Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana, tapi ternyata cukup sering jadi bahan perdebatan di kalangan orang percaya, “Sebagai orang Kristen, bolehkah kita makan darah?”
Sebagian berpendapat tidak boleh karena dianggap najis, sementara yang lain berpikir larangan itu hanya berlaku di zaman Perjanjian Lama. Lalu, bagaimana sebenarnya pandangan Alkitab tentang hal ini?
Dalam tayangan Superyouth, Ps. Jonathan Prasetia dari GKY Greenville Jakarta Barat memberikan penjelasan yang menarik.
BACA JUGA: Kebiasaan Minum Kopi Bisa Bikin Gagal Ginjal, Ternyata Begini Alasannya...
Larangan di Perjanjian Lama dan Konteksnya
Menurut Ps. Jonathan, larangan makan darah memang berasal dari hukum Taurat.
Ia menjelaskan, “Dalam Perjanjian Lama, Allah melarang umat-Nya untuk memakan darah karena darah adalah lambang kehidupan yang kudus milik Tuhan.”
Hal itu tertulis dalam Imamat 17:10–14, di mana Tuhan dengan tegas melarang bangsa Israel memakan darah hewan apa pun.
Namun, ketika masuk ke masa Perjanjian Baru, muncul situasi yang lebih kompleks. Banyak orang non-Yahudi yang menjadi pengikut Kristus, dan mereka datang dari budaya yang berbeda, termasuk kebiasaan makan makanan yang mengandung darah.
Gereja Mula-Mula dan Permasalahan Antarbudaya
Kisah Para Rasul 15 mencatat hal yang menarik. Jemaat mula-mula yang terdiri dari orang Yahudi dan non-Yahudi mengalami gesekan karena perbedaan adat dan makanan.
Untuk menjaga keharmonisan dan kesatuan dalam tubuh Kristus, para rasul akhirnya menyepakati agar jemaat non-Yahudi menjauhi makanan yang dipersembahkan kepada berhala dan darah.
Artinya, bukan karena darah itu najis secara rohani, tetapi karena tindakan itu bisa menjadi batu sandungan bagi orang Yahudi yang masih sensitif terhadap hukum Taurat.
BACA JUGA: Tren Cuci Darah Di Usia 20-35 Akibat Minuman Manis Kemasan
Makna di Era Kasih Karunia
Ps. Jonathan menjelaskan, Rasul Paulus menegaskan dalam Roma 14:17, “Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus.”
Menurutnya, inti dari iman Kristen bukan terletak pada apa yang kita makan atau tidak makan, melainkan pada sikap hati dan kasih terhadap sesama. "Kalau sesuatu bisa jadi batu sandungan bagi orang lain, lebih baik kita hindari. Bukan karena kita takut dosa, tapi karena kita mengasihi," ujar Ps. Jonathan.
Rasul Paulus pernah berkata, “Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku sendiri tidak hidup di bawah hukum Taurat, supaya aku dapat memenangkan mereka yang hidup di bawah hukum Taurat.” (1 Korintus 9:20)
Menurut Ps. Jonathan, ini bukan kompromi dengan dosa, tetapi hikmat untuk menjangkau orang lain dan memenangkan mereka bagi Kristus.
Dari penjelasan Ps. Jonathan, kita belajar bahwa iman yang dewasa adalah iman yang hidup dalam kasih dan hikmat.
BACA JUGA: Sehat Gak Sih Memakan Darah Binatang? Ini Kata Alkitab…
Kita memang telah dimerdekakan dari hukum Taurat, tetapi kebebasan itu bukan berarti kita bebas tanpa arah.
"Kita tidak lagi diikat oleh hukum makanan, tapi kita dipanggil untuk hidup dalam kasih yang membangun," kata Ps. Jonathan.
Dengan kata lain, setiap tindakan kita, termasuk hal sederhana seperti makanan, seharusnya dilakukan dengan kesadaran untuk memuliakan Tuhan.
Jadi, bolehkah orang Kristen makan darah? Jawabannya tergantung pada motivasi dan konteksnya. Jika tindakan itu bisa menjadi batu sandungan atau mengaburkan kesaksian kita, lebih baik menghindar.
Bolehkah Orang Kristen Makan Darah? Ini Penjelasan Ps. Jonathan Prasetia Soal Pandangan Alkitab yang Perlu Kita Ketahui:
Sumber : YouTube Superyouth