Tidak pernah terpikir oleh Dwi Tujung Sari, yang biasa dipanggil Febry, seorang ibu muda berusia 35 tahun dari Semarang bahwa sebuah kelas parenting di gerejanya akan merubah keluarganya. Meski awalnya ia dan suaminya merasa berat untuk mengikuti kelas pelatihan The Parenting Project di gerejanya, IFGF City Park Medoho.
Namun setelah diajak oleh ibu pendeta dan berdiskusi panjang dengan suami, mereka akhirnya memutuskan untuk mencoba. “Ya sudah, ikut dulu saja,” pikir mereka waktu itu, tanpa menyangka keputusan kecil itu akan mengubah arah keluarga mereka.
BACA JUGA: Ibu yang Dulu “Pilih Kasih”, Sekarang Belajar Mengasihi Tanpa Syarat
Hari pertama mengikuti The Parenting Project justru menjadi titik balik yang sangat berkesan bagi keluarganya. Dari pelatihan The Parenting Project inilah, Febry mendapatkan pelajaran yang tidak pernah ia pahami sebelumnya dan membuatnya menangis. Bukan karena materinya yang berat, tetapi karena ia sadar bahwa selama ini ia dan suaminya salah mendidik anak-anak mereka.
Sepulang bekerja, mereka hanya ingin rebahan, menyelesaikan sisa pekerjaan kantor, atau sekadar scrolling layar ponselnya. Dua anak balita mereka tumbuh di tengah orang tua yang hadir secara fisik, tetapi tidak benar-benar ada.
“Anak saya yang nomor dua itu… dia tidak mau sama kami,” ucapnya lirih.
“Awalnya kami cuek. Tapi lama-lama… kok begini? Kok anak sendiri malah jauh dari orang tuanya?”
Materi The Parenting Project membuat mereka sadar betapa banyak hal yang sudah terlewat. Febry mengakui bahwa terkadang ia membentak, memukul, atau marah tanpa alasan jelas saat anak-anaknya mengganggu.
“Anak-anak kan masih kecil ya, tapi tiba-tiba dia ngajak main. Terus kita bentak dia. ‘Sudah kamu main ke sana!’” katanya, mengingat masa-masa yang membuat hatinya sesak.
BACA JUGA: Belajar Ubah Pola Asuh, Bapak Bagus dan Istri Kini Makin Dekat dengan Anak-Anaknya
Namun perubahan mulai terjadi bahkan sebelum modul-modul selesai. Baru masuk modul kedua, Febry dan suaminya langsung mempraktikkan hal paling mendasar, yaitu hadir sepenuhnya bagi anak.
“Kita mulai terapkan, kalau pulang kerja, kita singkirin HP dulu. Kita fokus ke anak-anak,” ujarnya yakin.
Tidak hanya itu. Dua bulan terakhir ini, Febry memutuskan berhenti bekerja agar bisa memberi perhatian penuh, terutama untuk anak sulungnya yang didiagnosa ADHD. Ia merasa diagnosis itu adalah alarm keras atas pola asuh masa lalu.
“Mungkin karena dulu itu salah saya dan suami… tidak ada perhatian. Tapi sekarang kami berjuang supaya dia bisa pulih.” Puji Tuhan, setelah terapi, anaknya mulai bisa bersosialisasi dan menunjukkan banyak kemajuan.
Sebagian pelajaran yang paling menyentuh bagi mereka adalah modul “Menjadi Teladan yang Baik” dan “Membangun Kedekatan”.
Febry dan suami yang awalnya merasa berat mengikuti kelas The Parenting Project, justru menjadi semakin bersemangat. Mereka mulai membaca renungan harian bersama, saling mengingatkan, berdoa berdua, dan meminta Tuhan menolong mereka menjadi orang tua yang sesuai firman-Nya.
Perubahan paling nyata terlihat dari kedekatan baru anak-anak mereka. Anak kedua yang dulu hanya mau tidur dengan Ama dan Akong, kini berbalik menjadi yang paling lengket dengan orangtuanya.
BACA JUGA: Pelajaran Karakter Ini Berhasil Mentransformasi Perilaku Asni Jadi Teladan
Febry mengakui, “Sedih kalau ingat kenapa dulu saya biarkan dia jauh dari kami.”
Tapi sekarang, setelah membangun rutinitas baru dengan berdoa bersama, tidur bersama, mengunci pintu agar ia tak kabur ke kamar Ama, kedekatan mereka dengan anak-anaknya justru semakin membaik.
Perjalanan Febry dan suaminya tentu masih panjang. Perjalanan mereka juga tidak sempurna, tidak selalu mudah. Tapi kali ini, Febry merasa keluarganya berjalan ke arah yang benar, bersama-sama, lebih dekat, dan lebih mengasihi.
Kisah seperti ini adalah pengingat bahwa setiap keluarga punya kesempatan yang sama untuk dipulihkan. Jika Anda melihat kebutuhan yang sama di komunitas atau gereja Anda, Anda bisa membantu membuka jalan itu.
Ajak gereja Anda mengenal dan mengikuti The Parenting Project tempat untuk menolong orang tua bertumbuh, perlahan namun pasti. Gereja Anda dapat mendaftar melalui theparentingproject.id, dan biarlah semakin banyak keluarga menemukan harapan baru seperti yang dialami Febry.
Sumber : Jawaban.com