Parenting dari Luka: Perjalanan 24 Tahun Membangun Keluarga Harmonis

Impact Story / 17 April 2026

Kalangan Sendiri
Parenting dari Luka: Perjalanan 24 Tahun Membangun Keluarga Harmonis
Sumber: Jawaban.com
Aprita L Ekanaru Official Writer
812

Pernikahan sering kali dipandang sebagai awal dari kebahagiaan baru. Namun bagi Ibu Vivin Sulistianingsih, pernikahan justru menjadi awal dari perjalanan panjang yang penuh luka, kebingungan, dan pergumulan batin. Sebuah perjalanan yang pada akhirnya membentuk cara ia menjalani parenting dan memulihkan keluarganya.

Ia memasuki pernikahan tanpa banyak persiapan. Baginya saat itu, menikah adalah langkah yang sudah waktunya diambil. Ia dan suaminya memiliki kesamaan iman, yang ia yakini cukup menjadi fondasi kuat dalam membangun rumah tangga. Namun kenyataannya tidak semudah yang dibayangkan.

 

BACA JUGA: Ketika Seorang Ibu Berani Berbicara Tentang Seksualitas kepada Anaknya

 

Di awal pernikahan, Ibu Vivin merasa seperti berjalan dalam kegelapan. Tidak ada bimbingan, mentor, atau komunitas yang mendampingi. Ia hidup jauh dari keluarga dan harus beradaptasi dengan lingkungan baru. Semua dijalani dengan nekat, tanpa arah yang jelas.

“Awal pernikahan itu rasanya gelap. Kayak jalan tanpa tahu arahnya. Saya besarin anak-anak rasanya sendiri.” Tuturnya.

Tantangan semakin besar ketika suaminya bekerja sebagai engineer di tambang, dengan sistem kerja yang membuatnya sering berada jauh dari rumah. Selama 25 hari di lokasi kerja dan hanya pulang sekitar dua minggu, Ibu Vivin harus menjalani peran sebagai orang tua hampir seorang diri. Beban fisik dan emosional pun menumpuk.

Dalam kondisi tersebut, ia tetap berusaha membantu keuangan keluarga dengan mencoba berbagai usaha. Namun hampir semuanya berakhir dengan kegagalan. Kondisi ekonomi semakin tertekan, sementara komunikasi dengan suami tidak berjalan dengan baik. Tidak ada keterbukaan, baik dalam perasaan maupun keuangan. Ia merasa lelah, sendirian, dan tidak didukung.

Konflik demi konflik pun tak terhindarkan. Pertengkaran menjadi semakin sering, hubungan semakin renggang, dan pikiran untuk berpisah sempat muncul berkali-kali.

Puncak krisis terjadi saat pandemi COVID-19. Penghasilan suami menurun drastis. Mereka harus menjual banyak barang untuk bertahan hidup. Rumah yang hendak dijual tidak kunjung laku, hingga akhirnya mereka terpaksa tinggal bersama orang tua. Di tengah tekanan itu, Ibu Vivin juga mengetahui bahwa suaminya diam-diam meminjam uang tanpa sepengetahuannya.

Rasa marah, kecewa, dan lelah bercampur menjadi satu. Hubungan mereka berada di titik terendah.

Namun sebuah momen mengubah segalanya. Dalam satu pertengkaran hebat, suaminya tiba-tiba lemas di kursi. Ketakutan langsung menyelimuti Ibu Vivin. Dalam kepanikan itu, ia memeluk suaminya sambil menangis. Ia menyadari bahwa di balik semua luka dan konflik, ia masih mengasihi suaminya.

Sejak saat itu, mereka mengambil keputusan penting dengan memilih untuk mengasihi dan mengampuni.

Pemulihan tidak terjadi secara instan. Prosesnya memakan waktu panjang, hampir lima tahun. Namun perlahan, perubahan mulai terjadi bukan hanya dalam hubungan suami istri, tetapi juga dalam cara mereka menjalani parenting.

Ibu Vivin mulai menyadari bahwa kondisi hati orang tua sangat memengaruhi anak-anak. Luka, kemarahan, dan kelelahan yang tidak diselesaikan akan terbawa dalam pola asuh sehari-hari. Sebaliknya, hati yang dipulihkan menghadirkan suasana yang lebih hangat dan aman bagi anak.

Ia merasakan perbedaan nyata saat membesarkan anak ketiganya. Di usia yang lebih matang, dengan hati yang lebih tenang, ia menjadi lebih sabar, lebih santai, dan lebih mampu menerima. Parenting tidak lagi dijalani dengan tekanan, tetapi dengan kesadaran.

Titik balik berikutnya terjadi pada tahun 2025, ketika ia diperkenalkan dengan program The Parenting Project melalui gerejanya. Ia mengikuti bersama suaminya, meskipun awalnya tidak mudah. Namun materi yang sederhana dan relevan perlahan membuka cara pandang baru.

Mereka mulai belajar membangun komunikasi yang lebih sehat, saling menerima kekurangan, dan melepaskan ekspektasi yang tidak realistis. Hubungan yang dulu penuh konflik kini berangsur menjadi lebih terbuka dan hangat.

“Ternyata membesarkan anak itu dimulai dari hati kita sendiri.”

Setelah 24 tahun pernikahan, Ibu Vivin memahami bahwa parenting tidak bisa dipisahkan dari kondisi pernikahan. Keluarga yang harmonis tidak lahir dari kesempurnaan, tetapi dari proses pemulihan yang terus diusahakan.

 

BACA JUGA: Sibuk Bekerja hingga Jauh dari Anak, Ribka Belajar Membangun Kembali Kedekatan Keluarga

 

Bagi Ibu Vivin, perjalanan ini seperti mendaki gunung penuh tantangan seperti dalam modul "Orang Tua Sepanjang Masa" di program The Parenting Project, tidak selalu indah, tetapi selalu bisa dipelajari. Luka yang dulu ada tidak lagi menjadi penghalang, melainkan menjadi bagian dari proses yang membentuknya menjadi orang tua yang lebih sadar.

Kini, tujuan utamanya bukan lagi menjadi keluarga yang sempurna, melainkan keluarga yang hangat, damai, dan penuh penerimaan. Sebuah keluarga yang dibangun bukan tanpa luka, tetapi melalui proses pemulihan yang nyata.

Melalui The Parenting Project, seri pengajaran orang tua dari CBN Indonesia ini, ratusan orang tua dilatih dan diperlengkapi menjadi orang tua yang lebih baik. Sehingga mereka bukan orang tua yang sama lagi atau bahkan mewariskan pola pengasuhan yang mereka adopsi dari orang tua mereka. 

Jadi, apakah Anda terinspirasi atau ingin diperlengkapi menjadi orang tua yang lebih baik? Yuk daftarkan gereja Anda untuk menjadi bagian dari perjalanan pemuridan The Parenting Project, dengan klik link di bawah.

Ikut The Parenting Project

Sumber : Jawaban.com
Kalangan Sendiri
Halaman :
1

Apakah Anda rindu menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruslamat pribadi dalam hidup Anda?

Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu. Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”

Apakah Anda sudah mengucapkan doa ini?
Jawaban untuk Kamu! 😊
Halo, Sahabat Jawaban!
Kami ada untuk mendengar, menjawab, mendoakan dan mendampingi perjalanan kamu.

Apa yang bisa kami bantu hari ini?