Di Indonesia, 31 Maret adalah batas waktu resmi yang ditetapkan oleh Direktorat Jenderal Pajak (DJP) untuk melaporkan Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT) Pajak Penghasilan.
Sebagian besar orang tidak menyambut baik tanggal ini, atau bahkan merasa keberatan untuk melaporkan pajak penghasilannya. Tapi, bagaimana harusnya orang Kristen menyikapi kewajiban lapor pajak? Apakah kita boleh mencari cara untuk menghindarinya, atau justru ada panggilan rohani di baliknya?
Perpajakan memang sering menjadi isu sensitif di Indonesia. Berbagai masalah, baik dari sisi politik maupun praktis, sering menimbulkan pertanyaan, “Apakah pajak yang kita bayar benar-benar digunakan untuk kepentingan rakyat?”
BACA JUGA: Fakta Alkitab: Pegawai Pajak atau Pemungut Cukai, Ini Pesan Yesus untuk Anda
Kasus proyek terbengkalai hingga dugaan pemborosan anggaran oleh wakil rakyat membuat kepercayaan publik menurun. Bahkan, ada sebagian pihak yang keliru mengajarkan bahwa orang Kristen tidak perlu membayar pajak penghasilan.
Namun demikian, meskipun sistem perpajakan di Indonesia masih memiliki kekurangan, Mahkamah Konstitusi telah berulang kali menegaskan bahwa sistem ini sah secara hukum dan konstitusi.
Karena itu, sebagai warga negara sekaligus orang percaya, kita tetap dipanggil untuk menaati aturan yang berlaku.
Alkitab sendiri menegaskan pentingnya sikap taat kepada pemerintah. Dalam Roma 13:1-2, “Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah. Sebab itu barangsiapa melawan pemerintah, ia melawan ketetapan Allah dan siapa yang melakukannya, akan mendatangkan hukuman atas dirinya.”
BACA JUGA: Bayar Pajak Juga Jadi Kewajiban Orang Kristen, Ini Alasan Alkitabiahnya…
Hal serupa juga ditegaskan dalam Titus 3:1-2, Paulus menulis, “Ingatkanlah mereka supaya mereka tunduk pada pemerintah dan orang-orang yang berkuasa, taat dan siap untuk melakukan setiap pekerjaan yang baik. Janganlah mereka memfitnah, janganlah mereka bertengkar, hendaklah mereka selalu ramah dan bersikap lemah lembut terhadap semua orang.”
Menariknya, Alkitab tidak memberikan syarat bahwa pemerintah harus sempurna atau sepenuhnya adil untuk ditaati. Selama tidak bertentangan dengan firman Tuhan, orang percaya tetap dipanggil untuk menghormati otoritas.
Bahkan pada zaman Paulus, pemerintahan Romawi dikenal jauh lebih keras dibandingkan kondisi saat ini, tetapi Firman Tuhan tetap mengajarkan hal yang sama, yakni menghormati para pemimpin kita.
Orang-orang Farisi pernah mencoba menjebak Yesus dengan pertanyaan tentang pajak kepada Kaisar. Yesus menjawab dengan bijak, “Tetapi Yesus mengetahui kejahatan hati mereka itu lalu berkata: "Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik? Tunjukkanlah kepada-Ku mata uang untuk pajak itu." Mereka membawa suatu dinar kepada-Nya. Maka Ia bertanya kepada mereka: "Gambar dan tulisan siapakah ini?" Jawab mereka: "Gambar dan tulisan Kaisar." Lalu kata Yesus kepada mereka: "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah."” (Matius 22:18-21).
BACA JUGA: Apakah Yesus Membayar Pajak?
Melalui jawaban ini, Yesus tidak memperdebatkan apakah sistem tersebut adil atau tidak, melainkan memerintahkan kita untuk memberikan apa yang menjadi hak pemerintah dan hak Allah.
Memang, mungkin ada aspek dalam sistem pajak yang masih menjadi pertanyaan. Tapi, dalam sistem hukum yang berlaku, lembaga peradilanlah yang menentukan legalitasnya.
Karena itu, sebagai orang percaya, fokus utama kita adalah menjalankan tanggung jawab dengan jujur, termasuk dalam hal membayar pajak. Di atas semuanya, kita juga diingatkan bahwa bagian pertama dari penghasilan kita tetaplah milik Tuhan.
Sumber : Berbagai Sumber