“Cuma sebentar kok main HP-nya...”
Kalimat ini terdengar wajar di telinga banyak orang tua. Tapi di pelayanan anak Super5, kami sering menjumpai balita yang menangis saat gadget-nya diambil, menolak ikut bermain, dan sulit fokus saat sesi dimulai.
Mereka bukan anak-anak yang pemalu atau pendiam. Mereka hanyalah anak-anak yang sejak dini sudah terlalu akrab dengan layar, dan akhirnya sulit berbaur di dunia nyata, terutama saat masuk PAUD.
Tim pelayanan Super5, yang melayani ribuan anak dari berbagai daerah, melihat pola yang berulang dimana anak-anak usia 3–5 tahun cenderung mengalami kesulitan saat harus terlibat dalam aktivitas kelompok.
Mereka cepat bosan, sulit fokus, dan kali memilih menyendiri. Beberapa bahkan menunjukkan tantrum hebat hanya karena tidak diizinkan membawa gadget saat pelajaran dimulai.
BACA JUGA: Selain Screen Time, Inilah yang Dilakukan The Hartono’s Family di Era Digital
Masalahnya bukan sekadar “anaknya manja.” Tapi karena sejak usia dini, anak sudah terbiasa mendapatkan stimulasi instan dari layar.
Akibatnya, ketika dihadapkan dengan kegiatan interaktif yang butuh perhatian dan keterlibatan, mereka kewalahan. Mereka belum terbiasa dengan ritme dunia nyata yang tidak secepat video YouTube atau game di ponsel.
Kecanduan gadget sejak dini yang awalnya dianggap sebagai hiburan ringan, ternyata pelan-pelan membentuk pola kebiasaan yang membuat anak lebih nyaman dengan layar daripada dengan interaksi sosial.
Berapa Lama Sebenarnya Waktu Screen Time yang Ideal untuk Anak?
Melihat kenyataan ini, maka penting bagi orang tua untuk memahami bahwa screen time bukan sekedar hiburan untuk anak, tetapi berpengaruh pada tumbuh kembang anak secara menyeluruh.
Karena itulah, organisasi seperti WHO (World Health Organization) dan AAP (American Academy of Pediatrics) memberikan panduan jelas mengenai batas waktu screen time berdasarkan usia anak.
BACA JUGA: Indonesia Juara Screen Time Terlama di Dunia, Apa Faktornya?
Tujuan dari batasan ini bukan untuk “membatasi kesenangan” anak, melainkan mendorong mereka agar aktif secara fisik, terbiasa bersosialisasi, dan memiliki kualitas tidur serta kesehatan mental yang baik untuk mendorong tumbuh kembangnya dengan baik.
Jika Dikelola dengan Baik, Screen Time Bisa Berdampak Positif
Namun, penting juga untuk diingat bahwa gadget bukanlah musuh. Dunia digital bisa menjadi sarana belajar yang efektif, asalkan digunakan dengan bijak.
Jadi, kuncinya bukan menghilangkan screen time sepenuhnya, tetapi bagaimana cara orang tua memanfaatkan dan mengelolanya dengan bijak.
Konten yang edukatif dan interaktif dapat membantu memperluas wawasan anak. Namun, orang tua tetap memegang peran penting sebagai pendamping baik dalam memilih konten, mengatur waktu, maupun memberi penjelasan setelah anak menonton atau bermain.
Dengan begitu, anak tidak hanya menikmati waktu screen time, tapi juga belajar memahami dan memaknai isi dari apa yang mereka lihat.
Apa yang Bisa Dilakukan Orang Tua Sejak Sekarang?
Jika Anda mulai menyadari bahwa anak lebih nyaman bermain gadget daripada bersama teman, ini waktunya untuk melakukan penyesuaian.
Apa saja yang bisa dilakukan:
Mengurangi screen time saat anak sudah kecanduan tentu merupakan PR besar bagi orang tua. Namun, kita perlu melakukannya demi membekali mereka dengan kemampuan hidup sesungguhnya dengan bersosialisasi, belajar mengatur emosi, dan memahami dunia nyata, bukan digital.
BACA JUGA: Jangan ‘Dikit-dikit’ Kasih Gadget Kalau Tidak Mau Anakmu Terkena Penyakit Ini!
Anak-anak tidak dilahirkan untuk kecanduan layar. Mereka hanya mengikuti pola yang dibentuk dari rumah.
Di balik sikapnya yang sulit bergaul, mudah tantrum, dan ketidaknyamanan anak saat mengikuti aktivitas fisik seperti di PAUD, ada “kesenangan semu” yang mereka nikmati akibat penggunaan gadget yang tetrlalu lama.
Sudah saatnya kita, sebagai orang tua, guru, dan pembimbing rohani, kembali hadir sepenuhnya dalam kehidupan anak-anak, bukan hanya secara fisik, tapi juga secara emosional dan spiritual.
Mungkin Anda kenal orang tua yang sedang mengalami hal serupa. Bantu mereka dengan share artikel ini, ya.
Sumber : Berbagai Sumber