“Masa Tuhan sehina itu?” Kalimat ini pernah menjadi isi hati Ps. David Herson Tonius ketika masih remaja. Ia bertumbuh dari keluarga yang tidak mengenal Tuhan, bahkan menyimpan penolakan yang kuat terhadap Yesus.
Bagi Ps. David, konsep Tuhan yang mati tergantung di kayu salib terasa memalukan. Tapi, justru dari penolakan itulah perjalanan iman yang mengubahkan hidupnya dimulai.
Seiring waktu, Ps. David menyadari satu hal penting, kasih itu butuh pembuktian. Jika dulu ia melihat salib sebagai simbol kehinaan, tetapi sekarang ia melihatnya sebagai bukti cinta yang paling besar.
“Dulu saya benci Yesus, akhirnya saya jatuh cinta dengan Yesus,” ungkapnya.
Tentunya perubahan ini tidak terjadi dalam semalam, butuh proses panjang yang menyentuh sisi terdalam hidupnya, hingga ia sampai pada satu pengakuan iman, “Satu-satunya yang mau mati buat saya, hanya Yesus.”
Sebelum mengalami perjumpaan pribadi dengan Tuhan, Ps. David mengakui bahwa dirinya adalah pribadi yang sombong.
“Saya sombong, menghina orang, membully,” katanya jujur.
Salah satu orang yang sering ia hina adalah seorang teman sekolah bernama Edi, seorang Kristen yang sederhana dan taat. Edi seringkali menjadi sasaran ejekan Ps. David karena imannya, tapi uniknya, Edi tidak pernah membalas perilaku Ps. David dengan kebencian.
“Edi ini salah satu gambaran orang yang saya hina-hina tapi hidupnya baik terus sama saya,” kenang Ps. David.
Bahkan ketika Edi berdoa, ia selalu menyebut namanya dan memberkatinya. “Padahal dulu sering saya bully, sampai kadang saya tepok kepalanya. Tapi dia polos banget, dia baik banget,” lanjutnya. Sikap inilah yang perlahan melunakkan hati Ps. David.
Ia mengakui bahwa dari sikap Edi itulah kasih Tuhan mulai bekerja.
“Dan itu yang menjadi pintu masuk kasih Tuhan membukakan hati dan mata saya bahwa orang Kristen itu baik banget. Ternyata Yesus yang mengajarkan kasih itu benar-benar dihidupi dengan orang-orang yang seperti Edi,” ungkapnya.
Dari situlah, Ps. David mulai melihat bahwa Tuhan yang ia benci ternyata adalah Tuhan yang penuh kasih.
“Tuhan itu baik dan penuh kasih. Kasih itu bukan hanya perkataan, tapi Dia buktikan dengan mati di atas kayu salib. Dia mau berkorban sekalipun dihina dan dibully,” ujarnya.
Pemahaman inilah yang akhirnya membawanya menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, hingga kini melayani sebagai pendeta.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa hidup sebagai orang percaya tidak selalu mudah. “Perjalanan sebagai orang Kristen itu tidak mudah, karena kita akan selalu memikul kayu salib setiap hari. Tapi percayalah, tidak ada kemuliaan dan tidak ada kemenangan tanpa salib.”
Simak kisah lengkap perjalanan iman Ps. David Herson Tonius yang dulu benci Yesus, sekarang justru melayani sebagai pendeta, hanya di podcast Superyouth:
Sumber : YouTube Superyouth