asuh yang selama ini ia jalani. Ia mulai sadar bahwa mendidik anak bukan sekadar membuat mereka patuh, tetapi menuntun mereka dengan kasih, kesabaran, dan keteladanan.
Salah satu pelajaran yang paling membekas baginya adalah bahwa orang tua seperti “panggung” di hadapan anak-anak yang ia pelajadi di modul pertama, Menjadi Teladan.
“Orang tua ternyata menjadi panggung di depan anak-anak. Apa yang orang tua lakukan ternyata menjadi tontonan anak-anak,” ungkap Stefanus
Kesadaran ini membuat Stefanus mulai memandang dirinya bukan hanya sebagai ayah yang memberi aturan, tetapi sebagai teladan yang sedang membentuk kehidupan anak-anaknya.
Dari beberapa modul yang ia ikuti, pelajaran tentang Menjadi Teladan dengan kasih menjadi bagian yang paling menyentuh. Stefanus belajar bahwa kasih bukan hanya soal memenuhi kebutuhan materi. Kasih juga terlihat dari sikap, perhatian, ketulusan hati, dan cara orang tua merespons anak dalam keseharian.
BACA JUGA: Saya Pergi 14 Tahun, Tapi Ternyata Bukan Uang yang Paling Dibutuhkan Anak – Kisah Sudarti
“Kasih itu tidak hanya sekadar memberi secara materi kepada anak-anak. Ternyata kasih harus diterapkan dari orang tua dengan menunjukkan sikap, perhatian, dan ketulusan hati,” ungkap Stefanus.
Perubahan itu tidak terjadi seketika. Stefanus jujur mengakui bahwa ia masih berproses. Kadang emosi masih muncul. Kadang nada suara masih meninggi. Namun sekarang, ada suara dalam hatinya yang mengingatkan, “Tidak harus seperti ini.”
Ia mulai belajar menasihati anak dengan lebih lembut. Ketika memberi batasan, seperti melarang anak bermain terlalu larut malam atau mengingatkan tentang pergaulan, ia tidak lagi hanya memerintah. Ia berusaha memberi pemahaman dengan lebih sabar.
Dampaknya mulai terasa. Anak-anak menjadi lebih mendengarkan. Mereka lebih mudah menerima arahan ketika ayahnya berbicara dengan tenang.
Stefanus pun menyadari bahwa kelembutan tidak membuat orang tua kehilangan wibawa. Justru dengan kasih, nasihat lebih mudah sampai ke hati anak.
“Saya memberikan pemahaman kepada anak-anak dengan cara yang lebih lembut, lebih sabar lagi, sehingga anak-anak lebih mendengarkan,” ungkap Stefanus.
BACA JUGA: Ketika Seorang Istri Mengandalkan Tuhan, Keluarganya Dipulihkan Perlahan
Bagi Stefanus, TPP bukan hanya kelas parenting. Ini adalah proses pembentukan hati orang tua. Ia dan istrinya kini berkomitmen untuk terus mengikuti modul-modul berikutnya dan menerapkan pelajaran itu dalam keluarga.
Melalui The Parenting Project, keluarga Stefanus belajar bahwa perubahan besar sering dimulai dari keputusan sederhana, ketika orang tua mau dibentuk terlebih dahulu.
Mari dukung The Parenting Project agar semakin banyak orang tua diperlengkapi untuk mendidik anak dengan kasih, kesabaran, dan hikmat Tuhan. Melalui donasi Anda, lebih banyak keluarga dapat mengalami pemulihan relasi, membangun komunikasi yang sehat, dan menciptakan rumah yang aman bagi anak-anak untuk bertumbuh. Setiap dukungan menjadi bagian dari perubahan nyata bagi generasi berikutnya.
Sumber : Jawaban.com
Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu.
Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”