Saul dan Eli mungkin dikenal sebagai sosok hebat di mata dunia. Saul adalah seorang raja dan Eli seorang imam suci yang dihormati. Namun, di rumah mereka, keduanya gagal total dalam menjalankan peran sebagai orang tua.
Anak-anak mereka menderita, bahkan bernasib tragis dan berakhir dengan kematian. Keluarga mereka hancur, dan warisan mereka lenyap. Apa yang salah?
Saul maupun Eli tidak kurang pendidikan maupun doa, tetapi mereka gagal menjadi orangtua karena satu hal yang sangat mendasar, yakni pengabaian.
Pengasuhan Otoritarian: Saul dan Yonatan
Saul adalah contoh orangtua yang terlalu mengontrol dan penuh ketidakamanan emosional. Dalam Alkitab, kita dapat melihat bagaimana Saul, sebagai raja Israel, memerintah dengan tangan besi dan tanpa memberi ruang bagi anaknya untuk berbicara atau berkembang.
Misalnya, dalam 1 Samuel 19:1, Saul memerintahkan Yonatan, anaknya sendiri, untuk membunuh Daud tanpa alasan yang jelas selain karena rasa cemburu dan ketakutan yang ia rasakan. Ketika Yonatan membela Daud, Saul merespons dengan kemarahan yang luar biasa hingga melempar tombak ke arah anaknya. (1 Samuel 20:33)
Saul hanya berfokus pada kekuasaan dan kontrol tanpa mempertimbangkan perasaan anaknya. Tidak ada ruang dialog, tidak ada penjelasan. Hanya perintah buta dan ancaman. Akibatnya, hubungan ayah dan anak ini rusak total.
Yonatan hidup dalam ketakutan, bukan dalam rasa hormat atau cinta terhadap orangtuanya. Pengasuhan Saul yang otoritarian tidak memberikan dasar bagi kedekatan emosional, dan pada akhirnya, Yonatan tewas bersama ayahnya di medan perang. (1 Samuel 31)
Pengasuhan Permisif: Eli dan Anak-anaknya
Berbeda dengan Saul, Eli adalah seorang imam suci yang dihormati. Namun, meskipun ia memimpin umat Tuhan, ia gagal total dalam mendidik anak-anaknya, Hofni dan Pinehas.
Anak-anak Eli berbuat jahat di bait Allah, mengambil daging korban secara sembarangan dan tidur dengan perempuan di pintu Kemah Suci (1 Samuel 2:12-17, 22). Eli tahu perbuatan mereka, tapi ia hanya berkata, “Jangan, anakku,” tanpa mengambil tindakan tegas (1 Samuel 2:23-25).
Eli gagal memberikan disiplin yang dibutuhkan anak-anaknya. Pengasuhan permisif yang diterapkan oleh Eli mengabaikan peran penting orangtua dalam memberikan batasan dan konsekuensi.
Tanpa disiplin yang jelas, anak-anaknya tumbuh tanpa rasa tanggung jawab. Akibatnya, kedua anaknya mati dalam perang, Tabut Allah dirampas, dan Eli sendiri jatuh hingga lehernya patah setelah mendengar kabar buruk tersebut dan meninggal. (1 Samuel 4:11-18)
Masalah Utama
Meskipun Saul dan Eli memiliki gaya pengasuhan yang sangat berbeda, keduanya gagal bukan karena "metode mendidik mereka salah", tetapi karena mereka absen dalam peran utama mereka sebagai orangtua rohani. Saul absen secara emosional—hanya memberikan perintah tanpa kasih. Eli absen secara disiplin—hanya memberikan nasihat tanpa tindakan. Kedua orangtua ini mengabaikan tugas utama mereka, yaitu membentuk karakter anak di hadapan Tuhan.
Amsal 22:6 mengajarkan kita, “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya.” Pengasuhan bukanlah soal meneror anak dengan perintah atau mengabaikan tanggung jawab sebagai orangtua, tetapi tentang hadir dengan penuh kasih dan ketegasan, serta memberi teladan yang baik.
Jadi Orangtua yang Tuhan Mau
Tuhan sendiri adalah teladan terbaik dalam pengasuhan. Dia memberikan hukum yang jelas, seperti 10 Perintah, tetapi selalu mendampingi dengan kasih-Nya. Yesus tidak hanya memberikan perintah, tetapi juga mengundang kita untuk mengikuti-Nya, “Ikutlah Aku,” bukan hanya “Lakukan karena Aku bilang.”
Sebagai orangtua Kristen, kita dipanggil untuk menerapkan pengasuhan autoritatif, dengan tegas namun penuh kasih. Berikut adalah beberapa prinsip yang dapat kita teladani:
Dengan cara ini, anak-anak tidak hanya akan taat karena takut atau bebas tanpa batas, tetapi mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang mengenal dan mencintai Tuhan.
Kisah Saul dan Eli mengajarkan kita bahwa pengasuhan yang hanya mengandalkan kontrol dan tanpa kasih dapat merusak hubungan keluarga. Anak-anak membutuhkan pengertian dan ruang untuk tumbuh, bukan hanya perintah yang datang dengan ancaman.
Sementara pengasuhan yang tidak menetapkan batasan yang jelas dan tidak memberikan konsekuensi, dapat berujung pada kehancuran. Tanpa disiplin yang bijaksana, anak-anak cenderung kehilangan arah dan tidak dapat berkembang sesuai dengan nilai-nilai yang baik.
Orang tua perlu hadir untuk memberikan kasih, disiplin, dan ketegasan. Tuhan sendiri telah memberikan teladan utnuk membentuk karakter anak-anak yang sehat, penuh kasih, dan takut akan Tuhan.
Sebagai orangtua, kita harus berkomitmen untuk memberikan yang terbaik bagi anak-anak kita, bukan hanya melalui kata-kata maupun harta, tetapi dengan tindakan nyata yang mencerminkan kasih dan kebenaran Tuhan.
Sumber : Berbagai sumber | Jawaban.com