Tidak semua orang menemukan Tuhan di saat segalanya baik-baik saja. Bagi Ibu Ineu Octa, justru titik terendah dalam hidupnya menjadi awal dari perjumpaan yang mengubah segalanya.
Awalnya, ia bukan berasal dari latar belakang Kristen. Namun sejak masa SMA, ada rasa penasaran yang perlahan tumbuh. Ia melihat teman-temannya yang tetap tenang meski dihina karena iman mereka. Ia juga merasakan sesuatu yang berbeda saat mendengar lagu-lagu rohani dan mengikuti persekutuan. Ada kelegaan yang sulit dijelaskan, terutama ketika didoakan, sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
BACA JUGA: Saldo Ludes dalam Sekejap: Kisah Ibu Helen Jadi Korban Penipuan Berkedok Pajak
Namun perjumpaan itu belum langsung membuatnya percaya.
Hingga suatu hari, badai kehidupan datang tanpa diduga. Masalah ekonomi keluarga yang besar menimpanya saat masih kuliah. Tekanan demi tekanan membuatnya merasa terpojok, tak mampu membantu, tak tahu harus ke mana, dan tak punya tempat bersandar. Ia menyimpan semuanya sendiri, hingga akhirnya mencapai titik paling gelap dalam hidupnya.
Di malam itu, keputusasaan hampir membuatnya mengambil keputusan yang fatal. Namun sesuatu terjadi.
Sebelum semuanya terjadi, ia merasakan dorongan dalam hati untuk beristirahat. Malam itu, melalui mimpi, ia melihat sebuah terang yang luar biasa. Dari terang itu, muncul sosok yang ia kenali, Yesus. Tanpa sepatah kata pun, Yesus hanya mengulurkan tangan. Ia ragu. Ia menolak. Namun sebelum pergi, Yesus tersenyum.
Senyuman itu mengubah segalanya.
Dalam sekejap, beban yang selama ini menghimpit terasa hilang. Hatinya yang kacau menjadi damai. Ia bangun keesokan harinya dengan perasaan ringan yang belum pernah ia alami sebelumnya, meski masalahnya belum selesai.
Namun perjalanan tidak berhenti di sana. Ia masih bergumul dalam kebimbangan, bahkan sempat memilih untuk menjadi agnostik. Hingga pada akhirnya, melalui suara yang jelas dalam hidupnya, ia diperhadapkan pada satu pilihan, ikut Tuhan atau tetap pada jalan lama.
Dengan hati gemetar, ia memilih untuk percaya.
Sejak saat itu, hidupnya tidak pernah sama lagi. Ia mengalami perubahan, belajar taat, mengampuni, dan berjalan dalam iman, sekalipun tidak mudah. Bahkan dalam proses panjang mengampuni, ia merasakan bahwa bukan kekuatannya yang bekerja, melainkan Tuhan yang memampukan.
Hari ini, Ibu Ineu berdiri sebagai bukti bahwa dalam kesesakan, Tuhan bisa menjadi jawaban yang nyata, bahkan satu-satunya yang sanggup memberi damai sejati.
BACA JUGA: 9 Tahun Menanti Keturunan, Diremehkan, Hingga Akhirnya Tuhan Genapi Janji-Nya
Bagaimana pengalaman lengkap Ibu Ineu saat berada di titik terendahnya? Apa yang sebenarnya terjadi ketika ia hampir menyerah? Tonton kesaksian selengkapnya di video di bawah ini dan temukan harapan di tengah pergumulan hidupmu.
Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu.
Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”