Di balik berdirinya sebuah bisnis yang kini memiliki pabrik sendiri dan ratusan karyawan, sering kali tersimpan cerita panjang tentang perjuangan, kehilangan, dan iman. Kisah Henry Kurniawan yang juga dikenal sebagai Koko Garmen yang merupakan pemilik dari Ozzy Clothing, menjadi salah satu contoh nyata bagaimana perjalanan bisnis tidak selalu dimulai dari modal besar dan privilege, melainkan dari keberanian untuk bangkit dari titik terendah.
BACA JUGA: Hutang 17 Miliar di Usia Muda Lunas Gara-Gara Lakukan Hal Ini
Henry tidak lahir dari keluarga berada. Ia juga bukan anak dengan koneksi atau latar belakang bisnis yang mapan. Bahkan, rumah yang seharusnya menjadi tempat pulang justru dipenuhi kekacauan. Ayahnya adalah penjudi berat dan kekerasan menjadi bagian dari keseharian. Dalam kondisi itu, sekolah menjadi satu-satunya tempat Henry merasa aman, sementara sang ibu, Ernawati, adalah satu-satunya sandaran hidupnya. Hingga akhirnya, ayahnya meninggal karena gantung diri.
Belum sempat pulih dari luka keluarga, ujian terbesar datang saat Henry berada di semester tujuh kuliah. Sang ibu didiagnosis kanker serviks. Demi biaya pengobatan, mobil keluarga dijual dan mereka pindah ke rumah yang lebih kecil. Hingga akhirnya, sang ibu meninggal dunia dengan tenang, setelah sempat memanggil nama Henry berulang kali di malam terakhirnya. Kehilangan itu menjadi pukulan yang sangat berat, bukan hanya secara emosional, tetapi juga finansial.
Di hari pemakaman sang ibu, Henry menghadapi kenyataan pahit. Ia baru lulus kuliah tanpa penghasilan, sementara cicilan rumah masih berjalan, uang gedung sekolah adiknya belum lunas, dan total utang keluarga mencapai Rp80 juta. Masa depan terasa gelap dan penuh dengan tanda tanya.
Dalam kondisi terpuruk itulah Henry mulai mengenal Tuhan. Ia yang sebelumnya bahkan sempat meremehkan gereja, akhirnya datang ke gereja dengan satu doa sederhana, "Sudah Tuhan, aku mau diapain terserah. Semua hidupku sekarang milik-Mu"
Penyerahan itu menjadi titik balik yang membentuk cara Henry memandang hidup dan usahanya ke depan. Prinsip yang ia pegang hingga hari ini terangkum dalam satu ayat Alkitab yang menjadi pegangan hidupnya:
“Akulah pokok anggur dan kamulah ranting‑rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa‑apa.”
(Yohanes 15:5)
Dari titik itulah, ia mengaku hidupnya mulai berubah. Momen yang ia sebut sebagai mujizat pertama datang dari hal yang sangat sederhana, yaitu sebuah jas hujan di tumpukan kardus pindahan. Di bawah jas hujan itu, ia menemukan polis asuransi milik sang ibu yang tidak pernah diketahui sebelumnya. Setelah proses yang panjang, dana asuransi cair dengan nilai Rp80 juta, jumlah yang persis cukup untuk melunasi seluruh utang keluarga.
BACA JUGA: 5 Cara Membangun Kreativitas Finansial Menurut Ps. Jeffrey Rachmat
Utang lunas, tetapi tantangan belum selesai. Henry tetap harus mencari nafkah. Ia memulai karier dari bawah dengan menjual kaos polo dengan gaji Rp500 ribu per bulan. Tak berhenti di situ, ia juga menjadi agen asuransi. Strategi penjualannya sederhana namun kuat, ia menceritakan kisah hidupnya sendiri, tentang bagaimana sebuah polis asuransi yang ditemukan di bawah jas hujan telah menyelamatkan masa depan keluarganya. Dari kejujuran itu, kepercayaan nasabahnya tumbuh.
Dari hasil komisi yang ditabung, Henry berhasil mengumpulkan modal Rp20 juta. Uang tersebut ia gunakan untuk menyewa kios kecil di pinggir Ringroad, Yogyakarta. Iklan hanya modal Rp50 ribu di OLX, dan sisa uang di rekening tinggal Rp5 juta. Dari kondisi itulah ia memulai bisnis bernama Ozzy, yang dalam pencariannya di Google berarti “ambisius”. Sebuah simbol tekad untuk hidup bukan dari warisan, melainkan dari kerja keras dan campur tangan Tuhan.
Perjalanan bisnis itu jauh dari kata mulus. Henry mengalami pengusiran dari kontrakan, terpukul di masa pandemi COVID-19, hingga menghadapi sabotase produksi saat seluruh karyawan satu divisi keluar secara massal. Namun, setiap kali ia merasa berada di ujung jalan, selalu ada jalan baru yang terbuka.
Kini, Ozzy Clothing berkembang menjadi pabrik sendiri, outlet di Jogja, Solo, dan Klaten, serta ratusan karyawan yang bergantung pada usaha tersebut. Bagi Henry, kesuksesan ini bukan alasan untuk bermegah diri, melainkan pengingat akan proses panjang yang membentuk dirinya.
Kisah Henry Kurniawan adalah pengingat bahwa dalam dunia keuangan dan bisnis, modal terbesar bukan selalu uang atau koneksi, melainkan ketekunan, integritas, dan iman. Sebuah cerita bahwa membangun bisnis dari nol bukan hal mustahil, bahkan bagi mereka yang pernah merasa hidupnya runtuh sepenuhnya.
BACA JUGA: Dari Nongkrong ke Networking Cara Ngopi Membentuk Karir dan Dompet
Pesan Henry untuk orang-orang di luar sana yang sedang merasakan dunianya runtuh, sedang berjuang dari nol tanpa privilege dan sedang merasa sendirian, ia berkata: "Kalau aku yang sudah hancur lebur saja bisa dibawa sejauh ini, kamu juga pasti bisa. Jangan nyerah dulu ya, perjalananmu baru saja dimulai. Let's start our journey!"
Jika Anda adalah seseorang tersebut, Anda juga dapat terkoneksi langsung dengan memfollow Instagram Henry di @henrykurniawann. Atau jika saat ini Anda membutuhkan seseorang untuk mendukung dan mendoakan, Anda dapat menghubungi Layanan Doa CBN dengan klik di bawah ini.
Sumber : Jawaban.comIkuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu.
Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”