Bagi Joko Kristianto (34 tahun), perjalanan menjadi seorang ayah tidak dimulai dari titik yang netral. Ia membawa luka masa lalu yang cukup dalam dari pola asuh orang tuanya.
Didikan yang keras, kasar, dan otoriter meninggalkan sakit hati dan perlahan membentuk cara pandangnya tentang keluarga, pernikahan, hingga tanpa disadari memengaruhi cara ia mendidik kedua anaknya.
Dalam keseharian, Joko mulai melihat pola lama itu muncul kembali. Caranya menegur, bersikap, dan mendisiplinkan anak seringkali terasa sama seperti yang pernah ia alami dulu.
“Ketika kami belum mengenal The Parenting Project, di keluarga kami itu sering kehabisan kesabaran,” ungkapnya.
BACA JUGA: Sadar Selama Ini Salah Pola Asuh Anak, Dwi Tujung Sari Temukan Harapan Baru untuk Keluarga
Bahkan ketika anak melakukan kesalahan, ia memilih menarik diri. “Sebelum mengikuti TPP, kalau anak melakukan kesalahan, saya tinggal, saya diemin,” ceritanya. Cara tersebut justru menciptakan jarak dan tidak menyelesaikan masalah.
Namun, Joko ingin menjadi ayah yang bertanggung jawab, tapi ia belum memahami bagaimana caranya hadir dengan kasih tanpa mengulang luka seperti yang pernah ia alami.
Titik perubahan terjadi ketika Joko mengikuti The Parenting Project di gerejanya, Gereja Bethel Injil Sepenuh Rehobot, Selodoko Ampel, Kabupaten Boyolali.
Melalui modul-modul yang ia jalani, khususnya Menjadi Teladan yang Baik dan Tangki Emosi Anak, pola pikirnya mulai terbuka. Ia menyadari bahwa mendidik anak bukan hanya soal membentuk perilaku, tetapi membangun hati dan relasi.
Modul Tangki Emosi Anak menjadi materi yang paling berkesan baginya. “Modul tangki emosi anak itu sangat berkesan sekali,” katanya jujur.
BACA JUGA: Belajar Ubah Pola Asuh, Bapak Bagus dan Istri Kini Makin Dekat dengan Anak-Anaknya
Joko belajar bahwa setiap anak memiliki kebutuhan emosi yang berbeda dan perlu diisi dengan cara yang tepat. Ia mulai memahami pentingnya kata-kata pujian, aktivitas bersama, sentuhan fisik sebagai ungkapan kasih, investasi waktu, serta hadiah sebagai bentuk penghargaan.
Perubahan pun mulai ia terapkan dalam keseharian. “Sekarang, kalau anak melakukan kesalahan, saya kasih penjelasan sebab-akibat, sedetail mungkin,” ujarnya.
Responnya pun berubah ketika menghadapi anak-anaknya tantrum.
“Sekarang saya mendisiplinkan anak, artinya harus bisa mengikuti perkembangan zaman dan mengerti kebutuhan anak,” ungkapnya.
“Kalau anak saya emosi, saya biarkan dulu. Biarkan tantrum, dia mengekspresikan emosinya,” lanjutnya.
Setelah anak mulai tenang dan hatinya lebih baik, barulah ia merespons dengan pendekatan yang membangun. “Ketika hatinya sudah merasa lebih baik, saya kasih reward.”
BACA JUGA: Perubahan Kecil, Berdampak Besar. Kisah Srianita Membawa Keluarga Lebih Dekat dengan Tuhan
Joko juga mengambil keputusan penting untuk tidak lagi menyalin pola asuh orang tuanya. Ia memilih berhenti mewarisi luka dan mulai mendidik anak berdasarkan Firman Tuhan.
Sebagai ayah, ia berkomitmen membesarkan anak-anaknya dalam takut akan Tuhan, dengan kasih yang nyata dan relasi yang sehat.
Ia menyadari bahwa perubahan ini adalah sebuah proses. Tidak instan dan tidak selalu mudah. Namun kini Joko melangkah dengan kesadaran baru bahwa masa lalu tidak harus menentukan masa depan keluarganya.
Melalui The Parenting Project, Joko belajar bahwa menjadi ayah bukan tentang kesempurnaan, melainkan tentang kerendahan hati untuk belajar, berubah, dan terus bertumbuh.
Mari dukung pelayanan The Parenting Project agar semakin banyak orang tua dibekali untuk membangun keluarga yang sehat dan takut akan Tuhan.
Sumber : Jawaban.com