Tidak semua orang tua menyadari bahwa kehadiran secara fisik belum tentu berarti hadir secara emosional. Hal inilah yang dialami oleh Ribka Kurnia Anggraini (30), seorang ibu muda yang berjemaat di GSJA Elisafan Mirijinggo.
Bersama suaminya, Antoni Eko Sriyono, Ribka menjalani kehidupan keluarga seperti banyak pasangan muda lainnya dengan bekerja keras dan berusaha memberikan yang terbaik bagi anak-anak mereka. Namun di balik itu, ada hal penting yang sempat terlewatkan.
Sejak anak pertama mereka lahir, Ribka dan suami sama-sama bekerja. Waktu bersama anak sangat terbatas. Proses pertumbuhan anak lebih banyak dilewati bersama neneknya.
“Anak-anak ditinggal kerja, jadi kami tidak tahu proses pertumbuhan mereka,” ungkap Ribka.
Ia menyadari, kedekatannya dengan anak pertama tidak terbangun dengan kuat. Bahkan, ada perbedaan yang ia rasakan antara cara ia mendidik anak pertama dan kedua.
“Anak pertama banyak yang mendidik neneknya, sedangkan yang kecil itu saya yang didik,” katanya.
Situasi ini perlahan menciptakan jarak emosional. Ribka merasa kesulitan memahami anaknya sendiri. Ia juga menyadari bahwa selama ini ia belum benar-benar hadir untuk mendengar.
“Saya kurang bisa mendengar keluh kesah anak saya yang pertama,” ujarnya jujur.
Di sisi lain, suaminya pun menghadapi keterbatasan yang sama.
“Berangkat pagi, pulang malam,” ungkap sang suami.
Kondisi ini membuat relasi dalam keluarga berjalan seadanya. Komunikasi tidak terbangun dengan baik, bahkan anak pertama mereka lebih dekat dengan neneknya dibandingkan dengan orang tuanya sendiri.
Ribka juga mengakui bahwa emosinya sering tidak terkontrol.
“Anak bilang saya suka marah-marah. Mungkin karena nada suara saya terlalu tinggi,” katanya.
Ia mulai menyadari bahwa cara ia merespons anak justru membuat anak tidak nyaman dan menjauh.
Sebelum mengikuti The Parenting Project, Ribka sebenarnya sudah mengambil keputusan besar dengan berhenti bekerja dan mulai fokus di rumah.
Namun, ia tetap merasa membutuhkan arahan yang benar dalam mendidik anak.
Ketika gerejanya mengadakan The Parenting Project, Ribka dan suami memutuskan untuk ikut. Bagi mereka, program ini menjadi jawaban atas kerinduan untuk belajar mengasuh anak sesuai dengan nilai Firman Tuhan.
“TPP ini membuka wawasan kami tentang banyak hal yang sebelumnya kami tidak tahu,” ungkap Ribka.
Melalui setiap modul yang diikuti, mereka mulai memahami bahwa menjadi orang tua bukan hanya soal memberi arahan, tetapi menjadi teladan.
“Kalau dulu saya pikir mendidik anak hanya dari perkataan, ternyata anak melihat dari perbuatan kita,” kata Ribka.
Salah satu materi yang sangat berkesan baginya adalah tentang tangki emosi anak.
“Saya masih belajar bagaimana memahami dan memenuhi tangki emosi anak saya,” tambahnya.
Bagi sang suami, pembelajaran yang paling berdampak adalah tentang peran seorang ayah.
“Menjadi ayah itu bukan hanya mencukupi kebutuhan sehari-hari, tapi juga menjadi panutan bagi keluarga,” ungkapnya.
Perubahan tidak terjadi secara instan, tetapi perlahan mulai terlihat dalam keluarga mereka. Ribka mulai memperbaiki cara berkomunikasi dengan anak. Ia belajar untuk mendengar, bukan hanya berbicara.
“Kalau sekarang, Puji Tuhan, hubungan kami pelan-pelan jadi lebih dekat, khususnya dengan anak pertama,” katanya.
Jika dulu anaknya tidak merespons, kini komunikasi mulai terbangun kembali.
“Sekarang kalau ada apa-apa, saya bisa mendengarkan keluh kesahnya,” tambahnya.
Dalam hal emosi, Ribka juga mulai belajar mengontrol diri.
“Kalau ada yang tidak sesuai, sekarang saya diam dulu. Nadanya saya kontrol, kalimatnya juga saya perbaiki.”
Ia juga mulai memberi teladan dalam hal-hal sederhana.
“Ayo, kalau habis makan, sampahnya dibuang ke tempatnya ya,” ujarnya, sambil memberi contoh langsung.
Perubahan juga terjadi dalam peran sebagai orang tua. Kini mereka membagi waktu dan tanggung jawab bersama.
“Kalau mama ngajarin kakak, papa ngajarin adik,” jelas Ribka.
Suaminya pun mulai lebih terlibat.
“Dulu pulang kerja langsung tidur. Sekarang saya lebih banyak waktu untuk anak—temani belajar, tanya sudah belajar atau belum,” ungkapnya.
Hari demi hari, hubungan dalam keluarga mereka mulai dipulihkan. Anak yang dulu terasa jauh kini mulai terbuka dan lebih dekat dengan orang tua.
Setelah mengikuti tujuh modul hingga mendapatkan sertifikat, Ribka dan suami menyadari bahwa perjalanan mereka sebagai orang tua masih terus berjalan.
Mereka bukan orang tua yang sempurna, tetapi kini mereka adalah orang tua yang mau belajar.
“Kami ini keluarga muda, sebelumnya belum tahu bagaimana mendidik anak sesuai Firman Tuhan. Dulu kami pikir sudah baik, ternyata masih banyak yang perlu diperbaiki,” ungkap mereka.
Kini, mereka melihat perubahan nyata bukan hanya pada anak-anak, tetapi juga dalam diri mereka sebagai orang tua.
Kisah Ribka adalah gambaran banyak keluarga muda yang berusaha memberikan yang terbaik, tetapi tanpa sadar kehilangan makna keluarga yang paling penting.
Melalui The Parenting Project, semakin banyak orang tua diperlengkapi untuk memahami kebutuhan anak, membangun relasi yang sehat, dan menjadi teladan dalam keluarga.
Ketika Anda memilih untuk ambil bagian, Anda tidak hanya mendukung sebuah program, tetapi ikut memulihkan hubungan dalam keluarga dan menanamkan fondasi karakter bagi generasi yang sedang Tuhan bentuk hari ini.
Mari, ambil bagian dalam perjalanan ini dan jadilah berkat bagi keluarga-keluarga yang sedang dipulihkan
Sumber : Jawaban.comIkuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu.
Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”