Dulu Bertutur Kasar, Karena Kisah Rut Kasih Berproses Secara Karakter
Sumber: Jawaban.com

Impact Story / 24 February 2026

Kalangan Sendiri

Dulu Bertutur Kasar, Karena Kisah Rut Kasih Berproses Secara Karakter

Lori Official Writer
1974

Jika sebelumnya kita membaca bagaimana kabar Injil yang dibagikan melalui program Superbook Indonesia di gereja-gereja telah menyentuh hati dan mengubah hidup banyak anak seperti Agenia, Nuella, Reva dan anak-anak lainnya. Kali ini perubahan itu juga nyata dalam hidup seorang anak bernama Kasih Putriani Zai.

Tayangan Animasi sederhana dan beragam materi pembelajaran yang sudah disediakan untuk anak Sekolah Minggu bisa dipakai Tuhan untuk mengubahkan hati Kasih yang sebelumnya suka melawan orangtua dan sering bertutur kasar, menjadi anak yang halus bicaranya dan menjadi anak yang patuh. 

Kasih (10 tahun) adalah anak perempuan satu-satunya dari empat bersaudara. Sejak ayahnya meninggal saat ia masih bayi, ibunya harus berjuang sendiri sebagai single parent - bekerja di sawah dan mengambil pekerjaan serabutan untuk menghidupi keluarga.

Di tengah keterbatasan itu, Kasih tumbuh dengan karakter yang cukup menantang. Minimnya pendampingan membuat ia lebih banyak dibentuk oleh lingkungan pergaulannya. Ia terbiasa mendengar dan meniru kata-kata kasar dari teman-temannya.

Guru sekolah minggu sekaligus tutor School of Life menuturkan bahwa Kasih sulit mengendalikan emosi. “Sedikit saja diganggu sama teman, langsung ngamuk,” ujarnya. Ia mudah marah, suka mengejek, dan tak ragu membalas hinaan dengan kata-kata yang sama.

Kasih pun mengaku, “Sering memaki.” Ketika diejek “bodoh” atau “jelek”, ia akan langsung membalas tanpa berpikir panjang.

Sikap melawan juga kerap muncul di rumah. Jika diminta membantu seperti mencuci piring, ia sering menjawab, “Tidak mau,” meski sang mama tidak pernah membentaknya.

Tak hanya dalam karakter, Kasih juga bergumul secara akademik. Di kelas lima, ia masih kesulitan membaca sehingga perlu pendampingan khusus di School of Life.

Sampai suatu hari, kisah Rut diputar melalui Superbook di sekolah minggu. Cerita tentang kesetiaan Rut merawat Naomi menyentuh hati Kasih. Ia terdiam. Matanya berkaca-kaca. Saat guru bertanya mengapa ia terlihat sedih, Kasih menyadari sesuatu: selama ini ia sering melawan mamanya, padahal mamanya telah berjuang sendirian membesarkannya.

Hari itu, ia pulang dengan hati yang berbeda. Sambil menangis, ia berkata kepada mamanya, “Maafin aku atas perbuatanku selama ini.” Ibunya memaafkannya dan berpesan agar tidak mengulanginya lagi.

 

Baca Juga:

Miliki Iman yang Berani Karena Belajar Firman di Sekolah Minggu

Doa Seorang Anak Yang Mengubah Rumah yang Rapuh Menjadi Tempat Penuh Harapan

Takut Gelap Sejak Nonton Tayangan Horor, Namun Kisah Daud di Superbook Ajarkan Ini…

 

Sejak saat itu, perubahan mulai terlihat. “Udah nggak mau memaki,” ujar gurunya. 

Kasih pun mengaku, “Tidak memaki lagi. Tidak melawan ibu.” Kini ia mau mencuci piring, menyapu lantai, dan berbicara lebih sopan. Jika dulu ia cepat memukul atau mengejek, sekarang ia mulai belajar menahan diri.

Perubahan ini memang masih berproses. Namun benih ketaatan sudah ditanam. 

Tak hanya karakter, semangat belajarnya pun bertumbuh. Ia mulai belajar membaca dengan bantuan guru di School of Life. “Mau supaya pintar,” katanya. Cita-citanya sederhana namun besar -menjadi dokter.

Lewat ibadah Sekolah Minggu, Kasih mengerti siapa Juruslamat dalam hidupnya. "Yesus, Juruslamat yang menebus dosa," ungkapnya. Sebagai anak yang dosanya sudah ditebus, Kasih terus belajar memperbaharui karakternya hari demi hari - ia terus berjuang untuk tidak boleh memaki, tidak melawan orangtua, dan tidak malas belajar.

Kini, ia sudah menjadi anak yang lebih baik - tuturnya lebih sopan dan lebih mengasihi ibunya.

Mari bersama-sama menanamkan iman sejak dini di hati setiap anak. Dukung Superbook, dan jadilah bagian dari perjalanan iman anak-anak yang sedang Tuhan bentuk hari ini.

 

Dukung Superbook

Halaman :
1

Ikuti Kami