Kasus Pelecehan Seksual FHUI, Berawal dari Grup Chat yang Bocor
Sumber: Tangkapan layar Instagram @depok24jam

News / 14 April 2026

Kalangan Sendiri

Kasus Pelecehan Seksual FHUI, Berawal dari Grup Chat yang Bocor

Claudia Jessica Official Writer
554

Kasus dugaan pelecehan seksual yang melibatkan 16 mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FHUI) menyita perhatian publik. Berawal dari percakapan dalam grup digital yang memuat objektifikasi dan komentar seksual terhadap perempuan, kasus ini memicu kemarahan, kekecewaan, sekaligus keprihatinan.

Mungkin, banyak orang yang melihatnya sebagai “sekadar candaan yang kebablasan”. Tapi, apakah benar sesederhana itu?

Justru harusnya kita mempertanyakan, sejak kapan merendahkan sesama manusia bisa dianggap wajar? Apa yang sebenarnya terjadi dalam hati manusia ketika hal seperti ini terasa normal?

Dari perspektif iman Kristen, perbuatan dosa tidak hanya diukur dari perbuatan yang bisa dilihat, tetapi juga kondisi hati yang rusak—yang tercermin dalam pikiran, perkataan, dan cara memandang orang lain.

Yesus sendiri berkata, “Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya” (Matius 5:28).

Dengan kata lain, bahkan sebelum tindakan fisik terjadi, dosa sudah bekerja dalam batin manusia. Inilah yang membuat dugaan kasus pelecehan seksual di FHUI harus ditanggapi dengan serius, sekalipun “hanya” terjadi dalam ruang digital.

 

BACA JUGA: Apa Kata Alkitab Tentang Pasangan Yang Kasar dan Melecehkan?

 

Percakapan yang merendahkan, mengobjektifikasi, atau menjadikan tubuh orang lain sebagai bahan hiburan bukanlah suatu hal yang bisa dianggap normal. Ini adalah ekspresi hati yang telah kehilangan cara pandang yang benar terhadap sesama manusia.

Imago Dei, Identitas Manusia di dalam Rupa Allah

Dalam iman Kristen, manusia memiliki martabat yang tidak bisa ditawar. Kitab Kejadian menyatakan bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Kejadian 1:27). Konsep ini dikenal sebagai Imago Dei.

Artinya, setiap manusia (tanpa terkecuali) memiliki nilai yang melekat, bukan karena apa yang ia lakukan, tetapi karena siapa yang menciptakannya.

Ketika seseorang diperlakukan sebagai objek, apalagi dalam konteks seksual, yang terjadi bukan hanya pelanggaran etika sosial, melainkan juga pelanggaran terhadap martabat ilahi itu sendiri.

Mengurangi nilai seseorang menjadi sekadar objek atau bahan candaan, berarti mengabaikan fakta bahwa ia adalah pribadi yang utuh, yang mencerminkan gambar Allah.

 

BACA JUGA: Bangkit dan Pulih dari Trauma Masa Lalu

 

Terbentuknya Dosa Kolektif

Namun persoalan ini tidak berhenti pada pelaku utama. Dalam banyak kasus seperti ini, selalu ada lingkaran yang lebih luas, yakni mereka yang ikut tertawa, yang membiarkan, atau yang memilih diam. Di sinilah kita berhadapan dengan apa yang bisa disebut sebagai dosa kolektif.

Rasul Paulus mengingatkan, “Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu.” (Efesus 5:11)

Artinya diam bukan berarti netral, apalagi tidak bersalah. Dalam konteks moral, diam sering kali diartikan sebagai pembiaran. Ketika pembiaran berubah menjadi kebiasaan, terbentuklah budaya yang rusak.

Tuhan Dekat dengan Korban

Ketika membahas hal ini, kita tidak boleh lupa bahwa ada korban terdampak. Pelecehan, baik fisik maupun verbal, bukan sekadar “kata-kata lewat” yang bisa dilupakan begitu saja. Pelecehan seksual bisa meninggalkan luka psikologis, rasa takut, bahkan kehilangan rasa aman dalam ruang sosial.

 

BACA JUGA: Pesan untuk Anda yang Menjadi Korban Pelecehan Seksual yang Kehilangan Percaya Diri

 

Dalam banyak kasus, korban bahkan menghadapi tekanan tambahan seperti diragukan, diremehkan, atau bahkan disalahkan. Padahal, Alkitab menunjukkan bahwa Tuhan berpihak kepada mereka yang terluka.

“TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.” (Mazmur 34:18)

Sebagai orang percaya, respon pertama yang harus kita lakukan bukanlah menghakimi korban, tetapi berempati—mendengar, mengakui, dan memberi ruang bagi korban. Bukan membenarkan, bukan mengecilkan, apalagi mengabaikan mereka.

