Dalam lima bulan, Erna Juniarti mengalami kehilangan yang luar biasa. Ia kehilangan sang Suami dan kedua anaknya kurang dari setahun.
Suami yang selama ini menjadi sandaran hidupnya pergi lebih dulu. Tidak lama kemudian, anak perempuannya menyusul. Lalu anak laki-lakinya, satu-satunya yang tersisa dan selama ini mencoba menguatkannya, juga pergi.
Bagi Erna, kehilangan itu meninggalkan duka yang amat dalam dan membuat hidupnya runtuh dalam waktu yang terlalu singkat.
Sebelum semua itu terjadi, hidup Erna terasa begitu lengkap. Ia pernah menjadi penari Jawa Barat, menikah dengan seorang produser sekaligus arranger musik, dan dikaruniai sepasang anak.
BACA JUGA: Ceritanya Viral di TikTok, Mau Bunuh Diri Lalu Ditolong Yesus
Keluarga mereka cukup hangat dengan ekonomi yang cukup, serta kasih suami dan anak-anaknya yang membuat hidupnya terasa nyaman.
Kehilangan yang Datang Bertubi-tubi
Namun semuanya berubah ketika satu per satu dari keluarganya meninggal dunia. Sang suaminya tiba-tiba koma dan akhirnya meninggal dunia. Kepergian itu meninggalkan luka besar, terutama bagi anak perempuannya yang masih berusia 13 tahun. Hampir setiap malam, sang anak menangis karena ingin memeluk ayahnya.
“Mah, pengin peluk Ayah,” kenang Erna menirukan ucapan anaknya.
Erna berusaha kuat, meski hatinya sendiri sebenarnya sudah runtuh. Sampai akhirnya, anak perempuannya juga meninggal. Duka itu membuat Erna semakin kehilangan arah. Ia tidak bisa makan, tidak bisa minum, dan hidup dalam kegelisahan yang terus menekan batinnya.
Di tengah kehancuran itu, anak laki-lakinya sempat menjadi penopang baginya. Tapi ternyata, ia juga menyimpan luka yang tidak terlihat. Ia tidak bisa menerima kepergian adiknya. Perlahan kondisinya menurun, hingga akhirnya ia pun meninggal dunia.
BACA JUGA: 10 Kebiasaan Sederhana yang Bikin Hidup Kamu Terasa Jadi Lebih Damai
“Lima bulan itu, saya menguburkan tiga orang yang saya sayangi,” ungkap Erna.
Suara yang Menghentikan Niat Terakhirnya
Kepergian semua orang yang ia kasihi membuat Erna merasa tidak lagi punya alasan untuk hidup hingga akhirnya ia bersiap untuk mengakhiri hidupnya. Tepat sebelum ia melakukan aksinya, ia mendengar suara anak perempuannya yang sudah tiada dengan sangat jelas,
“Tiba-tiba saya mendengar suara yang sangat jelas. Bukan bisikan, tetapi seperti teriakan anak perempuan saya. ‘Ma, cepat hubungi gereja. Ma, hubungi gereja.’ Dua kalimat itu membuat saya tersadar,” cerita Erna.
Pisau yang ia pegang terjatuh. Ia bingung, takut, sekaligus bertanya-tanya. Mengapa anaknya menyuruhnya menghubungi gereja? Apa yang sebenarnya ingin Tuhan tunjukkan lewat suara itu?
Saat itu, Erna belum mengenal Tuhan Yesus secara pribadi. Gereja bukan tempat yang akrab baginya, dan iman kepada Kristus belum pernah menjadi bagian dari hidup keluarganya.
BACA JUGA: Sekalipun Berjalan dalam Lembah Kekelaman, Hanya Satu yang Perlu Kita Andalkan
Merasakan Damai yang Belum Pernah Ia Rasakan
Namun, peristiwa itu membuat Erna mulai mencari gereja, bertemu seorang pendeta, dan perlahan mengenal Tuhan Yesus. Ia yang dulu dipenuhi kegelisahan, tidak bisa menerima kematian suami dan anak-anaknya, akhirnya mulai merasakan damai yang tidak pernah ia mengerti sebelumnya.
Bagaimana Erna akhirnya mengalami damai setelah kehilangan yang begitu dalam? Mengapa suara anak perempuannya justru membawanya kepada gereja?
Saksikan kisah lengkap Erna Juniarti di YouTube Solusi TV.
Sumber : YouTube Solusi TVIkuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu.
Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”