Sebuah dewan lokal di Colchester dituduh menggunakan wewenang ketertiban umum secara belum pernah terjadi sebelumnya untuk membungkam pemberitaan Injil di ruang publik. Tuduhan ini disampaikan oleh Christian Concern, organisasi advokasi kebebasan beragama, menyusul langkah hukum yang diambil terhadap Gereja Komunitas Bread of Life yang aktif melakukan penginjilan di pusat kota Colchester.
BACA JUGA: Afrika Kini Punya Rumah Sakit yang Integrasikan Pelayanan Medis dan Rohani bagi Masyarakat
Menurut Christian Concern, para pejabat setempat awalnya meminta para penginjil gereja untuk mengecilkan volume pengeras suara saat berkhotbah di ruang publik. Namun, persoalan kemudian bergeser dari sekadar isu kebisingan menjadi keberatan terhadap isi pesan Injil yang disampaikan. Hal ini dinilai sebagai penyalahgunaan wewenang yang serius dan mengkhawatirkan.
Gereja Komunitas Bread of Life yang berbasis di Clacton on Sea diketahui telah melakukan pelayanan penginjilan secara rutin di Colchester selama beberapa tahun terakhir tanpa adanya keluhan resmi dari masyarakat. Meski demikian, petugas keamanan jalanan diduga tetap meminta para anggota gereja untuk menghentikan atau mengurangi penggunaan pengeras suara mereka, meskipun Peraturan Perlindungan Ruang Publik (Public Space Protection Order/PSPO) yang berlaku tidak melarang penggunaan alat tersebut.
Pada bulan November lalu, gereja ini menerima Peringatan Perlindungan Komunitas yang bersifat tidak mengikat secara hukum. Tak lama berselang, muncul ancaman denda, sebelum akhirnya dewan mengeluarkan Pemberitahuan Perlindungan Komunitas (Community Protection Notice/CPN) yang mengikat secara hukum. Christian Concern menilai langkah ini sangat tidak lazim karena CPN tersebut tidak hanya ditujukan kepada individu, tetapi mencakup seluruh gereja beserta para anggotanya.
Yang lebih mengkhawatirkan, CPN tersebut tidak hanya mempermasalahkan volume khotbah, melainkan juga substansi pesan yang disampaikan. Referensi tentang neraka dalam khotbah gereja disebut-sebut sebagai penyebab “pelecehan, kekhawatiran, dan kesusahan” bagi publik. Bahkan, khotbah tersebut digambarkan sebagai tidak masuk akal serta dianggap memiliki dampak buruk terhadap masyarakat.
Menanggapi hal ini, Gereja Komunitas Bread of Life secara resmi menantang CPN tersebut dengan dukungan dari Christian Legal Centre. Kasus ini dijadwalkan akan disidangkan di Pengadilan Magistrat Colchester pada 1 Mei mendatang.
Pendeta gereja, Stephen Clayden, menegaskan bahwa pihaknya tidak melakukan pelanggaran hukum. “Kami telah mengkhotbahkan Alkitab secara sah dan damai di Colchester selama enam tahun. Kami tidak merugikan siapa pun,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa gereja tidak akan mundur dari panggilan iman. “Kami menghormati hukum, tetapi kami tidak dapat dan tidak akan berhenti mengkhotbahkan Injil Yesus Kristus. Tidak ada dewan yang berwenang untuk membungkam Gereja.”
Sementara itu, Andrea Williams, Kepala Eksekutif Christian Legal Centre, menyebut kasus ini sebagai situasi yang sangat mengkhawatirkan. Menurutnya, kewenangan ketertiban umum yang sejatinya dirancang untuk menangani perilaku anti-sosial kini justru digunakan untuk menekan khotbah Kristen. “Hari ini yang dipermasalahkan adalah volume suara, besok adalah isi pesan. Kita sedang menyaksikan pergeseran dari pengelolaan kebisingan menjadi pengawasan teologi,” tegasnya.
Williams juga memperingatkan bahwa jika sebuah gereja dapat dikriminalisasi hanya karena memberitakan Injil, maka kebebasan beragama dan kebebasan berbicara di Inggris berada dalam ancaman serius.
BACA JUGA: Ketum PGI Pdt. Jacky Manuputty Luruskan JK Soal 'Syahid' Kristen di Konflik Poso
Menanggapi polemik ini, seorang juru bicara Dewan Colchester menyatakan bahwa pihaknya tidak dapat memberikan komentar lebih lanjut karena perkara tersebut masih dalam proses hukum yang sedang berlangsung.
Sumber : Jawaban.comIkuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu.
Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”