Keadilan Harus Ditegakkan, Tapi Tidak Menutup Pintu Pertobatan

Lalu bagaimana dengan pelaku? Dalam iman Kristen, kita tidak dihadapkan pada pilihan antara menghukum atau mengampuni seolah keduanya saling bertentangan.

Keadilan tetap harus ditegakkan. Tindakan yang salah perlu diproses secara serius, apalagi ketika telah melukai orang lain dan menciptakan dampak sosial yang luas. Mengabaikan atau menyepelekan kesalahan justru memperpanjang siklus kerusakan.

Namun pada saat yang sama, kekristenan juga membuka ruang bagi pertobatan. Tidak ada manusia yang sepenuhnya tertutup dari kemungkinan untuk berubah.

 

BACA JUGA: Orang Tua Wajib Paham Ini Agar Anak Tidak Mudah Jadi Target Predator Seksual

 

Dalam Yohanes 8, Yesus tidak membenarkan dosa perempuan yang berzinah, tetapi juga tidak menghancurkannya. Ia justru berkata, “Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi.” (Ayat 11)

Artinya, kesalahan tetap harus dikatakan salah. Tapi bukan berarti pintu pertobatan tertutup untuknya.

Terbentuknya Budaya yang Rusak

Kasus ini mencerminkan masalah yang lebih luas bahwa krisis cara pandang terhadap seksualitas dan relasi di era digital.

Budaya yang semakin permisif terhadap konten seksual, normalisasi pornografi, serta kebiasaan menjadikan tubuh orang lain sebagai bahan konsumsi telah membentuk cara berpikir yang keliru.

 

BACA JUGA: Ini 4 Tahap Emosi yang Umum Dialami Korban Pelecehan Seksual

 

Tanpa disadari, manusia mulai kehilangan kepekaan dan tidak lagi melihat sesama sebagai pribadi, melainkan sebagai objek. Apa yang dulu dianggap tidak pantas kini terasa biasa. Apa yang dulu memalukan kini menjadi bahan hiburan. Ketika itu terus terjadi, hati pun menjadi tumpul.

Iman Seharusnya Mengubah Cara Kita Melihat

Iman Kristen dengan tegas menjelaskan apa yang salah, juga menuntun kita untuk hidup dengan cara yang berbeda.

Rasul Paulus menulis, “Giduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu” (Efesus 5:2), serta, “Hiduplah sebagai anak-anak terang” (Efesus 5:8).

Firman Tuhan bukan sekadar ajakan moral, melainkan panggilan bagi setiap orang percaya untuk memiliki cara pandang yang baru.

 

BACA JUGA: Teruntuk Korban Pelecehan Seksual, Tuhan Mau Anda Sembuh. Yuk Renungkan 8 Firman Ini…

 

Melihat sesama bukan sebagai objek. Tidak ikut arus ketika lingkungan menormalisasi hal yang salah. Berani menegur, sekalipun tidak nyaman.

Iman seharusnya membuat seseorang hidup berbeda, bukan hanya di ruang publik, tetapi juga di ruang privat, bahkan dalam percakapan yang dianggap “tidak terlihat”.

Perubahan budaya tidak dimulai dari kebijakan besar semata, tetapi dari respon hati. Dari pilihan-pilihan kecil untuk tidak ikut tertawa, tidak ikut diam, tidak ikut membenarkan.

Kasus ini menjadi cermin bagi kita semua. Apakah kita masih melihat manusia sebagai gambar Allah, atau kita telah terbiasa mereduksinya menjadi objek?

Kalau kamu pernah mengalami pelecehan seksual, mungkin ada luka yang belum sepenuhnya pulih—rasa takut, marah, atau bahkan bingung harus bercerita ke siapa. 

Atau jika kamu sedang bergumul dengan kecanduan seksual yang terasa mengikat dan melelahkan, kamu mungkin merasa sendirian atau sulit keluar dari lingkaran itu.

Apapun pergumulanmu, perasaan itu valid, dan kamu tidak harus menanggungnya sendirian.

Layanan doa CBN dengan terbuka akan mendengarkan dan mendampingi hingga kamu mengalami pemulihan. Ada harapan untuk pulih, selangkah demi selangkah. Kamu bisa menghubungi 0822-1500-2424

Sumber : Berbagai Sumber
Halaman :
1

Apakah Anda rindu menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruslamat pribadi dalam hidup Anda?

Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu. Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”

Apakah Anda sudah mengucapkan doa ini?
Layanan Doa dan Bimbingan Rohani CBN Indonesia
Shalom 🙏
Terima kasih sudah mengunjungi kami.
Kami ada untuk mendengarkan, mendoakan, dan mendampingi perjalanan Anda.

Apa yang bisa kami bantu hari ini?