Pernyataan Jusuf Kalla dalam kuliah umum di UGM pada Maret 2026 memicu diskusi hangat mengenai peran agama dalam konflik masa lalu di Poso dan Maluku. Ia menyebut bahwa dalam konflik tersebut, baik pihak Muslim maupun Kristen menggunakan pembenaran agama seperti konsep "syahid" untuk melegitimasi kekerasan. Menanggapi hal ini, Ketua Umum PGI, Pdt. Jacky Manuputty, memberikan perspektif mendalam sebagai sosok yang terlibat langsung dalam proses rekonsiliasi Malino II.
Realitas di Lapangan
Pdt. Jacky mengakui bahwa secara sosiologis, agama memang sering kali "dipinjam" wajahnya untuk membenarkan kekerasan. Dalam ingatan kolektif konflik Maluku dan Poso, simbol religius seperti doa, kidung rohani, hingga pekikan Shalom sempat bergeser fungsi menjadi penyemangat di medan laga.
"Konflik yang berakar pada ketidakadilan sosial dan politik kerap dipersepsi sebagai 'konflik agama', sehingga kekerasan memperoleh aura moral dan sakral," ungkapnya.
Meluruskan Konsep Teologis Martir vs. Syahid
Meski memahami konteks sosiologis yang dimaksud Jusuf Kalla, Pdt. Jacky memberikan koreksi teologis yang mendasar. Ia menegaskan bahwa tidak ada doktrin dalam kekristenan yang mengajarkan bahwa membunuh orang lain dapat menghasilkan status kesyahidan.
Konsep Martir dalam tradisi Kristen, martir berarti kesediaan untuk menderita dan mati demi mempertahankan iman, bukan mati saat melakukan agresi. Penggunaan istilah martir bagi mereka yang gugur dalam serangan saat konflik adalah bentuk distorsi makna, bukan ajaran resmi gereja.
Mengutip pemikiran tokoh seperti Charles Kimball dan Mark Juergensmeyer, Pdt. Jacky mengingatkan bahwa agama rentan dikorupsi menjadi alat kekerasan ketika identitas kolektif terancam. Namun, penyamaan konsep "syahid" dan "martir" sebagai legitimasi membunuh adalah penyederhanaan yang kurang tepat.
Pelajaran pahit dari Poso dan Maluku menunjukkan bahwa literasi agama dan kepemimpinan moral sangat krusial. Pernyataan Jusuf Kalla harus menjadi ruang refleksi agar kita lebih waspada terhadap upaya penyelewengan simbol suci menjadi bahan bakar permusuhan. Agama harus dikembalikan pada khitahnya sebagai sumber perdamaian sejati.
Saudaraku, melalui kejadian ini kita dapat belajar bahwa pentingnya hikmat Tuhan untuk dapat memproses apapun yang kita dengar dari media sosial, agar kita tidak mudah tersulut. Tuhan memberkati.
BACA JUGA:
PGI Serukan Perdamaian di Timur Tengah dan Asia Selatan, Dorong PBB Lakukan Dialog Damai
Jusuf Kalla Bahas Syahid dalam Islam dan Kristen Sama, Apa Pandangan Alkitab Soal Syahid?
Sumber : PGI.or.idIkuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu.
Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”