Di The Parenting Project, Puji Prasetya Sadar Satu Hal yang Tak Kalah Penting dari Nafkah
Sumber: dok. Istimewa

Impact Story / 20 January 2026

Kalangan Sendiri

Di The Parenting Project, Puji Prasetya Sadar Satu Hal yang Tak Kalah Penting dari Nafkah

Claudia Jessica Official Writer
3320

Bagi Muji Prasetya (44 tahun), yang biasa dipanggil Prast merasakan bahwa menjadi kepala keluarga bukanlah peran yang mudah dijalani. Di balik kesehariannya sebagai suami dan ayah, ia menyimpan luka masa lalu yang lama terpendam. Pengalaman pahit bersama ayahnya membekas kuat sejak kecil dan membentuk pribadinya hingga dewasa.

Ia pernah mengalami kekerasan fisik yang tidak mudah dilupakan. “Saya posisi kelas 4 SD, tangan saya diikat lalu saya dihajar,” kenangnya. Pengalaman itu meninggalkan kepahitan yang masih teringat, meskipun ia sudah belajar mengampuni.

Luka tersebut terbawa hingga Prast berkeluarga. Ia tumbuh dengan pemahaman bahwa seorang pria harus kuat, tidak boleh salah, dan tidak perlu meminta maaf. Ego perlahan menguasai cara berpikir dan bersikapnya.

“Pria itu kan egonya tinggi. Mereka minta dihormati tanpa tahu bahwa seorang pria juga sering melakukan kesalahan dan tidak mau minta maaf,” ujarnya jujur.

 

Perjalanan Prast mengikuti The Parenting Project menjadi titik balik penting dalam hidupnya. Melalui modul Menjadi Teladan yang Baik, banyak hal tersingkap dalam dirinya. Ia mulai melihat kejujuran sebagai keberanian, bukan kelemahan. 

 

BACA JUGA: Joko Pilih untuk Tidak Mewarisi Luka dan Memilih Bertumbuh sebagai Ayah Setelah Ikut TPP

 

“Di The Parenting Project banyak yang tersingkapkan. Banyak sekali pola didik orang tua saya yang harus dikoreksi,” katanya. Ia menyadari bahwa perubahan tidak bisa ditunda, terutama karena ia kini memiliki keluarga yang bergantung pada keteladanan hidupnya.

Belajar meminta maaf menjadi salah satu proses paling berat baginya. “Saya terus terang, minta maaf itu tantangan buat saya. Tutur mulut saya susah sekali,” ungkapnya.

Bahkan kepada istrinya sendiri, Prast baru mulai belajar mengucapkan kata maaf. Ia memahami bahwa sikap keras yang dulu ia anggap wajar ternyata melukai orang-orang terdekatnya.

Melalui konsep HATI yang diajarkan dalam The Parenting Project, Prast belajar bahwa teladan sejati dimulai dari menunjukkan kasih. Bukan hanya lewat tanggung jawab materi, tetapi melalui kehadiran yang nyata.

“Konsep yang salah adalah menjadi seorang ayah yang hanya mencukupi kebutuhan perekonomian hidup. Padahal tanggung jawab yang sebetulnya adalah kehadiran,” ujarnya.

Kesadaran itu semakin kuat seiring perjalanan pernikahannya yang baru dikaruniai seorang anak setelah sembilan tahun menanti. Kehadiran anak itu menjadi panggilan baru baginya, ia merasa Tuhan memberinya kesempatan untuk memulai dengan benar.

 

“Dari situ saya belajar banget. Karena saya akan jadi figur papa yang tidak baik kalau saya tidak mau belajar,” katanya.

 

BACA JUGA: Sadar Selama Ini Salah Pola Asuh Anak, Dwi Tujung Sari Temukan Harapan Baru untuk Keluarga

 

Kini, Prast memilih untuk memperbaiki diri. Ia belajar mengakui kesalahan, meminta maaf kepada istri, anak, dan adiknya yang tinggal bersama. Ia ingin menjadi figur yang bisa diteladani, bukan hanya lewat kata-kata, tetapi lewat sikap hidup sehari-hari.

Perjalanannya masih berlangsung dan tidak selalu mudah. Namun melalui The Parenting Project, Prast Prasetya belajar bahwa kejujuran, kerendahan hati, dan kehadiran adalah langkah awal membangun keluarga yang dipulihkan oleh kasih Tuhan.

Melalui The Parenting Project, banyak orang tua belajar untuk berhenti mewariskan luka dan mulai membangun keluarga dengan kasih. Perjalanan ini masih terus berjalan, dan semakin banyak keluarga membutuhkan pendampingan yang sama. 

Dukung The Parenting Project agar semakin banyak rumah tangga dipulihkan dan generasi berikutnya bertumbuh dalam kasih dan kebenaran.

 

 

Sumber : Jawaban.com
Halaman :
1

Ikuti Kami